photo KoleksiSkripsiHeader.gif HP CS Kami 0852.25.88.77.47(AS), 0857.0.1111.632(IM3), email:IDTesis@gmail.com

SKRIPSI : Pengaruh akrual kelolaan dan growth terhadap profitabilitas masa depan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di bursa efek Jakarta

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Penelitian ini menguji tentang pengaruh akrual kelolaan dan growth terhadap profitabilitas yang akan datang. Akrual kelolaan (discretionary accrual), bagian akrual yang merupakan manipulasi data akuntansi. Semakin tinggi jumlah akrual maka nilai perusahaan juga semakin meningkat karena dengan semakin besar nilai akrual berarti semakin besar nilai-nilai operating assets seperti perusahaan semakin banyak memiliki piutang maupun kas, dan adanya peningkatan akrual kelolaan bisa saja berasal dari ketatnya kebijakan penjualan seperti mengurangi penjualan kredit sehingga berpengaruh terhadap peningkatan penerimaan tunai.

Menurut Na’im dan Hartono (1996) menemukan bahwa model estimasi akrual kelolaan yang berlaku pada perusahaan manufaktur, tidak berlaku pada perusahaan non manufaktur. Dalam perusahaan manufaktur tingkat akrual antar industri berbeda tergantung pada karakteristik industri. (Setiawati, 2006).

De Angelo dalam Gumanti (2001) berpendapat bahwa total akrual terdiri dari akrual kelolaan dan akrual non kelolaan, dimana total akrual tidak mudah terobservasi. Pendekatan ini berasumsi bahwa komponen akrual non kelolaan cenderung stabil sepanjang waktu, sehingga yang layak untuk dipertimbangkan adalah komponen akrual kelolaan. Karena salah satu alasan utama perusahaan go public adalah pesatnya pertumbuhan, maka perlu dilakukan penyesuaian terhadap pengukuran akrual kelolaan sepenuhnya dipengaruhi oleh pertumbuhan.

Akrual merupakan komponen dari profitabilitas (Fairfeld, 2003). Profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri. Dengan demikian bagi investor jangka panjang akan sangat berkepentingan dengan analisis profitabilitas ini, misalnya bagi pemegang saham akan melihat keuntungan yang benar-benar akan diterima. Laba disusun atas dasar basis akrual, artinya pengaruh transaksi dan peristiwa lain diakui pada saat kejadian dan dicatat dalam catatan akuntansi serta dilaporkan dalam laporan keuangan pada periode yang bersangkutan. FASB dalam Statement of Financial Concepts (SFAC) No.1 paragraf 44 mengungkapkan bahwa informasi laba dihitung berdasarkan basis akrual merupakan alat prediksi yang lebih baik daripada arus kas operasi masa depan dibanding arus kas sendiri.

Namun basis akrual ini menimbulkan sejumlah perdebatan. Hendriksen (1999) menyatakan sejumlah kritik berbasis akrual, diantaranya basis akrual disusun atas dasar prinsip General Accepted Accounting Procedures (GAAP) sehingga memungkinkan ketidakkonsistenan dalam pengukuran laba periodik dari berbagai tahun dari perusahaan yang sama. Hal ini menyebabkan laba yang dilaporkan mungkin dimanipulasi melalui prinsip akuntansi berterima umum (GAAP) yang dipilih manajer untuk tujuan laporan keuangan.

Di Indonesia tujuan laporan keuangan dinyatakan dalam pernyataan standar akuntansi keuangan (PSAK) paragraf 12 tahun 2002 yaitu menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang sangat bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai laporan keuangan dalam pengambilan keputusan ekonomi. Sejumlah penelitian telah dilakukan untuk menguji pernyataan tersebut apakah ada kandungan informasi laporan keuangan untuk memprediksi profitabilitas yang akan datang (Asyik dan Soelistyo 2000; Zainuddin dan Jogiyanto, 1999).

Return On Assets (ROA) merupakan salah satu rasio yang menunjukkan tingkat profitabilitas perusahaan. Return On Assets (ROA) menggambarkan perbandingan antara pendapatan operasi terhadap rata-rata total aset. Rata-rata total assets menunjukkan pertumbuhan dalam neraca. Return On Assets (ROA) menggambarkan tingkat profitabilitas yang menggambarkan baik komponen pendapatan operasi ataupun pertumbuhan aset.

Net operating assets merupakan selisih antara operating assets dan operating expense. Operating assets merupakan aset yang digunakan oleh perusahaan dalam menghasilkan nilai melalui penjualan produk dan jasa. Sebaliknya operating expenses merupakan biaya yang dikeluarkan perusahaan dalam memperoleh nilai atau pendapatan. Operating assets diperoleh melalui reklasifikasi komponen neraca. Net operating assets menunjukkan informasi tentang pendapatan dan laba yang akan diperoleh perusahaan di masa yang akan datang. Misalnya aset operasi (contoh : aset tetap) akan menyebabkan biaya yang harus diakui perusahaan di masa yang akan datang dalam bentuk biaya depresiasi, kewajiban operasi (contoh: pendapatan diterima di muka) menunjukkan pendapatan yang akan diakui perusahaan di masa yang akan datang dalam laporan Laba Rugi. Selain itu, net operating assets juga mengandung informasi tentang pendapatan (contoh: piutang) dan biaya yang telah diakui dalam laporan Laba Rugi tetapi masih menunggu penyelesaian penerimaan/pengeluaran kas.

Growth in net operating assets (GrNOA) ditentukan oleh dua komponen yaitu akrual dan growth in longterm operating assets (GrltNOA). Profitabilitas yang akan datang selain dipengaruhi oleh profitabilitas sekarang juga dipengaruhi oleh growth in net operating assets (Ohlson, 1995). Profitabilitas juga dapat dipisahkan menjadi dua yaitu ke dalam akrual dan cash flow.

Akrual merupakan komponen GrNOA, seperti halnya komponen profitabilitas sangat penting untuk membuktikan pada penelitian sebelumnya bahwa akrual lebih rendah persistensinya dibandingkan cash flow (Sloan, 1996). Pengujian dengan mempertimbangkan pengaruh growth in net operating assets telah dilakukan oleh Fairfeld et al (2003). Dia melakukan pengujian dengan dasar penelitian Sloan (1996) dengan memasukkan pengaruh growth in net operating assets dalam mengukur tingkat persistensi dan adanya misprice dalam komponen akrual earnings.

Dalam penelitian Fairfeld et al (2003), tingkat profitabilitas sekarang digambarkan sebagai ROA sekarang. GrNOA akan menekan ROA satu tahun yang akan datang. Hal ini terjadi karena konservatisme dan dissmissing marginal return untuk meningkatkan investasi cenderung mengurangi profitabilitas di perusahaan berkembang. Penelitian yang dilakukan oleh Fairfeld et al (2003) memperoleh hasil bahwa komponen akrual memiliki tingkat persistensi yang sama dengan komponen arus kas operasi. Fairfeld et al (2003) menyimpulkan bahwa anomali yang ditemukan dalam penelitian-penelitian sebelumnya tentang akrual dalam komponen earnings sebenarnya dikarenakan pengaruh growth in net operating asset. Fairfeld (2003) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa akrual dan growth in long term operating assets memiliki hubungan negatif dengan return on assets satu tahun mendatang.

Dalam penelitian ini, akrual kelolaan ditentukan dengan menggunakan model modifikasi Jones. Penelitian ini menggunakan model modifikasi Jones dalam menghitung total akrual yaitu dengan memecah total akrual menjadi empat yaitu discretionary current accruals, discretionary long-term accruals, nondiscretionary current accruals dan nondiscretionary long-term accruals. Discretionary accruals dan discretionary long-term accruals berasal dari aktiva lancar, sedangkan nondiscretionary accruals dan non discretionary long-term accrual berasal dari aktiva tidak lancar. Model Jones dimodifikasi menggunakan sisa regresi total akrual dari perubahan penjualan dan property, plant, and equipment, di mana pendapatan disesuaikan dengan perubahan piutang yang terjadi pada periode bersangkutan (Sulistyanto, 2008: 212). Menurut Peasnell (2000) dalam Utami (2006) model Jones dan modifikasi Jones lebih baik dalam mendeteksi manipulasi data pendapatan. Menurut Dechow (1995) diantara beberapa model yang paling tepat untuk mendeteksi manajemen laba adalah model modifikasi Jones karena memberikan kekuatan statistik yang tinggi untuk mendeteksi adanya manipulasi earnings. Model modifikasi Jones digunakan untuk mengeliminasi tendensi konjungtur yang ada dalam model Jones.

Penelitian ini mengacu pada penelitian Fairfeld et al (2003). Terdapat perbedaan yang signifikan dari penelitian ini dengan penelitian terdahulu (Fairfeld et al, 2003) yaitu :

1. Fairfeld et al meneliti mengenai pengaruh laba akrual dan pertumbuhannya terhadap profitabilitas yang akan datang dan mispricing pasar. Sedangkan penelitian ini hanya menguji tentang pengaruh akrual kelolaan dan pertumbuhannya terhadap profitabilitas yang akan datang.

2. Dalam penelitian Fairfeld et al total akrual dihitung dengan mencari selisih antara pertumbuhan modal kerja dengan biaya depresiasi dan amortisasi. Penelitian ini menggunakan model modifikasi Jones dengan menggunakan sisa regresi total akrual dari perubahan penjualan dan property, plant, and equipment di mana pendapatan disesuaikan dengan perubahan piutang yang terjadi pada periode bersangkutan.

3. Sampel dalam penelitian Fairfeld et al adalah perusahaan manufaktur dari tahun 1964-1993 yang tercatat di database Compustat, sedangkan pada penelitian ini menggunakan sampel pada perusahaan manufaktur go publik yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta pada tahun 2005-2007.

Persamaan penelitian ini dengan penelitian Fairfeld et al (2003) adalah data yang digunakan sebagai sampel adalah laporan keuangan dari perusahaan manufaktur dan pengujiannya menggunakan studi cross sectional.

B. Perumusan Masalah

Permasalahan dalam penelitian ini dinyatakan dalam pertanyaan yaitu apakah akrual kelolaan dan growth mempengaruhi profitabilitas yang akan datang?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan bukti empiris mengenai pengaruh akrual kelolaan dan growth terhadap profitabilitas yang akan datang di perusahaan manufaktur go publik.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Praktisi

a. Akademisi

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan berfikir serta mendorong munculnya penelitian-penelitian serupa di masa yang akan datang khususnya mengenai akrual kelolaan dan Growth Net Operating Assets terhadap profitabilitas perusahaan yang akan datang.

b. Bagi Investor

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan bagi investor yang paling berkepentingan dengan profitabilitas saat ini dan masa depan dari investasi ekuitas mereka untuk terus memantau kinerja perusahaan sehingga menghasilkan pertumbuhan nilai ekonomi modal yang ditanamkan.

c. Bagi Perusahaan

Hasil penelitian ini diharapkan, perusahaan dapat memberikan informasi keuangan yang lebih baik kepada pemakai laporan keuangan.

2. Bagi Decision Maker

a. Bagi IAI

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi IAI agar mulai digali dan dipertimbangkan suatu pedoman pengungkapan informasi tentang akrual agar dapat digunakan untuk mendeteksi manajemen laba.

b. Bagi Bapepam

Sebagai bahan pertimbangan bagi pembuat kebijakan atau peraturan yang berkaitan dengan informasi akuntansi akrual.

Tidak ada komentar: