photo KoleksiSkripsiHeader.gif HP CS Kami 0852.25.88.77.47(AS), 0857.0.1111.632(IM3), email:IDTesis@gmail.com

SKRIPSI : Analisis Kendala Pengembangan Perusahaan Jasa Titipan dalam Upaya Peningkatan Kinerja Perusahaan (Studi Kasus Pada JNE Ekspres)

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dewasa ini keadaan ekonomi di Indonesia semakin meresahkan. Banyak perusahaan terpaksa gulung tikar karena keadaan ekonomi yang tidak menentu. Akibatnya banyak pegawai yang terkena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) sehingga menambah beban penganguran di negara ini. Yang nantinya akan banyak juga anak-anak di negara ini yang putus sekolah karena orang tua mereka tidak mampu membiayai sekolah mereka.

Dengan keadaan ekonomi yang seperti ini, yang dibutuhkan adalah seorang pencipta pekerjaan bukan pencari pekerjaan. Banyak sarjana–sarjana muda yang hanya menjadi pengangguran setelah mereka lulus. Hal ini disebabkan mereka kalah bersaing dalam mendapatkan pekerjaan dengan orang–orang yang memiliki pengalaman sebelumnya. Biasanya perusahaan akan lebih tertarik pada pelamar yang telah memiliki pengalaman daripada pelamar dengan status fresh graduate tanpa pengalaman.

Semakin sulitnya lapangan pekerjaan tersebut mengharuskan seseorang melihat potensi bisnis apa yang bisa menjadi lahan bisnis yang segar untuknya. Yang pada akhirnya akan bisa membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain sehingga akan mengurangi pengangguran. Oleh sebab itu sekarang banyak ditemui usaha–usaha kecil dan waralaba dari perusahaan yang sudah memiliki nama besar di tengah–tengah masyarakat.

1

Usaha kecil menengah ini dengan segala bentuk dari home industri sampai pada perusahaan kecil dalam bidang jasa. Begitu pula dengan waralaba, tidak hanya dalam bisnis makanan dan mini market tetapi sekarang ada waralaba bisnis jasa. Bicara tentang jasa, sekarang ini berbagai jenis bisnis jasa banyak dijumpai dalam hidup kita sehari–hari. Diantaranya adalah asuransi, telekomunikasi, hiburan televisi, pendidikan, binatu, reparasi dan jasa pengiriman barang (Ekspedisi). Itu hanya sebagian dari sekian banyak jenis jasa yang berkembang dewasa ini. Sekarang ini konsumen tidak hanya dihadapkan pada berbagai jenis produk yang ditawarkan tetapi juga berbagai jasa yang dapat dinikmati.

Menurut Fitzsimmons dan Sullivan dalam buku Manajemen Jasa karangan Fandy Tjiptono (2002: 6), perkembangan sektor jasa erat kaitanya dengan tahap– tahap perkembangan aktivitas ekonomi. Adapun tahap–tahap perkembangan aktivitas ekonomi meliputi :

1. Primer (Ekstraktif), meliputi pertanian, pertambangan, perikanan dan perkebunan.

2. Sekunder (Produksi Barang), meliputi pemanufakturan dan pemrosesan.

3. Tersier (Jasa Domestik), terdiri atas restoran dan hotel, salon kecantikan, laundry dan dry cleaing, pemeliharaan dan reparasi.

4. Kuarter (Perdagangan), meliputi transportasi, perdagangan eceran, komunikasi, keuangan dan asuransi, real estate dan pemerintahan.

5. Kuiner (Perbaikan dan Peningkatan Kapasitas Manusia) terdiri atas kesehatan, pendidikan, riset, rekreasi, dan kesenian.

Adanya kemajuan perekonomian global mendorong pertumbuhan sektor jasa. Menurut Fandy Tjiptono (2002 : 4), sektor jasa merupakan komponen yang tumbuh paling cepat, baik dalam perdagangan maupun investasi langsung luar negeri (foreign direct investment). Banyak peluang bisnis yang muncul dari sektor ini. Termasuk bisnis jasa logistik atau yang sering dikenal dengan jasa pengiriman barang. Bisnis ini sekarang banyak dilirik oleh para pembisnis.

Industri jasa ekspres mulai menjamur pada dekade tahun 1970.(http://www.kompas-cetak.co.id, 14 Juni 2008). Kemudian menjadi primadona bisnis sektor ini. Ini tidak lain karena hasil fantastik yang akan diperoleh jika bisnis ini sukses.

Perusahaan jasa titipan adalah perusahaan dengan kegiatan menerima, membawa dan atau menyampaikan paket, uang dan suratpos jenis tertentu dalam bentuk barang cetakan, surat kabar, sekogram, bungkusan kecil dari pengirim kepada penerima dengan memungut biaya. Kehadiran perusahaan seperti ini sangat dibutuhkan, apalagi penduduk Indonesia tersebar di lebih dari 13.000 pulau. Dengan adanya perusahaan jasa titipan seperti ini maka orang tidak perlu repot-repot mengirimkan barangnya sendiri.

Ada 4 kategori perusahaan logistik menurut M. Kardinal, sekjen Asperindo (http://www.swamajalah.co.id, 14 Juni 2008). Pertama port to port sebagai piramida terbawah. Ciri pada jenis ini adalah tidak ada implementasi teknologi informasi (TI) dan biasanya hanya mengurus jasa shipping saja. Kedua, Door to door. Pada tahap ini sudah menguasai ketrampilan TI secara basis (hanya tahu posisi barang), dan biasanya mengurus jasa distribusi (tracking). Ketiga, logistik. Di sini sistem TI sudah terintegrasi dan menguasai beberapa jasa logistik, seperti : warehousing, distribusi, dan clearance. Keempat, supply chain management (SCM). Dalam tahap puncak ini system TI sudah terintegarsi dengan yang lain, bisa melakukan perencaaan, pengadaan, dan distribusi sampai end customer.

JNE adalah perusahaan jasa titipan (ekspres) yang cukup memiliki nama besar. Berdiri pada tahun 1990, PT. Tiki Jalur Nugraha Ekakurir atau JNE memulai kegiatan usahanya yang terpusat pada penanganan kegiatan kepabeanan/impor kiriman barang/dokumen serta pengantarannya dari luar negeri ke Indonesia. Pada tahun 1991, JNE memperluas jaringan internasionalnya dengan bergabung sebagai anggota asosiasi perusahaan-perusahaan kurir beberapa negara Asia (ACCA) yang bermarkas di Hong Kong yang kemudian memberi kesempatan kepada JNE untuk mengembangkan wilayah antaran sampai ke seluruh dunia. Di Indonesia sendiri tidak kurang ada 500 gerai yang tersebar di seluruh Indonesia. Termasuk di Surakarta terdapat cabang dari JNE. Tidak heran jika JNE ini cukup dikenal di kalangan masyarakat Surakarta.

Meskipun JNE cabang Surakarta telah memiliki nama besar namun pasti ada kendala dalam pengembangan bisnis ini. Berdasarkan latar belakang masalah yang diungkapkan penulis di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul:

“Analisis Kendala Pengembangan Perusahaan Jasa Titipan dalam Upaya Peningkatan Kinerja Perusahaan (Studi Kasus Pada JNE Ekspres Cabang Surakarta)”.

B. Pembatasan Masalah

Agar masalah dapat dikaji dan dijawab secara mendalam maka dilakukan pembatasan terhadap masalah-masalah yang timbul. Pada penelitian ini, penulis hanya membatasi pada kendala yang dihadapi dalam bidang pemasaran JNE Ekspres.

C. Perumusan Masalah

Menurut pendapat Lexy J . Moleong (2000 : 1), “Titik tolak penelitian jenis apapun tidak lain bersumber dari masalah. Tanpa masalah penelitian itu tidak dapat dilaksanakan”. Perumusan pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah kendala dalam bidang pemasaran yang muncul dalam pengembangan perusahaan jasa titipan tersebut ?

2. Bagaimana meminimalisasi kendala yang muncul sehingga JNE Ekspres dapat terus mempertahankan eksistensinya dalam bisnis pengiriman?

3. Bagaimana upaya JNE Ekspres dalam meningkatkan kinerjanya?

D. Tujuan Penelitian

Dalam setiap penelitian terdapat maksud dan tujuan yang ingin dicapai oleh peneliti. Suharsimi Arikunto (2000: 49) menjelaskan bahwa, “Tujuan penelitian adalah rumusan kalimat yang menunjukkan adanya sesuatu hal yang diperoleh setelah penelitian selesai”.Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Ingin mengetahui dan mencari tahu kendala–kendala dalam bidang pemasaran yang muncul dalam pengembangan JNE Ekspres.

2. Mengetahui cara untuk mengatasi kendala–kendala yang muncul sehingga JNE Ekspres dapat terus mempertahankan eksistensinya dalam bisnis jasa pengiriman.

3. Mengetahui cara JNE Ekspres untuk meningkatkan kinerjanya

E. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Bagi ilmu pengetahuan dan teknologi, untuk mengembangkan teori yang sudah ada sehubungan dengan masalah yang ada dalam penelitian ini khususnya tentang pemasaran dan kinerja perusahaan.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Perusahaan

Berguna sebagai bahan masukan dalam pengembangan usahanya sehingga dapat meningkatkan kinerjanya.

b. Bagi Karyawan

Dapat meningkatkan kinerja karyawan yang nantinya akan meningkatkan BAB 1

PENDAHULUAN

F. Latar Belakang Masalah

Dewasa ini keadaan ekonomi di Indonesia semakin meresahkan. Banyak perusahaan terpaksa gulung tikar karena keadaan ekonomi yang tidak menentu. Akibatnya banyak pegawai yang terkena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) sehingga menambah beban penganguran di negara ini. Yang nantinya akan banyak juga anak-anak di negara ini yang putus sekolah karena orang tua mereka tidak mampu membiayai sekolah mereka.

Dengan keadaan ekonomi yang seperti ini, yang dibutuhkan adalah seorang pencipta pekerjaan bukan pencari pekerjaan. Banyak sarjana–sarjana muda yang hanya menjadi pengangguran setelah mereka lulus. Hal ini disebabkan mereka kalah bersaing dalam mendapatkan pekerjaan dengan orang–orang yang memiliki pengalaman sebelumnya. Biasanya perusahaan akan lebih tertarik pada pelamar yang telah memiliki pengalaman daripada pelamar dengan status fresh graduate tanpa pengalaman.

Semakin sulitnya lapangan pekerjaan tersebut mengharuskan seseorang melihat potensi bisnis apa yang bisa menjadi lahan bisnis yang segar untuknya. Yang pada akhirnya akan bisa membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain sehingga akan mengurangi pengangguran. Oleh sebab itu sekarang banyak ditemui usaha–usaha kecil dan waralaba dari perusahaan yang sudah memiliki nama besar di tengah–tengah masyarakat.

1

Usaha kecil menengah ini dengan segala bentuk dari home industri sampai pada perusahaan kecil dalam bidang jasa. Begitu pula dengan waralaba, tidak hanya dalam bisnis makanan dan mini market tetapi sekarang ada waralaba bisnis jasa. Bicara tentang jasa, sekarang ini berbagai jenis bisnis jasa banyak dijumpai dalam hidup kita sehari–hari. Diantaranya adalah asuransi, telekomunikasi, hiburan televisi, pendidikan, binatu, reparasi dan jasa pengiriman barang (Ekspedisi). Itu hanya sebagian dari sekian banyak jenis jasa yang berkembang dewasa ini. Sekarang ini konsumen tidak hanya dihadapkan pada berbagai jenis produk yang ditawarkan tetapi juga berbagai jasa yang dapat dinikmati.

Menurut Fitzsimmons dan Sullivan dalam buku Manajemen Jasa karangan Fandy Tjiptono (2002: 6), perkembangan sektor jasa erat kaitanya dengan tahap– tahap perkembangan aktivitas ekonomi. Adapun tahap–tahap perkembangan aktivitas ekonomi meliputi :

6. Primer (Ekstraktif), meliputi pertanian, pertambangan, perikanan dan perkebunan.

7. Sekunder (Produksi Barang), meliputi pemanufakturan dan pemrosesan.

8. Tersier (Jasa Domestik), terdiri atas restoran dan hotel, salon kecantikan, laundry dan dry cleaing, pemeliharaan dan reparasi.

9. Kuarter (Perdagangan), meliputi transportasi, perdagangan eceran, komunikasi, keuangan dan asuransi, real estate dan pemerintahan.

10. Kuiner (Perbaikan dan Peningkatan Kapasitas Manusia) terdiri atas kesehatan, pendidikan, riset, rekreasi, dan kesenian.

Adanya kemajuan perekonomian global mendorong pertumbuhan sektor jasa. Menurut Fandy Tjiptono (2002 : 4), sektor jasa merupakan komponen yang tumbuh paling cepat, baik dalam perdagangan maupun investasi langsung luar negeri (foreign direct investment). Banyak peluang bisnis yang muncul dari sektor ini. Termasuk bisnis jasa logistik atau yang sering dikenal dengan jasa pengiriman barang. Bisnis ini sekarang banyak dilirik oleh para pembisnis.

Industri jasa ekspres mulai menjamur pada dekade tahun 1970.(http://www.kompas-cetak.co.id, 14 Juni 2008). Kemudian menjadi primadona bisnis sektor ini. Ini tidak lain karena hasil fantastik yang akan diperoleh jika bisnis ini sukses.

Perusahaan jasa titipan adalah perusahaan dengan kegiatan menerima, membawa dan atau menyampaikan paket, uang dan suratpos jenis tertentu dalam bentuk barang cetakan, surat kabar, sekogram, bungkusan kecil dari pengirim kepada penerima dengan memungut biaya. Kehadiran perusahaan seperti ini sangat dibutuhkan, apalagi penduduk Indonesia tersebar di lebih dari 13.000 pulau. Dengan adanya perusahaan jasa titipan seperti ini maka orang tidak perlu repot-repot mengirimkan barangnya sendiri.

Ada 4 kategori perusahaan logistik menurut M. Kardinal, sekjen Asperindo (http://www.swamajalah.co.id, 14 Juni 2008). Pertama port to port sebagai piramida terbawah. Ciri pada jenis ini adalah tidak ada implementasi teknologi informasi (TI) dan biasanya hanya mengurus jasa shipping saja. Kedua, Door to door. Pada tahap ini sudah menguasai ketrampilan TI secara basis (hanya tahu posisi barang), dan biasanya mengurus jasa distribusi (tracking). Ketiga, logistik. Di sini sistem TI sudah terintegrasi dan menguasai beberapa jasa logistik, seperti : warehousing, distribusi, dan clearance. Keempat, supply chain management (SCM). Dalam tahap puncak ini system TI sudah terintegarsi dengan yang lain, bisa melakukan perencaaan, pengadaan, dan distribusi sampai end customer.

JNE adalah perusahaan jasa titipan (ekspres) yang cukup memiliki nama besar. Berdiri pada tahun 1990, PT. Tiki Jalur Nugraha Ekakurir atau JNE memulai kegiatan usahanya yang terpusat pada penanganan kegiatan kepabeanan/impor kiriman barang/dokumen serta pengantarannya dari luar negeri ke Indonesia. Pada tahun 1991, JNE memperluas jaringan internasionalnya dengan bergabung sebagai anggota asosiasi perusahaan-perusahaan kurir beberapa negara Asia (ACCA) yang bermarkas di Hong Kong yang kemudian memberi kesempatan kepada JNE untuk mengembangkan wilayah antaran sampai ke seluruh dunia. Di Indonesia sendiri tidak kurang ada 500 gerai yang tersebar di seluruh Indonesia. Termasuk di Surakarta terdapat cabang dari JNE. Tidak heran jika JNE ini cukup dikenal di kalangan masyarakat Surakarta.

Meskipun JNE cabang Surakarta telah memiliki nama besar namun pasti ada kendala dalam pengembangan bisnis ini. Berdasarkan latar belakang masalah yang diungkapkan penulis di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul:

“Analisis Kendala Pengembangan Perusahaan Jasa Titipan dalam Upaya Peningkatan Kinerja Perusahaan (Studi Kasus Pada JNE Ekspres Cabang Surakarta)”.

G. Pembatasan Masalah

Agar masalah dapat dikaji dan dijawab secara mendalam maka dilakukan pembatasan terhadap masalah-masalah yang timbul. Pada penelitian ini, penulis hanya membatasi pada kendala yang dihadapi dalam bidang pemasaran JNE Ekspres.

H. Perumusan Masalah

Menurut pendapat Lexy J . Moleong (2000 : 1), “Titik tolak penelitian jenis apapun tidak lain bersumber dari masalah. Tanpa masalah penelitian itu tidak dapat dilaksanakan”. Perumusan pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah:

4. Apakah kendala dalam bidang pemasaran yang muncul dalam pengembangan perusahaan jasa titipan tersebut ?

5. Bagaimana meminimalisasi kendala yang muncul sehingga JNE Ekspres dapat terus mempertahankan eksistensinya dalam bisnis pengiriman?

6. Bagaimana upaya JNE Ekspres dalam meningkatkan kinerjanya?

I. Tujuan Penelitian

Dalam setiap penelitian terdapat maksud dan tujuan yang ingin dicapai oleh peneliti. Suharsimi Arikunto (2000: 49) menjelaskan bahwa, “Tujuan penelitian adalah rumusan kalimat yang menunjukkan adanya sesuatu hal yang diperoleh setelah penelitian selesai”.Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

4. Ingin mengetahui dan mencari tahu kendala–kendala dalam bidang pemasaran yang muncul dalam pengembangan JNE Ekspres.

5. Mengetahui cara untuk mengatasi kendala–kendala yang muncul sehingga JNE Ekspres dapat terus mempertahankan eksistensinya dalam bisnis jasa pengiriman.

6. Mengetahui cara JNE Ekspres untuk meningkatkan kinerjanya

J. Manfaat Penelitian

3. Manfaat Teoritis

Bagi ilmu pengetahuan dan teknologi, untuk mengembangkan teori yang sudah ada sehubungan dengan masalah yang ada dalam penelitian ini khususnya tentang pemasaran dan kinerja perusahaan.

4. Manfaat Praktis

a. Bagi Perusahaan

Berguna sebagai bahan masukan dalam pengembangan usahanya sehingga dapat meningkatkan kinerjanya.

b. Bagi Karyawan

Dapat meningkatkan kinerja karyawan yang nantinya akan meningkatkan

Tidak ada komentar: