photo KoleksiSkripsiHeader.gif HP CS Kami 0852.25.88.77.47(AS), 0857.0.1111.632(IM3), email:IDTesis@gmail.com

Perilaku siswa SMU dalam mengakses situs kesehatan reproduksi

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perilaku remaja menarik untuk diamati. Perilaku remaja sekarang sudah amat mengkhawatirkan. Hal ini ditandai dengan semakin meningkatnya kasus-kasus seperti aborsi, kehamilan tidak diinginkan (KTD), dan infeksi menular seksual (IMS) termasuk HIV/AIDS. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional(Susenas) 1997, lebih dari separuh (54,6 persen) perempuan Indonesia menikah pada usia remaja (10-19 tahun), yaitu 26,3 persen pada usia 10-16 tahun, dan 28,2 persen pada usia 17-18 tahun(Suarta, 2001). Oleh karena itu, angka kematian ibu (AKI) di Indonesia menjadi sangat tinggi. Tahun 1994, angka kematian ibu sebesar 450 kematian per 100.000 ibu melahirkan menjadi 650 kematian per 100.000 ibu melahirkan pada tahun 1997 (Syahri, 2003).

Kaum muda dan remaja memang sangat berisiko tinggi terhadap IMS termasuk HIV/AIDS, karena terbatasnya pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS dan pencegahannya (Station et al, 1999). Setiap 5 menit remaja atau kaum muda di bawah usia 25 tahun terinfeksi HIV dan setiap menitnya 10 wanita usia 15-19 tahun melakukan aborsi tidak aman (Annual Report 2001, IPPF).

Penelitian yang dilakukan oleh Hanifah(2001) menemukan bahwa pengetahuan dasar responden tentang kesehatan reproduksi tidak memadai. Tingkat pengetahuan yang rendah disebabkan sumber informasi utama tentang pengetahuan dasar kesehatan reproduksi adalah teman yang tidak mempunyai pengetahuan yang baik dan cukup tentang kesehatan reproduksi. Pengetahuan responden tentang cara penularan PMS dan HIV/AIDS cukup baik. Sumber informasi tentang IMS dan HIV/AIDS sebagian besar berasal dari media cetak dan elektronik (68,88%). Sumber lain adalah lingkungan pergaulan. Pengetahuan responden tentang cara pencegahan PMS dan HIV/AIDS masih bercampur antara pengetahuan yang benar dengan mitos yang keliru. Responden mulai berpacaran pada usia antara 15-17 tahun, sebagian lagi mulai pacaran pada usia yang relatif muda, yaitu antara usia 12-14 tahun

Hasil sebuah studi menyatakan bahwa lebih dari 500 juta usia 10-14 tahun yang hidup di negara berkembang rata-rata pernah melakukan hubungan suami-isteri (intercouse) pertama kali di bawah usia 15 tahun (Sedlock, 2000; US Bureau of The Cencus, 1998, cit Suarta, 2001). Kurang lebih 60% kehamilan yang terjadi pada remaja di negara berkembang adalah tidak dikehendaki (unwanted pregnancy) dan 15 juta remaja pernah melahirkan (UNFPA, 1997; Safemotherhood, Inter-Agency Group). Di Indonesia kasus-kasus tersebut diperparah dengan kurang adanya komitmen dan dukungan pemerintah dalam bentuk kebijakan yang mengatur tentang pendidikan seksual dan reproduksi bagi remaja terutama di tiap sekolah, lemahnya kerjasama lintas sektor yaitu antara Departemen Kesehatan, Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Sosial.

Termasuk dalam kategori remaja adalah siswa-siswa SMU. Anak usia Remaja merupakan usia transisi dari masa anak-anak menuju ke usia dewasa. Masa remaja ditandai dengan perilaku-perilaku yang mendorongnya untuk melakukan berbagai tindakan sebagaimana yang dilakukan oleh orang dewasa. Dorongan ini sebagai akibat dari perkembangan biologisnya yang semakin matang. Pada saat yang lain, remaja belum dapat meninggalkan sifat kekanak-kanakannya.

Perkembangan organ-organ biologis terutama tampak pada penonjolan dan berfungsinya organ-organ seksual yang menunjukkan pada salah satu jenis kelamin. Remaja sendiri sangat tertarik untuk mengetahui perubahan-perubahan yang dirasakannya (Mappiare, 1990). Remaja berusaha mencari berbagai informasi tersebut dari berbagai sumber. Orang tua, teman sebaya, buku, media massa (Radjah, 2001). Internet merupakan salah satu sumber informasi bagi remaja untuk mengetahui berbagai persoalan berkaitan dunia remaja dan berbagai persoalan dunia orang dewasa. Informasi yang paling menarik dan perlu segera mendapatkan jawaban adalah tentang fungsi-fungsi seksual dan reproduksi. Berbagai informasi yang didapatkan akan berpengaruh terhadap sikap dan perilakunya(www.remajaindonesia.or.id).

Persoalannya, informasi yang didapat tidak diterima secara utuh dilihat dari sisi agama, moral, kesehatan atau medis. Informasi yang didapat dari orang tua sering tidak memuaskan karena pada umunya lebih banyak berisi pesan-pesan moral, sedangkan informasi seks dan kesehatan reproduksi tidak disampaikan secara gamblang karena dianggap sebagai hal tabu untuk dibicarakan. Karena dianggap tabu, anak juga sulit bersikap terbuka terhadap masalah yang ingin ditanyakannya.

Informasi dari teman sebaya pada umumnya didapat lebih mudah dan terbuka, tapi informasi tesebut lebih banyak mengandung unsur-unsur pengalaman seksual yang mencerminkan adanya sex appeal. Keterbukaan untuk saling memberikan informasi di antara mereka dapat mengatasi keterbatasan informasi dari orang tua atau keluarga. Namun, kualitas atau muatan informasi lebih banyak mengandung unsur pengalaman seksualnya, maka informasi tersebut dapat membawa remaja pada perilaku seksual yang kurang sehat dilihat dari sisi moral, mental, atau pun medis.

Informasi dari orang tua dan teman sebaya tidak cukup untuk memberikan penjelasan tentang seks dan kesehatan reproduksi. Peran media massa dalam memberikan informasi tentang hal ini sangat dibutuhkan. Media massa seperti koran, majalah, radio, dan televisi dapat membuka rubrik konsultasi masalah-masalah seksual dan kesehatan reproduksi. Persoalannya, banyak media massa yang terjebak pada bisnis semata (Sumartono,2002), sehingga lebih banyak mengekspos perilaku-perilaku seksual itu sendiri, bukan dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan seks yang sehat dan kesehatan reproduksi. Majalah Liberty, Matra, dan Popular, menampilkan foto-foto artis setengah telanjang, dan komentar-komentar yang menjurus kepada ajakan pembaca untuk menikmatinya. Radio Trijaya FM Jakarta, dialog seksual berisi kalimat-kalimat ajakan untuk menikmati seks lewat masturbasi (Sumartono, 2002).

Kemajuan teknologi informasi telah memberikan banyak manfaat kepada masyarakat luas dalam mendapatkan informasi dan pengetahuan jauh lebih cepat. Walaupun diyakini mengandung dampak negatif berupa informasi-informasi yang tidak mendidik, namun semuanya kembali kepada masing-masing penerima. Salah satu bentuk kemajuan teknologi informasi adalah media internet. Melalui internet informasi dapat diakses jauh lebih cepat, lebih mudah, dan lebih banyak.

Perkembangan dunia internet membuat batas jarak menjadi hampir tidak ada. Berbagai informasi dari belahan dunia dapat diakses dari manapun. Kegiatan dan berita-berita hangat dapat disebarkan dengan mudah melalui media internet ini baik melalui e-mail maupun melalui homepage-homepage majalah atau koran elektronik. Salah satu manfaat terbesar dari internet ini setiap orang dapat menghubungi orang yang ingin dihubungi dengan biaya yang murah, data berupa suara, gambar dapat dikirimkan dengan waktu yang relatif singkat.

Terlepas dari masalah legal dan tidak legalnya kita perlu sadar bahwa perkembangan teknologi informasi melalui internet memberikan fasilitas yang banyak dalam pertukaran informasi. Melalui media internet ini pelayanan jasa kesehatan berupa konsultasi medis juga telah dirintis. Salah satunya adalah yang dilakukan oleh MLDI (Mailing List Dokter Indonesia) yang mulai berdiri sekitar tahun 1996 dengan nama Mailing List Dokter Internet. Masih banyak lagi situs-situs internet yang memberikan informasi kesehatan pada umumnya maupun kesehatan reproduksi. Melalui jaringan internet, siswa-siswa SMU dengan mudah dapat mengakses informasi dari situs-situs kesehatan yang ada.

Layanan jasa internet telah tersebar hampir di setiap kota. Kota Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pendidikan, siswa SMU dapat menggunakan jaringan internet dengan mudah karena banyak terdapat warung-warung internet yang buka selama 24 jam. Bahkan, di beberapa sekolah sudah ada yang memasang jaringan internet sendiri. Setiap siswa dapat membuka situs apa saja untuk mendapatkan informasi yang diinginkannya, termasuk situs kesehatan. Untuk mendapatkan informasi tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas melalui warnet, siswa tidak perlu merasa malu. Siswa dengan leluasa akan mendapatkan informasi tersebut. Karena dorongan sex appeal dalam dirinya, siswa dapat melengkapinya dengan membuka situs-situs seksual yang memvisualisasikan kegiatan seksual.

Dengan membuka hanya situs-situs kesehatan di internet mungkin saja siswa sudah merasa cukup jelas. Kebebasannya untuk mengakses situs-situs di internet, bukan hanya situs kesehatan saja, memberikan kesempatan kepada siswa untuk mendapatkan informasi lebih banyak yang dapat berdampak positif ataupun dampak negatif.

Proporsi informasi yang didapatkan dari situs kesehatan di internet dapat berubah ketika motivasi membuka situs kesehatan berubah yaitu untuk memenuhi dorongan seksualnya. Perubahan ini sangat mungkin terjadi mengingat masa remaja adalah masa transisi antara kanak-kanak dan dewasa, dan para remaja tersebut relatif belum mencapai tahap kematangan mental serta sosial sehingga harus menghadapi tekanan emosi, psikologi, dan sosial yang saling bertentangan. Apa yang dianggap tabu oleh orangtua, maupun sekolah ternyata dengan mudah didapatkan dari internet (www.keluargamuslim.com). Secara umum dapat dikatakan bahwa internet dapat mempengaruhi perilaku siswa.

Dalam istilah pendidikan kesehatan reproduksi, perilaku kesehatan reproduksi selalu bersinonim dengan perilaku seksual (Radjah, 2001). Permasalahan yang dihadapi remaja dalam perilaku seksualnya adalah bagaimana mereka memiliki perilaku seksual yang sehat dan terhindar dari berbagai implikasi negatifnya. Warnaen,1976 (Cit, Radjah, 2001) menyebutkan bahwa informasi tentang seks yang terpenting adalah membentuk sikap serta kematangan emosional yang sehat terhadap seks.

Perilaku seksual remaja yang tidak sehat akan berimplikasi pada berbagai macam resiko seksual. Jenis risiko kesehatan reproduksi yang dihadapi remaja mempunyai ciri berbeda dari anak-anak ataupun orang dewasa. Jenis risiko kesehatan reproduksi yang harus dihadapi remaja antara lain kehamilan, aborsi, infeksi menular seksual, kekerasan seksual serta masalah keterbatasan akses terhadap informasi dan pelayanan kesehatan.

B. Rumusan Permasalahan

1. Apakah ada pengaruh teman sebaya terhadap perilaku Siswa SMU dalam mengakses situs kesehatan reproduksi?

2. Apakah ada pengaruh media massa terhadap perilaku siswa SMU dalam mengakses situs kesehatan reproduksi?

3. Apakah ada pengaruh sikap orangtua siswa terhadap perilaku Siswa SMU dalam mengakses situs kesehatan reproduksi?

4. Apakah ada pengaruh antara teman sebaya, media massa dan sikap orangtua siswa, terhadap perilaku Siswa SMU dalam mengakses situs kesehatan?

5. Apakah ada hubungan antara pemakaian situs kesehatan reproduksi terhadap pengetahuan siswa SMU terhadap kesehatan reproduksi Siswa SMU di Kota Yogyakarta ?

C. Keaslian Penelitian

Penelitian tentang perilaku remaja dan kesehatan reproduksi remaja telah banyak dilakukan baik oleh instansi pemerintah ataupun Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Saefuddin dkk (1997) meneliti perilaku seksual remaja kota di Kota Banjarmasin. Penelitian dilakukan dengan metode etnografi terhadap sejumlah responden yang terdiri dari siswa-siswa SMU. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa perilaku seksual remaja di Kota Banjarmasin dipengaruhi oleh media massa dan pornografi. Materi pornografi tidak dianggap sebagai hal yang tabu. Peran kelompok pertemanan (peer group) mempengaruhi perilaku seksual remaja yang dinilainya sebagai eksperimentasi dari informasi yang didapatkannya.

Penelitian oleh Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1999) terhadap remaja kota. Sampel diambil sebanyak 200 remaja SLTP dan SMU di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Melalui metode indepth interview diketahui bahwa remaja telah memiliki pengalaman kesehatan reproduksi sejak SMP, perilaku seksual didorong melalui VCD porno atau gambar-gambar porno. Ekspresi seksual ditunjukkan dengan cara mencolek, mencubit, menarik tali BH, memegang-megang bagian tubuh yang lain, dan sebagainya.

Philip dan Darmawan (2001) melakukan studi tentang perilaku siswa dan nilai-nilai kesusilaan suatu studi kasus di DKI Jakarta. Dilihat dari metode diskriptif eksplanatoris yang digunakan, jenis penelitian tersebut adalah kualitatif, dengan pendekatan studi kasus. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang pengetahuan siswa tentang seksualitas, persepsi dan perilaku kesusilaan menyangkut masalah seksual, perilaku kesusilaan seksual. Sasaran penelitian ini adalah pelajar SMU baik negeri maupun swasta karena siswa SMU dalam puncak masa pubertas dan memiliki pengalaman lebih banyak dalam hal kesusilaan (seksual) dibanding dengan siswa tingkat SLTP. Pengumpulan data dan informasi dari siswa dilakukan dengan menggunakan angket.

Penelitian Philip dan Darmawan (2001) secara umum berhasil memberikan gambaran berkaitan dengan pengetahuan, persepsi, perilaku seks, dan sumber informasi masalah seksualitas di kalangan siswa. Pengetahuan siswa tentang seksualitas, termasuk didalamnya masalah reproduksi, adalah cukup baik. Siswa umumnya mengerti dan memahami berbagai aspek tentang seksualitas. Persepsi siswa terhadap berbagai fenomena seksual, terutama penyimpangan perilaku seks (asusila), juga cukup positif. Terdapat indikasi bahwa cukup banyak penyimpangan perilaku seks di kalangan siswa. Indikasi tersebut menyiratkan sikap makin permisif terhadap masalah seksual, khususnya perilaku asusila. Sumber informasi tentang seksual sejauh ini adalah media massa masih paling dominan bagi siswa.

Berbeda dengan penelitian yang telah banyak dilakukan, penelitian yang akan dilakukan khusus meneliti pengaruh penggunaan situs kesehatan di internet terhadap pengetahuan kesehatan reproduksi siswa SMU di Kota Yogyakarta. Dilihat dari jenis penelitiannya, penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Penelitian ini juga akan meneliti pengaruh orang tua, teman sebaya, dan media massa terhadap pengetahuan siswa SMU dalam mengakses situs kesehatan.

D. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum:

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemakaian situs kesehatan reproduksi terhadap pengetahuan kesehatan reproduksi siswa SMU di Kota Yogyakarta.

2. Tujuan Khusus :

Mengetahui pengaruh teman sebaya, media massa, dan orang tua siswa dalam mengakses situs kesehatan

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian yang didapat dari penelitian ini antara lain :

1. Manfaat Teoritis

a.Mendapatkan informasi tentang perilaku remaja dan perilaku kesehatan reproduksi siswa-siswa SMU.

b.Menambah wacana pengetahuan tentang pengaruh situs kesehatan di internet tehadap perilaku siswa SMU

2. Manfaat Praktis

a. Memberikan informasi kepada orangtua siswa, sekolah, dan masyarakat luas tentang manfaat situs kesehatan dan pengaruhnya terhadap perilaku kesehatan siswa SMU.

b. Menjadi pertimbangan pihak sekolah untuk memberikan pendidikan seks dan kesehatan reproduksi kepada siswa-siswanya secara proporsional dan bertanggung jawab

c. Menjadi pertimbangan bagi pengelola situs kesehatan untuk memberikan informasi yang lebih menarik dan mendidik

d. Menjadi referensi bagi penelitian selajutnya

Tidak ada komentar: