photo KoleksiSkripsiHeader.gif HP CS Kami 0852.25.88.77.47(AS), 0857.0.1111.632(IM3), email:IDTesis@gmail.com

PENGUJIAN EMPIRIS PROFIL KEBUTUHAN PROFESIONAL (PROFESSIONAL NEEDS) DOSEN AKUNTANSI DI JAWA

Teori kebutuhan
Salah satu teori kebutuhan adalah disampaikan oleh Mc. Cleland dkk.(1960) adalah trichotomy of needs, mengemukakan bahwa (Harrel dan Eickhoff, 1988);
“ The work orientation of most individuals is influence by achievement, power, and affiliation needs. These motives represent learned responses to environment and are thought to develop slowly as the individual matures and to remain relatively stable in adult. Individual are, therefore, belived to seek working condition which satisfy their particular needs”
Inti dari teori ini terletak pada pendapat yang mengemukakan pendapat bahwa pemahaman tentang motivasi akan semakin mendalam apabila seseorang mempunyai tiga jenis kebutuhan dalam karirnya. Ketiga kebutuhan itu adalah kebutuhan berprestasi, kebutuhan dalam kekuasaan, dan kebutuhan dalam afiliasi.
Definisi yang dikemukakan oleh Mc. Cleland (1960) mengenai ketiga kebutuhan tersebut adalah sebagai berikut (Robbins,1996) ;

  1. Kebutuhan prestasi (needs of achievement /nAch) adalah dorongan yang kuat dalam diri individu untuk mengguli, berprestasi sehubungan dengan seperangkat standar, dan berusaha untuk sukses dan berusaha bertanggung jawab atas usaha yang dilakukan.
  2. Kebutuhan kekuasaan (needs of Power /nPow)adalah dorongan dalam diri individu untuk membuat orang lain berperilaku dalam suatu cara yang orang lain tanpa dipaksa tidak berperilaku demikian. Mc. Cleland menggambarkan dua jenis kekuasaan (nPow), yaitu; personal power dan social power.
  3. Kebutuhan afiliasi (needs of affiliation/ nAff) adalah hasrat untuk hubungan antar pribadi yang ramah dan karib. Namun perlu diingat biasanya kebutuhan ini dalam pemenuhannya tetap diwarnai oleh persepsi tentang apa yang akan diperoleh dari usaha kerja sama ini.
Street. dan Bishop (1991), meneliti tentang ketiga dikotomi kebutuhan tersebut pada akuntan yang berprofesi sebagai akuntan publik, sektor privat maupun akuntan pemerintah. Penelitian ini dikaitkan dengan ukuran firma,hirarki jabatan untuk akuntan publik, sedangkan untuk akuntan pemerintah dikaitkan dengan status kantor pemerintahan (state dan lokal), serta dikaitkan juga dengan gender. Hasilnya menunjukan kedua profesi akuntan tersebut profil kebutuhannya berbeda
Parker, et.al(1991) telah meneliti tentang hubungan antara profil kebutuhan (nAch dan nPow) dengan kesuksesan hidup pada 756 manajer dan non manajer industri manufaktur di Amerika. Bukti menunjukan nAch secara positif dihubungkan dengan usaha untuk mencapai status kekayaan, profesionalisme dan sosial, serta secara negatif ketika dikaitkan dengan keamanan dan pemenuhan
hubungan personal. Hubungan nPow didapatkan secara positif ketika dikaitkan dengan status kekayaan, profesionalisme, tetapi negatif ketika dengan pemenuhan hubungan kekeluargaan.
2.1. 2 Profesionalisme Dosen Akuntansi
Peran pendidikan tinggi menurut Safford dan Kershaw (1998)dalam Machfoedz (1999) berpendapat bahwa pendidikan tinggi harus melakukan transformasi secara struktural maupun sistemik terhadap staf akademik maupun non akademik. Hal ini dikarenakan keadaan telah berubah sedemikian. Peneliti Novin dan Tucker (1993) menggunakan pengukuran profesionalisme dalam tiga dimensi yaitu tingkatan yang menunjukan penguasaan & pelaksanaan tiga hal; knowledge,skill dan character.
Praff ((1991) dalam Machfoedz (1999)), melakukan penelitian tentang profesionalisme di bidang jasa pendidikan akuntansi, hasilnya menunjukan bukti yang cukup memprihatinkan. Menurutnya ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu; (1) Praktisi yang berhubungan dengan publik memerlukan pengembangan profesionalisme, (2) Kesuksesan institusi dipengaruhi oleh elemen profesionalisme manajer dan karyawan, terutama etika,(3) pendidikan tinggi penting guna pengembanganp rofesionalisme dan etika dalam organisasi.
Kriteria profesional sebagai akuntan saat ini diatur oleh IAI secara khusus dituangkan berupa Standar Umum dalam SPAP. Intinya keprofesionalan seorang akuntan yang diatur meliputi keahlian, sikap mental dalam menjalankan tugas profesi dan penggunaan kemahirannya secara cermat dan seksama dalam menjalankan profesinya. Kriteria sebagai pengajar / dosen profesional di Indonesia sesuai Surat keputusan Bersama Mendikbud Dan Kepala BAKN No : 61409/MPK/KP/99 dan No : 181 Tahun 1999, dan profesionalisme dosen dalam Keputusan Mentri Negara Koordinator Bidang Pengawasan Pembangunan dan Pendayagunaan Aparatur Negara No : 38/Kep/MK.WASPAN/8/ 1999 yang dinilai berdasar pelaksanaan tridarma perguruan tinggi.
Tipe Dosen
Dosen akuntansi yang juga berpraktek sebagai profesional (swasta ataupun publik), kemungkinan mempunyai kecenderungan yang berbeda dengan dosen yang tidak berpraktek dalam kebutuhan profesionalnya. Kebutuhan dosen yang berpraktek sebagai profesional (kebutuhan akan prestasi, kekuasaan ataupun afiliasinya) dimungkinkan lebih tinggi dibandingkan yang tidak berpraktek, karena reputasi jasa yang disediakan untuk publik dibangun oleh kinerjanya. Kebutuhan kekuasan dalam diri dosen yang berpraktek profesional dimungkinkan karena seorang praktisi yang berpengalaman akan mampu mempengaruhi pasar jasa yang disediakannya. Kebutuhan afiliasi, biasanya diperlukan dengan bekerja sama sesama praktisi dimungkinkan untuk meraih peluang-peluang bisnis yang lebih baik.
Dosen akuntansi yang tidak berpraktek secara logis mungkin lebih menitik beratkan pada bidang keilmuannya, namun kurang dalam bidang prakteknya. Seperti yang dikemukakan dalam penelitian Novin dan Tucker (1993) yang menggunakan pengukuran profesionalisme dalam tiga dimensi yaitu tingkatan yang menunjukan penguasaan dan pelaksanaan tiga hal; knowledge, skill dan character
Disisi lain, praktek selain untuk pelaksanaan knowledge,skill dan character, juga bagian dari proses pengayaan pribadi praktisi. Praktek dengan berbagai macam permasalahannya, dapat melatih pribadi praktisi untuk menyiasati secara profesional setiap permasalahan praktek akuntansi.
Hirarki
Struktur hirarki pada dikenali dengan adanya unsur pimpinan seperti ketua institusi, dekan, ketua jurusan atau ketua program, serta bawahan biasanya adalah dosen biasa. Penetapan pimpinan dipilih oleh senat perguruan tinggi dan dibatasi oleh periode pemilihan sesuai ketentuan.
Penelitian Street et.al (1991) mengindikasikan bahwa kebutuhan akuntan atas profesionalismenya lebih cenderung didominasi kebutuhan kekuasaan (nPow) dengan semakin tingginya jenjang posisi pada KAP, akuntan sektor privat ataupun pada akuntan pemerintah. Hal ini mungkin terjadi karena posisi jabatan dalam KAP, sektor privat ataupun sektor pemerintah akan mengikuti jalur jenjang hirarki yang terus menaik, dan tidak akan mengalami perubahan posisi yang menurun.
Gender
Stereotipe tradisional menganggap bahwa wanita berperan sebagai perawat keluarga, sedangkan pria berperan sebagai pencari nafkah. Namun saat ini peran tersebut mengalami perubahan. Faktor-faktor yang mungkin menyebabkan pergeseran ini dapat dipilah dalam tiga faktor, yaitu; (1) gerakan emansipasi, (2) pendidikan wanita yang semakin meningkat dan, (3) pertimbangan ekonomi (Siagian.P. 1999).
Penelitian Hunthon et.al (1991), berkaitan dengan hirarki dan gender dalam praktek akunting swasta, menunjukan hasil bahwa perlakuan dalam praktek profesional cenderung berbeda dari konsep profesionalisme.
Perkembangan profesi pada dasarnya tidak mengenal diskrimanasi gender, seperti hasil penelitian Street et. al (1991), namun demikian dalam praktek sulit hal tersebut ditemukan. Dari beberapa penelitian diatas tampaknya hasilnya konsisten, terdapat perbedaan perlakuan yang diterima wanita dan pria pada bidang profesinya.
Karakteristik Biografis Personal
Karakteristik biografis meliputi usia,jenis kelamin, status perkawinan, jumlah tanggungan, masa kerja dan penghasilan keluarga. Kepribadian adalah perpaduan antara faktor genetik dan pembelajaran serta lingkungan. Masa kerja juga berperan untuk mencapai tahapan kematangan profesi. Penghasilan berperan karena dimungkinkan.

Tidak ada komentar: