photo KoleksiSkripsiHeader.gif HP CS Kami 0852.25.88.77.47(AS), 0857.0.1111.632(IM3), email:IDTesis@gmail.com

JURNAL BISNIS DAN EKONOMI, September 1999

PENGARUH BUDAYA TERHADAP TIMBULNYA AKUNTANSI

MANAJEMEN KONTEMPORER

Oleh : Venus Gani

STIE Stikubank Semarang

AbstraK

Akuntansi Manajemen Kontemporer/modern (AMK) diantaranya meliputi: Kaizan (Perbaikan Terus Menerus), Just-In-Time Inventory (JIT), dan Kanban dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan Jepang. Kemunculan AMK sebagai respon kegagalan penerapan Akuntansi Manajemen Tradisional oleh perusahaan-perusahaan manufaktur (khususnya otomotif dan elektronika) di Amerika Serikat.

Kesuksesan perusahaan-perusahaan menerapkan AMK tidak lepas dari budaya bangsa Jepang. Oleh karena itu dalam menerapkan AMK perlu mengadopsi budaya Jepang diantaranya: disiplin, kerjasama, dan loyalitas. Tulisan ini berusaha menunjukkan pengaruh budaya Jepang terhadap timbulnya Akuntansi Manajemen Komtemporer.

Pendahuluan

Akuntansi manajemen tradisional memberikan perhatian penting pada tenaga kerja. Tenaga kerja adalah komponen utama dari total biaya manufaktur. Akuntansi manajemen telah mendasarkan pemikiran bahwa (1) tenaga kerja adalah biaya variabel jangka pendek, (2) tenaga kerja adalah porsi utama dari total biaya manufaktur, (3) biaya overhead berhubungan pada konsumsi utama tenaga kerja (Hirsch, 1994, hal. 66). Kondisi demikian tidak sesuai dengan kenyataan sejumlah industri sekarang, tidak hanya sifat tenaga kerja berubah, juga persentase dari tenaga kerja terhadap total biaya menurun. Bahkan dalam beberapa kasus tenaga kerja merupakan biaya tetap. Sebagai contoh (Hirsch, 1994, hal. 66), suatu perusahaan manufaktur produk plastik di Midwest memiliki tenaga kerja yang datang setiap hari. Mereka menerima gaji berdasarkan berapa jam bekerja, jika tidak mereka diberhentikan sementara, mereka bekerja selama 40 jam dalam satu minggu. Sama halnya dengan tenaga kerja pada perusahaan manufaktur penghasil komponen-komponen asli bagi industri otomotif. Ketika produksi menurun, di samping sebagai maintenance, tenaga kerja juga ditemukan pada kantor untuk melaksanakan tugas-tugas sekretaris.

Pada saat bersamaan, sekitar tahun 1990-an, banyak perusahaan Amerika (USA) terutama dibidang otomotif dan elektronik mengalami penurunan jumlah, karena bangkrut atau memindahkan perusahaan-perusahaannya ke negara-negara berkembang. Mereka kalah bersaing dengan perusahaan-perusahaan Jepang. Salah satu kegagalan perusahaan-perusahaan otomotif Amerika karena sistem informasi yang tidak akurat. Mereka cenderung menghasilkan produk-produk yang dihasilkan dalam rentang produksi jangka pendek dengan spesifikasi berbeda-beda. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh laba lebih tinggi. Sistem informasi gagal menunjukkan biaya set-up yang tinggi dan biaya inkremental untuk macam-macam spesifikasi. Berlainan dengan Jepang yang menghasilkan produk-produk mobil dengan rentang produksi jangka panjang dan volume tinggi. Perusahaa-perusahaan otomotif Jepang menjual mobil-mobil ke Amerika dengan biaya rendah, sedikit asesoris dan tidak banyak pilihan. Kualitas mobil-mobil Jepang-pun tidak kalah dibandingkan mobil-mobil Amerika.

Kegagalan industri-industri manufaktur di Amerika dan ketidakcocokan akuntansi manajemen tradisional pada kondisi sekarang menyebabkan munculnya akuntansi manajemen kontemporer/mondern. Sejumlah pendekatan-pendekatan baru dikembangkan sebagai bagian dari akuntansi manajemen kontemporer meliputi: kaizan (perbaikan terus menerus), just-in-time inventory (JIT), activitiy-based costing, dan theory of constraints.

Pada tulisan ini akan membahas mempermasalahkan pengaruh budaya terhadap timbulnya akuntansi manajemen kontemporer. Budaya yang dimaksud di sini adalah budaya Jepang. Kita tahu bahwa kaizan, just-in-time iventory dan kanban merupakan beberapa pendekatan teori akuntansi manajemen kontemporer dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan Jepang. Budaya Jepang memainkan peranan penting berkaitan dengan pengembangan akuntansi manajemen kontemporer. Sukses tidaknya penerapan kaizan, just-in-time inventory dan kanban terkait dengan budaya Jepang.

Sistematika pembahasan secara berurutan akan dimulai memahami peranan budaya Jepang. Kemudian memperlihatkan perbedaan budaya Jepang dan Amerika dan sekaligus membandingkan mana yang lebih unggul. Selanjutnya, menjelaskan pengaruh langsung budaya terhadap akuntansi manajemen, sebelum dibuat penutup.

Peranan Budaya Jepang

Industri otomotif Jepang secara konsisten memenangkan penghargaan bagi kepuasan pelanggan. Sedikit yang akan membantah bahwa Jepang telah meningkatkan standar produk-produk tersedia di Amerika pada umumnya. Dengan pencapaian luar biasa dalam kendali kualitas dan teknik manufaktur modern, perusahaan-perusahaan Jepang telah meredefinisi banyak aspek atas teknologi manufaktur.

Perusahaan-perusahaan Amerika telah dipaksa untuk mengikuti corak mobil-mobil Jepang. Teknik produksi just-in-time dan teknik-teknik pionir secara rutin telah dipelajari oleh manajer-manajer Amerika. Tentu saja, proses-proses tersebut menyakitkan bagi banyak perusahaan-perusahaan Amerika yang tidak dapat beradaptasi terhadap perubahan-perubahan.

Pelajaran dari Jepang bagaimana mereka mengorganisasi untuk melakukan menjadi begitu baik amat terkenal dari awal 1980-an. Teknik-teknik meliputi kanban sampai Zen dilaporkan dan, dalam beberapa kasus, sebagai bagian dari cara-cara Amerika menjalankan sesuatu. Banyak dari pengamat-pengamat Amerika mencoba untuk menemukan intisari kesuksesan Jepang, semakin banyak mereka diperkuat untuk mengakui bahwa kesuksesannya tergantung pada karakteristik-karakteristik unik dan kompleks atas masyarakat jepang sendiri (Partner, 1992, hal. 46). Orang-orang Jepang bekerja lebih keras dibandingkan orang-orang Amerika. Mereka menunjukkan lebih empati dengan tujuan-tujuan pemilik. Mereka lebih terpelajar dalam memikul tanggung jawab bagi tugas-tugas yang diberikannya. Mereka cenderung menerima pengabdian untuk kebaikan bersama, mengenyampingkan kepentingan-kepentingan individu. Mereka menilai loyalitas. Mereka menerima disiplin. Mereka memiliki memori berkaitan dengan kesulitan-kesulitan dan penderitaan-penderitaan tentang kerja. Mereka cenderung bekerja ke arah tujuan-tujuan jangka panjang dan siap untuk mengorbankan keuntungan-keuntungan jangka pendek. Mereka menempatkan nilai yang tinggi pada konsensus. Semua karakteristik ini dipercaya memberi kontribusi kesuksesan perdagangan Jepang.

Tentu saja, beberapa dari hal tersebut tidak mungkin dihasilkan di negeri (tanah) Amerika. Pada khususnya, akan menjadi pertentangan budaya mendasar antara pendekatan corporatist Jepang dan pengidealan individualistic Amerika (Partner, 1992, hal. 47). Ketika sejumlah orang Amerika menyesalkan pengaruh dari kurang disiplin pada pendidikan anaknya, sebagian besar mungkin tidak ingin mengorbankan kebebasan kreativitas dan kesempatan individu yang merupakan karakteristik masyarakat Amerika. Bagaimanapun akan terburu-buru menyatakan bahwa masyarakat Amerika tidak dipengaruhi oleh kesuksesan budaya Jepang. Amerika dikatakan bekerja lebih keras sekarang daripada yang mereka lakukan sepuluh tahun yang lalu dengan harapan akan membalikkan kenyataan pada masa yang akan datang.

Sekolah-sekolah Amerika juga sedang membuat peningkatan usaha-usaha untuk menanggapi standar pendidikan yang unggul ditunjukkan oleh anak-anak Jepang. Studi-studi menyoroti perbedaan-perbedaan sebagai alat utama dalam pengembangan program pendidikan lebih efektif bagi generasi Amerika yang akan datang.

Perbedaan Budaya Jepang dan Budaya Amerika

Joanne Martin memberikan pengertian budaya sebagai berikut (Luthans, 1995, hal. 497):

"Ketika individu-individu berhubungan dengan organisasi-organisasi, mereka berhubungan dengan norma-norma tertata, cerita-cerita orang-orang apa yang harus dijalankan, aturan dan prosedur formal organisasi, kode-kode perilaku formalnya, agama-agama, tugas-tugas, sistem pembayaran, jargon, kelucuan-kelucuan hanya dipahami oleh pihak dalam organisasi, dan lainnya. Elemen-elemen ini adalah beberapa manifestasi dari budaya organisasi."

Pengertian dan definisi budaya bermacam-macam, satu di antaranya disebutkan di atas. Meskipun terdapat banyak masalah dan ketidaksetujuan dihubungkan dengan budaya organisasi, sebagian besar definisi mengakui pentingnya norma-norma yang diberikan dan nilai-nilai yang mengarahkan perilaku partisipan organisasi (Luthans, 1995, hal. 497).

Salah satu pendiri Honda Motor, T. Fujisawa mengatakan: "manajemen Amerika dan Jepang 95 persen sama, dan berbeda dalam semua aspek-aspek penting (Luthans, 1995, hal. 534). Sebagai contoh, orang-orang Amerika terkenal dengan individualisme yang tinggi, sedangkan orang-orang Jepang terkenal dengan kolektivisme. Negara-negara di mana individualisme penting, pelamar kerja dievaluasi pada basis personal, pendidikan, dan pencapaian profesionalisme. Dalam masyarakat berorientasi pada kelompok (kolektivisme) pelamar kerja dievaluasi pada basis kepercayaan, keloyalan dan dapat bekerjasama dengan teman-temannya. Juga dalam budaya kolektivisme tinggi, orang-orang cenderung menunjukkan komitmen pada organisasinya, sedangkan dalam budaya individualisme yang tinggi, orang-orang cenderung berpindah-pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain.

Orang-orang Amerika cenderung memusatkan perhatian pada dimensi waktu periode jangka pendek. Eksekutif-eksekutif dalam negara ini akan bekerja pada suatu perusahaan kurang lebih lima sampai sepuluh tahun. Pekerja-pekerja disewa cenderung bekerja dalam kontrak jangka pendek lebih dari satu atau dua tahun. Orang-orang Jepang memiliki horison masa kerja jangka panjang. Ketika perusahaan-perusahaan Jepang menggaji karyawan-karyawan, mereka sering mempertahankan untuk waktu yang lama, bahkan seumur hidupnya. Perusahaan-perusahaan Jepang akan menghabiskan banyak uang untuk melatihnya, dan ada kekuatan, komitmen bersama pada kedua sisi.

Hofstede meneliti 116.000 pekerja-pekerja dari 70 negara yang bekerja pada IBM dalam hubungannya dengan individualisme dan power distance. (Luthans, 1995, hal. 538). Power distance adalah tingkat yang mana pekerja-pekerja menerima bahwa pimpinannya memiliki kekuatan lebih daripada mereka lakukan. Dia mengatakan bahwa Amerika memiliki tingkat individualisme tinggi dan power distance rendah. Sedangkan Jepang memiliki tingkat kolektivisme tinggi dan power distance tinggi.

Pada umumnya, Hofstede menemukan bahwa negara-negara makmur memiliki individualisme tinggi dan negara-negara miskin memiliki kolektivisme tinggi. Jepang yang merupakan negara industri baru dan makmur adalah perkecualian memiliki kolektivisme tinggi. Dimensi budaya kolektivisme akan dapat diterapkan dengan ‘penekanan baru’ pada kelompok ditempat kerja dan mungkin menolong menjelaskan mengapa mereka bekerja dengan baik di Jepang, tetapi tidak di Amerika. Bagaimanapun budaya power distance rendah seperti di Amerika mungkin lebih cocok dengan munculnya desentralisasi, struktur flat, dan dimensi pelimpahan wewenang dari organisasi-organisasi sekarang.

Dimensi lain dari perbedaan budaya adalah penghindaran ketidakpastian. Penghindaran ketidakpastian adalah tingkat yang mana orang-orang merasa terancam oleh situasi-situasi mendua dan derajat yang mana mereka mencoba untuk menghindari situasi-situasi dengan melakukan cara-cara seperti: penyediaan kestabilan karir lebih besar, penetapkan aturan-aturan lebih formal, penolakan perilaku-perilaku dan ide-ide yang berbeda dan penerimaan kemungkinan aturan-aturan mutlak dan pencapaian keahlian.

Di Jepang dimana pekerja-pekerja bekerja diperusahaan dalam jangka panjang, ada penghindaran ketidakpastian yang tinggi. Di Amerika, sangat berbeda, di mana perpindahan kerja dari satu tempat ke tempat lain tinggi, penghindaran ketidakpastiannya rendah.

Budaya yang Lebih Unggul

Dengan melihat keunggulan perusahaan-perusahaan manufaktur di Jepang dan kemunduran-kemunduran perusahaan manufaktur di Amerika bukanlah berarti budaya Jepang lebih unggul dibandingkan budaya Amerika. Kemunduran perusahaan-perusahaan manufaktur di Amerika pada saat itu disebabkan banyak fakor di samping budaya-budaya Jepang memang cocok dengan kemunculan pendekatan-pendekatan just-in-time, kanban dan kaizan. Penyebab kegagalan perusahaan manufaktur di Amerika diantaranya berkaitan dengan: (1) kegagalan sistem informasi biaya dalam memberikan biaya relevan proses manufaktur dalam rangka pengambilan keputusan seperti dijelaskan pada bagian pendahuluan, (2) kemungkinan perbedaan komposisi manajer produksi, di Jepang lebih banyak terdiri dari insinyur, sedangkan di Amerika lebih banyak akuntannya, kemungkinan berpengaruh (3) persentase subsidi biaya penelitian dan pengembangan terhadap GNP di Jepang dan Amerika sebelumnya sama, sejak tahun 1969 – 1983 pertumbuhan persentase biaya penelitian dan pengembangan Jepang lebih tinggi dibandingkan Amerika (Sato, dkk., 1992), besarnya biaya penelitian dan pengembangan berkaitan dengan munculnya teknologi-teknologi baru (4) kesediaan warga negara Jepang untuk selalu belajar dari negara lain (Sato, dkk., 1992) dan mungkin kelengahan Amerika setelah memenangkan perang dunia kedua.

Buku Teori Z dari Wiliam Ouchi: How American Business Can Meet the Japanese Challenge adalah salah satu buku yang menunjukkan pentingnya perilaku organisasi (Luthans, 1995, hal. 509). Pada buku ini, William Ouchi menunjukkan kombinasi dari budaya Amerika dan budaya Jepang agar perusahaan-perusahaan Amerika dapat bersaing dengan perusahaan-perusahaan Jepang.

Pengaruh Langsung Budaya terhadap Akuntansi Manajemen

Dalam penerapan just-in-time dibutuhkan kerja sama yang baik dan disiplin yang tinggi. Seperti dijelaskan di atas, Jepang lebih disiplin dan kerjasamanya lebih baik dibandingkan Amerika yang terkenal dengan individualisme dan kurang kerjasamanya.

Amerika yang terkenal dengan individualismenya tinggi struktur organisasi flat dan desentralisasi lebih cocok dibandingkan Jepang dengan paham kolektivismenya. Pembentukan pusat-pusat pertanggungjawaban atau divisi-divisi di bawat tanggungjawab seorang manajer sesuai dengan paham individualisme. Oleh karena itu, akuntan manajemen dalam mencapai tujuan hendaknya memperhatikan struktur organisasi yang dirancang.

Amerika mulai meninggalkan penggunaan ROI sebagai alat utama pengukur kemajuan perusahaan. ROI cenderung berjangka pendek, sesuai dengan inidividualisme Amerika. Penggunaan ROI dapat mengarahkan dysfunctional behaviour pada manajer divisi. Manajer yang mendapat imbalan berdasarkan ROI divisinya tidak akan bersedia menerima proyek-proyek dengan ROI yang lebih rendah dari rata-rata ROI keseluruhan divisi, bahkan jika proyek-proyek tersebut sangat penting bagi keseluruhan perusahaan (Hirsch, 1995, hal 595).

Akuntan manajemen di Jepang cenderung memberi gaji pekerja-pekerjanya lebih kecil dibandingkan di Amerika. Karena orang-orang Jepang cenderung bekerja pada perusahaan dalam jangka waktu lama. Sebaliknya mereka cenderung memberikan pelatihan-pelatihan yang menunjang produktivitasnya.

Akuntan manajemen dalam rangka mencapai tujuan perusahaan hendaknya memperhatikan aspek budaya terutama berkaitan dengan motivasi. Cara-cara memotivasi berbeda-beda antara negara yang satu dan negara yang lain. Hal ini sangat penting, bukan hanya bagi perusahaan-perusahaan yang mempunyai cabang atau anak perusahaan di luar negeri, juga karena globalisasi di mana suatu perusahaan mungkin akan mempekerjakan pekerja dari berbagai macam negara dengan budaya berbeda.

Penutup

Peranan budaya dalam perusahaan sangat penting, terlebih-lebih pada era globalisasi. Pada era tersebut terjadi berkumpulnya macam-macam bangsa dalam satu perusahaan dengan karakteristik-karakteristik berbeda memiliki implikasi cara-cara memotivasi dan mengendalikan berbeda agar tujuan perusahaan tercapai. Di samping itu dengan budaya bermacam-macam dapat membuat kombinasi terbaik sesuai dengan lingkungan yang dihadapi. Oleh karena itu, sebaiknya topik budaya dimasukkan dalam materi akuntansi manajemen.

REFERENSI

Hirsch, Maurice L. Advance Management Accounting. Cincinati, Ohio: South Western Publishing Co, 1994.

Luthans, Fred. Organizational Behaviour. International Edition, Mc Graw Hill, 1995.

Partner, Simon. Saying Yes to Japanese Investment: How You Can Benefit by Doing Business with the Japanese. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall, 1992.

Sato, Ryuzo., Ramachandran, Rama., dan Tsutsui, Shunichi. "The Role of Strategies and Cultural Factors in International Trade: Experience of Japan." Recent Developments in Finance". Homewood, Illinois: Business One Irwin, 1992.

Tidak ada komentar: