photo KoleksiSkripsiHeader.gif HP CS Kami 0852.25.88.77.47(AS), 0857.0.1111.632(IM3), email:IDTesis@gmail.com

SKRIPSI : Hugo Chavez dan Sistem Ekonomi Venezuela Ala Amerika Serikat

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dunia saat ini tidak lagi mampu mensejahterakan mayoritas orang, bahkan menghancurkan kemanusiaan. Degradasi yang terjadi di segala aspek kehidupan (ekonomi, sosial, politik, budaya dan lingkungan) adalah bencana kemanusiaan yang paling besar memakan korban di penghujung abad 20 dan awal abad 21. Cita-cita kemajuan peradaban rakyat di seluruh dunia yang dicanangkan dalam deklarasi universal PBB, dalam resep-resep negara kesejahteraan Millenium Development Goals (MDG’s) dan globalisasi neoliberal, tidak tercapai dan seakan-akan kehilangan mujarabnya di dalam realitas kehidupan dunia di awal abad 21 ini.

Dunia di dalam globalisasi neoliberal saat ini, tak seindah cita-cita dalam MDG’s, tidak bisa mengatasi kematian 11 juta balita miskin setiap tahunnya. Dunia seperti itu yang menyebabkan milyaran orang hidup dalam kemiskinan dengan penghasilan kurang dari $1/hari, milyaran orang tak punya akses terhadap air bersih, sanitasi dan listrik. Dunia tempat kita hidup sekarang memberikan kesempatan lebih besar pada 50 individu terkaya dengan pendapatan melebihi keseluruhan pendapatan 416 juta rakyat termiskin, dan memberikan lebih banyak keleluasaan pada beberapa ratus milyuner dunia untuk memilki kekayaan sama dengan 2,5 milyar orang-orang termiskin dunia. Dunia yang tak berperasaan ini juga lebih memilih membelanjakan hingga trilyunan dolar setiap tahunnya untuk kebutuhan militer daripada akses kesehatan bagi jutaan lebih kaum perempuan di dunia yang menderita sakit jangka panjang akibat komplikasi kehamilan. (Zely Ariane, 2006: 5-6).

1

Potret dunia yang brutal dan modal berkuasa, dengan ratusan basis militernya di seluruh dunia, melalui Bank Dunia, International Moneter Founding (IMF), World Trade Organitation (WTO), dan pemerintah-pemerintah pro globalisasi neoliberal tak henti-hentinya mengeksploitasi dunia. Model dunia inilah yang mereka tawarkan sebagai solusi untuk memeratakan pembangunan dan memberikan solusi bagi kemiskinan.

Sejak jatuhnya rejim komunis (USSR), negara-negara imperialis barat yang diprakarsai Amerika Serikat (AS) telah memperluas pengaruhnya terhadap bekas-bekas negeri komunis melalui perang, invasi dan berbagai operasi rahasia. “Kerajaan” AS meliputi hampir 50% dari 500 Multi Nasional Cooperation (MNC) dan bank-bank terbesar dunia, 120 basis militer di seluruh dunia dan ratusan misi-misi militernya, namun di mana-mana dominasi kekuasaan imperialisme AS sedang ditentang dan dilawan, yang membuatnya tak lagi “maha kuasa” (Zely Ariane, 2006:7).

Dampak dari perluasan “kerajaan” AS akhirnya menggerogoti ekonomi domestik dan dukungan politiknya, seiring dengan meningkatnya angka kematian prajurit dan defisit anggaran, sementara belanja sosial dan lapangan kerja industri domestik semakin berkurang.

Gelombang perlawanan rakyat (diseluruh dunia) terhadap globalisasi neoliberal (imperialisme) juga semakin meningkat. Perangkat-perangkat globalisasi seperti IMF, Bank dunia, WTO, Paris Club, AFTA, NAFTA, APEC, G8 serta paket-paket kebijaksanaan strukturalnya mulai terus-menerus mendapat penolakan gerakan sosial internasional. Forum-forum dunia di mana para penggagas globalisasi neoliberal secara rutin bertemu dan membicarakan metode-metode pembagian dunia sesuai kebutuhan mereka, terus mendapatkan sambutan-sambutan demonstrasi massif.

Setelah pertemuan WTO di Seattle tahun 1999, gerakan sosial di dunia mulai bangkit kesadarannya terhadap kejahatan globalisasi neoliberal. Perlawananpun terus berlanjut di berbagai forum WTO, Paris Club, AFTA, NAFTA, APEC,G8 . Sejak saat itu pula slogan “Another World is Possible” begitu melekat dalam kesadaran gerakan sosial internasional. Berbagai forum sosial dunia menjadi ajang kampanye bagi kebutuhan sebuah dunia baru yang lebih adil, maju dan manusiawi (Zely Ariane, 2006: 7-8).

Boleh dikata, belahan dunia yang menjadi pusat perlawanan terhadap imperialisme paling massif dan paling bertahan didekade ini adalah Amerika Latin. Di kawasan yang sekian lama menjadi halaman belakang AS ini, proyek-proyek kekuasaan AS dikalahkan di beberapa negara seperti, Venezuela dan Bolivia. Perlawanan rakyat Amerika Latin meningkat sangat pesat dalam menentang upaya dominasi imperialisme AS, mengalahkan dua kudeta yang diskenariokan oleh AS di Venezuela, melawan “Plan Columbia”, dan menjatuhkan Sanchez de Losada di Bolivia akibat privatisasi gas yang dilakukannya. Terlebih lagi, situasi obyektif di Amerika Latin cukup matang bagi transformasi sosial. Semua indikator ekonomi dan sosial utama menunjukkan tanda-tanda negatif. Dalam dua dekade pelaksanaan agenda neoliberalisme di Amerika Latin, satu dekade terakhirnya berbuah krisis, berdampak paling parah terhadap kaum buruh, tani dan tak bepekerjaan. Dan bagian masyarakat yang paling tertindas, terdiskriminasi dan termiskin di anak benua ini adalah masyarakat suku asli Indian yang bermata pencaharian sebagai petani.

Situasi obyektif ekonomi tersebut tidak melenggang di ruang hampa politik, ditanggapi oleh pengalaman perjuangan yang tak berjeda. Berawal dari perjuangan sektoral dan lokal, gerilya bersenjata di gunung dan perkotaan, perjuangan serikat buruh dan hak-hak pengelolaan tanah, dari jalanan hingga gedung parlemen, semuanya untuk melawan imperialisme dan membangun model alternatif dunia baru yang lebih manusiawi dan berperasaan.

Kini sebuah alternatif baru yang jauh dari syarat-syarat neoliberalisme, sedang ditawarkan banyak pemimpin-pemimpin populis di Amerika Latin, dengan lebih menekankan diutamakannya egalitarisme sosial, dan menentang anjuran-anjuran baik yang diberikan oleh IMF, World Bank dan terlebih lagi pemerintah AS melalui “Washington Consensus”, sehingga perkembangan politik di Amerika Latin memasuki millenium kedua ini sangat menarik untuk dicermati. Sejumlah tokoh kiri di negara Amerika Latin seperti Hugo Chavez di Venezuela, Michelle Bachelet di Chili, Luis Inacio Lula da Silva di Brasilia, Nestor Kirchner di Argentina, Tabare Vazquez di Uruguay, Ollanda Humala di Peru, Andres Manuel Lopez di Meksiko, Daniel Ortega di Nikaragua, dan baru-baru ini Evo Morales di Bolivia serta Rafael Correa di Ekuador saat ini menjadi semakin populer dan banyak di antara mereka yang terpilih sebagai presiden. Hal ini menandakan babak baru kebangkitan perpolitikan di Amerika Latin ke arah yang lebih “kiri” (Umar Said, Paris: 2006).

Perkembangan di Amerika Latin sekarang ini semakin memperkenalkannya sebagai mata air referensi alternatif sekaligus pengalaman revolusioner modern yang tiada habisnya, sejak usai perang dingin. Amerika Latin adalah kawasan dunia ketiga yang pertama kali berjibaku dengan neoliberalisme. Di kawasan ini pula, varian-varian ideologi kerakyatan berkembang dinamis. Mulai dari teologi pembebasan sampai filosofi pendidikan yang membebaskan (Paulo Freire), dari revolusi rakyat bersenjata ala FARC Kolombia, gerilyawan Maoist Arah Kemilau (Sandero Luminoso), hingga “Revolusi Bolivarian” Hugo Chavez.

Sebagai “benua revolusi”, seperti pernyataan Fidel Castro, Amerika Latin saat ini telah menjadi basis penting bagi perubahan peta politik dunia di abad 21. Walau proses perubahan politik dan perkembangan gerakan rakyat di sejumlah negeri di Amerika Latin mengalami pasang surut, namun perkembangannya dari hari ke hari semakin mengindikasikan kegagalan ideologi neoliberal dan awal kekalahan imperialisme AS. Kemajuan ini juga dicapai berkat keberhasilan gerakan memanfaatkan ruang demokrasi untuk meluaskan pengaruh politiknya. Apalagi, Revolusi Sosialis Kuba 1959 mampu bertahan sebagai katalisator bagi masa depan perjuangan rakyat Amerika Latin menentang imperialisme AS.

Selain Castro yang sangat vokal menentang AS, Venezuela di bawah Chavez menjadi salah satu negara di Amerika Latin yang sangat populis dalam menyuarakan anti imperialisme. Bersama Kuba, Venezuela mulai memimpin perubahan di Amerika Latin lewat kebijakan-kebijakan yang bertolak belakang dengan resep-resep penyesuaian sruktural ala IMF dan Bank Dunia. Di Venezuela terdapat pergerakan Bolivarian yang dengan aktif menentang kampanye kebijakan neoliberalism. Masyarakat diberi kesadaran akan kondisi negara, cara-cara pengaduan lewat jalur hukum dan hak-hak dasar warga negara, agar mereka memiliki partisipasi demokratik terhadap pemerintahan. Program-program yang bervisi kerakyatan dimasukkan dalam rencana kerja setiap lembaga negara. Masyarakat beserta perangkat lembaga yang terorganisir itulah yang disebut sebagai Lingkaran Bolivarian.

Banyak Negara mengenal Venezuela sebagai salah satu negara pendiri OPEC dan penghasil minyak terbesar ke-5 di dunia, bahkan dikatakan mimiliki cadangan minyak terbesar mencapai 1,3 triliun barrel, yang berarti jumlah ini sama dengan seluruh jumlah persediaan minyak di dunia. Melimpahnya minyak Venezuela tentu saja menjadikannya bahan bakar kesejahteraan bagi rakyat. Di bawah pemerintahan Chavez hal pertama yang ia lakukan, melawan resep-resep neoliberalisme IMF dengan menasionalisasi pertambangan dari maskapai-maskapai internasional seperti Royal Ducth Shell, Chevron Texaco Cooprs, Exxon Mobil Cooprs, dan Repsol YPF. Pemerintah Chavez juga merenasionalisasi PDVSA (Petroleos de Venezuela, perusahaan minyak negara), dan mengalokasikan lebih dari 50% keuntungannya untuk misiones, yaitu program-program bagi kesejahteraan rakyat saperti pendidikan dan kesehatan gratis (Umar Said, 2006: 20).

Keberhasilan pemerintahan sosialis Venezuela di bawah Hugo Chavez yang terpilih menjadi presiden saat pemilu 1998, merupakan salah satu faktor yang mendorong berkembangnya paham sosialis baru di Amerika Latin. Keberhasilan presiden Hugo Chavez baik di dalam maupun di luar negeri telah membuatnya menjadi figur kebanggaan bagi rakyat Amerika Latin yang mendambakan perubahan. Reformasi ekonomi dan politik yang dilakukan Chavez dan usaha pemerintahannya dalam mengentaskan kemiskinan, telah menimbulkan dukungan penuh rakyat terhadap Chavez. Selain itu, usaha Chavez untuk meningkatkan persatuan di antara negara-negara Amerika Latin dengan pengajuan tawaran penjualan minyak kredit jangka panjang dan murah, telah menyebabkan Venezuela memiliki posisi yang kuat dalam percaturan politik regional.

Semua kebijakan Chavez yang berlangsung di Venezuela dan kerjasamnya dengan beberapa negara lain di Amerika Latin seperti Kuba dan Bolivia tentu saja sangat bertentangan dengan kebijakan-kebijakan dalam “Washington Consensus“. Seperti halnya melipat gandakan anggaran sosial, yang oleh IMF disebut sebagai pemborosan, nasionalisasi perusahaan-perusahaan yang menyangkut hajat hidup orang banyak, yang oleh IMF dianjurkan untuk diprivatisasi, aturan-aturan ketat bagi investasi dan liberalisasi, serta pajak progesif, yang oleh IMF dianjurkan untuk dibuat fleksibel dan “bebas“.

Di depan para wakil organisasi-organisasi sosial yang datang dari berbagai negeri di dunia ini, Hugo Chavez menempatkan dirinya sebarisan dengan pahlawan nasional Simon Bolivar, yang menjadi sumber inspirasi bagi revolusi yang sedang berjalan di Venezuela dan negeri-negeri lainnya. Hugo Chavez mengatakan bahwa “orang-orang gila” seperti dirinya dan Fidel Castro akan menciptakan “integrasi Amerila Latin” dan mengajak Forum Sosial Dunia untuk menempuh jalan “sosialisme abad ke –21” dan berpaling dari model usang imperialisme (Umar Said, Paris: 2006).

Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas maka dalam penulisan skripsi ini diambil judul “ Hugo Chavez dan Sistem Ekonomi Venezuela Ala Amerika Serikat”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimanakah pemikiran Hugo Chavez terhadap sistem ekonomi Venezuela ala Amerika Serikat?

2. Bagaimanakah pembangunan ekonomi Venezuela ala Amerika Serikat?

3. Bagaimanakah reaksi Hugo Chavez terhadap sistem ekonomi Venezuela ala Amerika Serikat?

4. Bagaimana kebijakan ekonomi Hugo Chavez di Venezuela?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini dapat dikemukakan sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui pemikiran Hugo Chavez terhadap sistem ekonomi Venezuela ala Amerika Serikat.

2. Untuk mengetahui bagaimanakah pembangunan ekonomi Venezuela ala Amerika Serikat.

3. Untuk mengetahui reaksi Hugo Chavez terhadap sistem ekonomi Venezuela ala Amerika Serikat .

4. Untuk mengetahui kebijakan ekonomi Hugo Chavez di Venezuela.

D. Manfaat penelitian

Dalam penelitian harus dapat diketahui kegunaan dari setiap kegiatan ilmiah, adapun kegunaan penelitian ini adalah dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

  1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat:

a) Memperkaya wacana tentang jalannya sejarah di Amerika Latin yang kaya akan tradisi pemberontaka, khususnya negara Venezuela yang saat ini sedang menjadi sorotan Internasional di bawah kepemimpinan Hugo Chavez.

b) Menambah pengetahuan bahwa sistem kapitalisme global atau neo-liberal yang pelaksanaannya membuahkan krisis dimana-mana, mampu diatasi di Venezuela dengan sistem alternatif lain yaitu sosialisme abad ke-21 ala Hugo Chavez.

  1. Manfaat praktis

Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat:

a) sebagai salah satu syarat meraih gelar sarjana kependidikan program pendidikan sejarah fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

b) Sebagai bahan referensi bagi pemecahan masalah yang relevan dengan masalah ini.

c) Sebagai salah satu karya ilmiah yang diharapkan dapat melengkapi koleksi penelitian ilmiah di perpustakaan khususnya di lingkungan universitas sebelas maret surakarta.

Tidak ada komentar: