photo KoleksiSkripsiHeader.gif HP CS Kami 0852.25.88.77.47(AS), 0857.0.1111.632(IM3), email:IDTesis@gmail.com

JURNAL BISNIS DAN EKONOMI, MARET 2003

PENGARUH PRICE EARNINGS RATIO (PER) TERHADAP FAKTOR FUNDAMENTAL PERUSAHAAN ( Dividend Payout Ratio, Earnings per Share, dan risiko) PADA PERUSAHAAN PUBLIK DI BURSA EFEK JAKARTA

Oleh : Yeye Susilowati

STIE Stikubank Semarang

ABSTRACT

This paper examines the impacts Price Earning Ratio on dividend payout ratio, earning per share and risk of all company in Jakarta Stock Exchange (JSX). Sampling method used is purposive random sampling with category of companies whose share are always actively traded January 1994 to December 2000 at JSX. The number of samples acquired by those categories is 60 company stocks.

The result of hypothesis H1a tests support, result is negative association between return and PER. Hipotesis H1b support, result is association between dividend payout ratio (positif), growth (negatif) and risk (positif). Hipothesis H1c support, result is average stock return undervalued higher average stock return overvalued. A final word portfolio leads to the low price earnings ratio (PER), price to book value (PBV) and price to sales ratio (PSR) are better the portofolio leads to high PER, PBV, PSR

Keyword : Price earning ratio, dividend payout ratio, earning per share, growth

I. PENDAHULUAN

    1. Latar Belakang

Model penilaian (valuation model) digunakan oleh analisis untuk menentukan dan mengevaluasi harga saham. Menurut Jones (2000), model penilaian dibagi menjadi dua pendekatan, yaitu pendekatan nilai sekarang dan pendekatan Price Earnings Ratio (PER). Pada pendekatan nilai sekarang yang digunakan untuk melihat prospek masa depan perusahaan dengan mengestimasi dividen yang telah dibayarkan, sedangkan pendekatan pada pendekatan PER suatu saham dikatakan bernilai jika memiliki prospek pada laba dimasa yang akan datang.

Model penilaian berdasar factor fundamental menunjukkan bahwa ekuitas berkaitan dengan : (1) laba akuntansi (Ball dan Brown, 1968; Barth, 1991; Collins dan Kothari, 1969), (2) ukuran neraca dari asset dan kewajiban (landsman, 1986) atau (3) laba dan nilai buku. Model (3) mendasarkan pada preposisi bahwa pada kondisi yang realistic dimana terdapat pasar tidak sempurna, system akuntansi menyediakan informasi mengenai nilai buku dan laba sebagai komponen pelengkap dari nilai ekuitas (Burgstahler dan dichev, 1997), Ohlson (1995) juga menunjukkan harga sebagai sutu fungsi linier dari nilai buku dan laba abnormal. Model tersebut lebih lanjut diperbaiki dengan menyusun kembali komponen laba ke dalam dividen dan laba yang ditahan (Rees, 1997). Hasilnya adalah suatu model penilaian yang menghubungkan ekuitas ke dividen, laba ditahan dan nilai buku.

Adanya dividen dan laba ditahan dalam model penilaian sesuai dengan bukti empiris yang ada bahwa model penilaian yang dominan yang digunakan oleh analis adalah PER (Barker, 1999 dan Jones, 2000) Walaupun demikian, pendekatan nilai sekarang dengan menggunakan dividen yield juga merupakan hal yang penting (Govinderajan, 1980; Arnold dan Moizer, 1984; Previts dkk, 1994; dan Barker, 1999). Pada kenyataannya ada bukti dari dependensi industri pada preferensi analis antara dividen yield dan PER (Barker, 1999).

Penelitian Anugerah et al. (2001) menunjukkan bahwa PER memberikan petunjuk kepada investor atau calon investor mengenai kemungkinan return saham yang dihasilkan oleh suatu perusahaan. Penelitian Prasetya (2000) menunjukkan variabel EPP (Earnings Per Price) mempunyai pengaruh yang negatif terhadap return saham yang secara logika seharusnya menghasilkan hubungan yang positif.

1.2. Rumusan Masalah

Dari uraian diatas maka peneliti memunculkan permasalahan sebagai berikut:

"Apakah ada pengaruh antara PER dengan dividend payout ratio (DPR, tingkat pertumbuhan (G) yang mencerminkan prospek perusahaan dalam pertumbuhan EPS-nya, dan tingkat risiko (SD)?"

1.3. Motivasi dan Tujuan Penelitian

Motivasi penelitian ini didasarkan model Whitbeck dan Kisor (Manurung, 1997: 32), dimana dalam memperkirakan PER yang mencerminkan nilai intrinsik tergantung pada beberapa faktor fundamental, yakni: dividend payout ratio (DPR) yang mencerminkan kebijakan dividen, tingkat pertumbuhan (G) yang mencerminkan prospek perusahaan dalam pertumbuhan EPS-nya, dan tingkat risiko (SD). Atas model tersebut peneliti mencoba apakah hasil penelitian tersebut juga konsisten diterapkan di Indonesia.

Untuk itu, penelitian ini bertujuan menunjukkan sebarapa jauh PER berpengaruh terhadap fundamental perusahaan yang terdiri atas: dividen yang dibayarkan (dividend payout ratio), tingkat pertumbuhan yang diwakili oleh laba per lembar saham (earnings per share), risiko yang digambarkan oleh standard deviation pada masing-masing EPS perusahaan.

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya:

1) Penelitian ini menggunakan data pooled. Salah satu keuntungan jenis penelitian ini adalah dapat mengikuti perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu.

2) Penelitian menggunakan data sebelum dan sesudah krisis moneter. Hal ini dilakukan karena data-data di Indonesia sebelum dan sesudah krismon ada perbedaan hasilnya

3) Penelitian Anugerah et al. (2001) hanya menghitung korelasi dan menguji secara parsial. Penelitian ini dilakukan dengan analisis multivariate dengan alasan: a) adanya kelemahan yang timbul dari pengujian secara individu. Beberapa variabel jika diuji secara terpisah mungkin menunjukkan pengaruh yang signifikan dalam pengujian individual, tetapi jika variabel tersebut secara bersama-sama dimasukkan ke dalam persamaan regresi mungkin satu variabel lebih dominan dibanding variabel yang lain.

II. KERANGKA TEORITIS DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

2.1. PER dan Return Saham

PER juga merupakan ukuran untuk menentukan bagaimana pasar memberi nilai/harga pada saham perusahaan (Kertonegoro, 1995: 121). Keinginan investor melakukan analisis kesehatan suatu saham melalui rasio-rasio keuangan seperti PER, dikarenakan adanya keinginan investor atau calon investor akan hasil (return) yang layak dari suatu investasi saham. Return merupakan hasil yang diperoleh dari investasi tersebut, terdiri dari capital gain (loss) dan yield (Hartono: 1998, 85).

Penelitian Anugerah et al. (2001) menunjukkan bahwa PER memberikan petunjuk kepada investor atau calon investor mengenai kemungkinan return saham yang dihasilkan oleh suatu perusahaan. Hal tersebut didukung Francis, 1991: 511 yang menyatakan saham-saham perusahaan di Amerika Serikat rata-rata PER rendah akan menghasilkan average rates of return yang lebih besar (Francis, 1991: 511).

Hasil penelitian tersebut bertentangan dengan penelitian Utama dan Santoso (1998) yang menyatakan bahwa b dan PER tidak mempunyai korelasi yang signifikan dengan return saham. Penelitian Prasetya (2000) menunjukkan variabel EPP (Earnings Per Price) mempunyai pengaruh yang negatif terhadap return saham yang secara logika seharusnya menghasilkan hubungan yang positif. Hal tersebut mungkin saja disebabkan karena secara kebetulan sampel yang terambil memiliki hubungan antara return saham dan EPP yang negatif.

Berdasarkan analisis diatas [Basu (1983) dalam Anugerah et al. (2001); Utama dan Santosa (1998)] peneliti menduga ada pengaruh negatif antara PER dengan return saham. Hipotesis penelitian konfirmasi yang diajukan adalah:

HA1: Ada pengaruh negatif antara PER dengan return saham.

2.2. PER dan Faktor Fundamental Perusahaan

Ada beberapa pendekatan yang dilakukan untuk mengetahui saham mana yang harganya wajar ataukah tidak wajar (mispriced), diantaranya adalah dengan menggunakan model ekonometrika. Model ini dikembangkan oleh Whitbeck dan Kisor dalam Manurung, 1997: 32, dimana dalam memperkirakan PER yang mencerminkan nilai intrinsik digunakan persamaan: PER = a0 + a1DPR+ a2G + a3SD.

Persamaan tersebut menunjukkan bahwa PER tergantung pada beberapa faktor fundamental, yakni: dividend payout ratio (DPR) yang mencerminkan kebijakan dividen, tingkat pertumbuhan (G) yang mencerminkan prospek perusahaan dalam pertumbuhan EPS-nya, dan tingkat risiko (SD) dimana hal tersebut digambarkan oleh standar deviasi dari EPS.

Lintner (1956) memberikan alasan rasional bahwa perusahaan-perusahaan yang enggan untuk membayar dividen, maka dianggap sebagai sinyal yang buruk karena perusahaan dianggap membutuhkan dana. Alasan lain yang menyatakan pengaruh negatif antara beta dengan dividend pay out ratio adalah bahwa pembayaran dividen dianggap lebih kecil risikonya dibandingkan capital gain (Elton dan Gruber, 1994). Argumentasi tersebut sebenarnya didasarkan dari bird in the hand theory oleh Lintner (1962), Gordon (1963), dan Bhattacharya (1979). menjelaskan bahwa investor menyukai capital gain

.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Beaver et al. (1970), Bhattacharya (1979), Farrely et al. (1982), Capstaff (1992) yang mendukung Lintner (1956) dan Gordon (1963), serta Mardiyah dan Indriantoro (2002), maka, jika dividend pay out ratio pada earnings per lembar saham tinggi, berarti dividen per lembarnya semakin rendah. Dengan demikian semakin tinggi dividend pay out ratio, semakin kecil risiko sahamnya.

Hubungan antara tingkat pertumbuhan (growth) dan dividend payout ratio (DPR) dijelaskan sebagai hubungan yang negatif, dimana perusahaan yang mempunyai tingkat pertumbuhan yang tinggi akan mempunyai DPRyang rendah, sebaliknya perusahaan yang tingkat pertumbuhannya rendah akan mempunyai DPRyang tinggi (Hanafi dan Halim, 1996: 86).

Pernyataan senada diberikan oleh Barclay (1998) dalam Anugerah et al. (2001), dimana penentuan kebijakan perusahaan menurutnya berkaitan dengan masalah free cash flow perusahaan. Perusahaan yang pertumbuhannya tinggi dan mempunyai kesempatan yang besar memungkinkan untuk membayar dividen yang rendah karena mereka mempunyai kesempatan yang profitable dalam mendanai investasinya secara internal sehingga perusahaan tidak tergoda untuk membayar bagian yang lebih besar dari labanya kepada pihak luar. Sebaliknya, perusahaan yang pertumbuhan rendah berusaha menarik dana dari luar untuk mendanai investasinya dengan mengorbankan sebagian besar labanya dalam bentuk dividen maupun bunga (Subekti dan Kusuma, 2000).

Hubungan antara pertumbuhan perusahaan dengan risiko yang dinyatakan oleh Chung dan Charoenwong (1991) dalam Anugerah et al. (2001) sebagai hubungan negatif, bahwa perusahaan yang mempunyai kesempatan untuk tumbuh lebih mempunyai risiko saham sistematik yang lebih rendah (Fijrijanti dan Hartono, 2000).

Risiko sering dihubungkan dengan penyimpangan deviasi dari outcome yang diterima dengan yang diekspetasi. Horne dan Wachowics (1992) dalam Prasetya (2000) mendefinisikan risiko sebagai variabilitas return terhadap return yang diharapkan. Metode yang banyak digunakan untuk mengukur risiko adalah deviasi standar yang mengukur absolut penyimpangan nilai-nilai yang sudah terjadi dengan nilai rata-ratanya sebagai nilai yang diekspetasi (Hartono, 1998: 99).

Beberapa peneliti pernah dilakukan untuk mengetahui hubungan PER dengan tiga faktor fundamental tersebut berdasarkan tahun. Kisor dan Whitbeck (1963) dalam Manurung, 1997: 32 menguji pengaruh PER dengan tingkat pertumbuhan laba, payout ratio, dan perubahan EPS. Hasil penelitian dengan persamaan:PER = 8.2 + 1.5 Growth Rate in Earning + 6.7 Payout Ratio - 0.2 Standar Deviation in EPS Changes

Malkiel dan Cragg (1968) dalam Prasetya (2000) dan Anugerah et al. (2000). Memperluas penelitian Kisor dan Whitbeck (1963). Penelitian ini dengan memasukkan beta (b) sebagai faktor independen. Hasilnya adalah:

Year

Regression

R2

1961

PE = 4.73 + 3.28g + 2.05p - 0.85b

0.70

1962

PE = 11.06 + 1.78g + 0.78p - 1.61b

0.70

1963

PE = 2.94 + 2.55g + 7.62p - 0.27b

0.75

1964

PE = 6.71 + 2.05g + 5.25p - 0.89b

0.75

1965

PE = 0.94 + 2.74g + 5.01p - 0.35b

0.85

Manurung (1997). Penelitian ini dilakukan di Indonesia. Persamaan yang dihasilkan: PER = 11.87 + 0.005 Risk - 0.082 Growth + 0.475 Payout. Dari berbagai hasil penelitian tersebut ditunjukkan bahwa ada pengaruh positif PER terhadap dividend payout ratio dan risk (SD) sedangkan pengaruh negatif antara PER terhadap growth (G). Oleh karena itu pengajuan hipotesis berikutnya adalah:

HA2 : Ada pengaruh PER terhadap dividend payout ratio(+),growth(-),dan risiko(+)

2.3. PER dan Model Penilaian Saham

Nilai intrinsik tersebut memberikan ukuran mengenai nilai dasar dari suatu saham dan merupakan standar untuk mempertimbangkan apakah saham tersebut dinilai terlalu rendah (undervalued), wajar (fairly priced) atau dinilai terlalu tinggi (overvalued).

Dalam melakukan rencana investasi, investor sering dihadapkan pada pertanyaan mendasar, seperti apakah saham di pasar mencerminkan nilai sebenarnya dari perusahaan. Jika tidak, berapa nilai sebenarnya dari saham yang diperdagangkan tersebut. Nilai sebenarnya inilah yang disebut dengan nilai fundamental (fundamental value) atau nilai intrinsik (intrinsic value). Untuk analisis fundamental, ada beberapa pendekatan untuk menghitung nilai intrinsik saham, diantaranya adalah dengan menggunakan pendekatan PER. Pendekatan ini didasarkan pada perkiraan laba per saham di masa yang akan datang, sehingga dapat diketahui berapa lama investasi suatu saham akan kembali.

Model penilaian saham menyatakan bahwa nilai intrinsik suatu saham adalah nilai sekarang dari penjumlahan arus kas yang diharapkan diterima pemegang saham di masa datang. Arus kas tersebut didiskontokan dengan menggunakan tingkat biaya modal (cost of capital) yang mencerminkan adanya tingkat risiko saham yang bersangkutan. Mengingat arus kas yang diterima oleh pemegang saham dalam bentuk dividen, maka nilai intrinsik saham menunjukkan nilai sekarang dari seluruh dividen yang akan dibayar perusahaan tersebut di masa datang (Utama dan Santosa, 1998: 128).

Jika terjadi perbedaan antara harga saham dengan nilai intrinsik maka kaitan antara ketiga faktor fundamental di atas dengan harga saham dapat tidak sesuai dengan persamaan. Hal inilah yang antara lain ingin dilihat dalam penelitian ini, yakni melihat keterkaitan antara harga saham dan nilai intrinsik yang mencerminkan fundamental perusahaan guna melihat saham yang undervalued dan overvalued, dan melihat apakah terdapat perbedaan rata-rata return pada dua jenis saham tersebut.

Penelitian Utama dan Santosa (1999) dalam (Prasetya: 2000) dan Anugerah et al. (2001) menghasilkan kesimpulan bahwa portofolio yang dibentuk oleh price earnings ratio (PER), price to book value (PBV) dan price to sales ratio (PSR) yang rendah, memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan portofolio yang dibentuk oleh PER, PBV, dan PSR yang tinggi Berdasarkan hal tersebut maka hipotesis selanjutnya yang diajukan adalah:

HA3 : rata-rata return saham dari portofolio saham yang overvalued lebih kecil dibandingkan dengan portofolio saham undervalued

III. METODE PENELITIAN

3.1. Periode Pengamatan.

Penelitian ini melakukan pengamatan berdasarkan data keuangan dan harga saham per 31 Desember 1995 dan 1998, sedangkan untuk tingkat return saham digunakan return saham tahunan selama tahun 1996 dan 1998.

3.2. Pemilihan Sampel dan Sumber Data.

Pemilihan sampel saham yang akan diteliti didasarkan pada semua saham perusahaan yang terdaftar di BEJ, dengan kriteria sebagai berikut:

    1. Telah terdaftar pada Bursa Efek Jakarta dengan laba per lembar saham (EPS) (1994 – 1996) dan (1998-2000).

    1. Telah menerbitkan laporan keuangan secara terus menerus.

    1. Mempunyai EPS dan DPR yang positif berdasarkan laporan keuangan tanggal 31 Desember 1994-96 dan 31-12-1998-2000. Kriteria ini dimaksudkan untuk menghindari adanya PER yang bernilai negatif.

Sesuai dengan constant growth model dimana dalam jangka panjang tidak mungkin DPR dan tingkat pertumbuhan dapat dipertahankan melebihi 100%, maka selain kriteria di atas, untuk analisa regresi sampel juga harus memenuhi kriteria: DPR dan tingkat pertumbuhan di bawah 100% (Utama dan Santosa, 1998: 133 dan Anugerah et al. 2001).

Jenis data yang digunakan adalah data sekunder (archival) yang terdiri dari data perusahaan di BEJ yang memenuhi kriteria di atas, yakni:

  1. Laporan keuangan perusahaan tahun diperoleh dari buku Indonesian Capital Market Directory (ICMD)

  1. Harga penutupan saham pada tanggal 31 Desember yang diambil dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD) .

  1. Informasi fundamental perusahaan yang terdiri atas dividend payout ratio, growth, dan risk, hasilnya diperoleh dari perhitungan variabel-variabel yang bersumber pada laporan keuangan perusahaan yang terdapat pada Indonesian Capital Market Directory (ICMD).

3.3. Variabel Dependen dan Independen

  • Variabel Dependen
      1. Return (menguji hipotesis pertama) dengan rumus

        Return

        =

        Pt - Pt-1

        Pt-1

        ii. Price Earnings Ratio (PER), yang merupakan perbandingan antara harga saham dengan EPS menguji hipotesis kedua.

        • Variabel Independen

        i. Dividend Payout Ratio (DPR), yakni perbandingan besarnya dividen yang dibagi untuk setiap lembar saham (DPS) dengan earnings per lembar saham (EPS). Earnings per Share (EPS), merupakan rasio yang mengukur besarnya laba yang diberikan kepada pemegang saham, yang diperoleh dari pembagian laba bersih dengan jumlah saham (Kertonegoro: 1995, 111).

        ii. Growth (G), atau laju pertumbuhan diperkirakan dengan melihat rata-rata geometrik laju pertumbuhan EPS

        iii.Standard Deviation (SD), merupakan indikator risiko investasi diperoleh dari data historis EPS

        3.4. Model Analisis

        • Hipotesis konfirmasi diuji dengan persamaan :

        R = a + b PER,

        Dimana

        R = return

        PER = Price Earnings Ratio

        • Hipotesis kedua diuji dengan menggunakan persamaan regresi multivariate:

        PER = a0 + a1DPR+ a2G + a3SD

        Dimana,

        PER = Price Earnings Ratio,

        DPR = Dividend Payout Ratio,

        G = Growth

        SD = standar deviasi,

        a0, a1, a2, dan a3 = koefisien.

        • Hipotesis ketiga:
        1. Pengujian saham yang undervalued atau overvalued, diperoleh dengan membandingkan rasio PER aktual dan rasio PER prediksi yang diperoleh dari persamaan PER hasil regresi berganda. Data mengenai PER aktual diperoleh dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD), sedangkan PER prediksi diperoleh dari rumus PER yang dihasilkan oleh persamaan regresi berganda hipotesis kedua.

        1. Dibentuk portofolio undervalued atau overvalued, diperoleh dengan membandingkan rasio PER aktual dan prediksi yang diperoleh dari persamaan PER hasil regresi berganda.

        1. Selanjutnya dibentuk portofolio undervalued atau overvalued dimana portofolio undervalued terdiri dari 25% saham yang selisih nilai PER aktual dan prediksi terendah, sedangkan portofolio overvalued terdiri dari 25% saham yang selisih PER aktual dan prediksi terbesar. Penentuan secara arbiter tersebut dilakukan karena tidak ada batasan (cutoff) tertentu yang dapat digunakan untuk menentukan saham mana yang masuk dalam portofolio undervalued atau overvalued (Utama dan Santosa: 1998, 139 dan Anugerah et al. (2001). Kemudian dari portofolio tersebut diuji apakah rata-rata return saham keduanya mempunyai perbedaan yang signifikan, untuk itu perlu dilakukan uji t-test pada kedua portofolio tersebut.

        IV. ANALISIS

        4.1. Diskripsi Statistik

        Tabel 4.1

        Diskripsi Statistik PER, Dividend Payout Ratio,Growth, dan Standar Deviasi

        Variabel

        Rata-rata

        Deviasi Standar

        PER

        12,523

        11,6541

        Dividend Payout Ratio

        39,1276

        17,6521

        Growth

        -15,1289

        18,0123

        Risiko

        983,3123

        3.559,43211

        Sumber: Hasil Penelitian, 2003

        4.2. Pengujian Asumsi Klasik

        • Hasil Kenormalan Data

        Berdasarkan hasil uji kenormalan data dengan menggunakan t-test=1,214 dengan p-value=0,621 menunjukkan hasil tidak signifikan. Ketidaksignifikanan ini berarti data normal (Hair et al., 1995).

        • Pengujian Gejala Multikolinearitas

        Tabel 4.2

        Hasil Pengujian Multikolinearitas

        DPR

        G

        SD

        PER

        0, 57

        -0,234

        0,444

        Sumber: Hasil Penelitian, 2003

        Pengujian asumsi pertama dengan multikolinieritas, dilakukan dengan melihat korelasi Pearson Correlation antar variabel independen. Hasil perhitungan korelasi antar variabel independen tersebut dapat dilihat pada matrik korelasi yaitu data akuntansi dan data pasar. Dari hasil matrik korelasi tersebut ternyata tidak ada variabel independen yang koefisien korelasinya lebih besar atau sama dengan 0,80 dan VIF sekitar 1. Sehingga dapat dikatakan model regresi tersebut telah memenuhi asumsi pertama, yaitu tidak terjadi multikolinearitas antar variabel independen (multikol tidak berbahaya) (Mardiyah dan Indriantoro (2002)).

        • Pengujian Gejala Heteroskedasitas

        Uji gejala heteroskedasitas dilakukan dengan melihat t-test secara parsial. Hasil tes terhadap PER, dividend payout Ratio, Growth,dan risiko tidak signifikan pada a= 5% sehingga tidak terjadi heteroskedasitas.

        • Pengujian Gejala Autokorelasi

        Uji gejala autokorelasi dilakukan dengan melihat hasil Durbin Watson. Hasil Durbin-Watson (d) rata-rata d=2 dengan level signifikansi 0,05 (5%) dan k (regressor)=3 dan n (observasi)=60 diperoleh nilai dL=1,689; 4-dL= 2,311; dU=1,480; dan 4 dU=2,520. Dengan demikian D.W.U <>null hypothesis didukung dengan kata lain tidak ada korelasi serial diantara disturbance terms, sehingga variabel tersebut independen (nonautokorelasi) atau dengan rumus r=1-d/2, maka r=0, sehingga tidak terjadi autokorelasi serial.

        4.3. Hasil Pengujian Hipotesis

        • Hipotesis Pertama

        a. RETURN= 0,273 - 0,182PER + 1,032E-05LEV

        b. Rsquare = 0,342 artinya Return dipengaruhi oleh PER sebesar 34,2% sedangkan 65,8% dipengaruhi oleh variabel lain (error). Dengan melihat R2 =0,412 berarti model tersebut baik.

        1. Dengan melihat F-test=10,12 dengan p-value 0.000 berarti signifikan pada a=5%. Berarti model tersebut fit.

        Hipotesis H1A didukung artinya ada pengaruh antara return dengan PER. Penelitian ini mendukung Basu (1983) dalam Anugerah et al. (2001); Francis, 1991: 511; Utama dan Santosa (1998); Prasetya (2000), serta Anugerah et al. (2001) dan tidak mendukung penelitian Utama dan Santoso (1998) yang menyatakan bahwa b dan PER tidak mempunyai korelasi yang signifikan dengan return saham;

        • Hipotesis Kedua
        Tabel 4.3
        Hasil regresi antara Dividend Payout Ratio,Growth, dan Standar Deviasi

        Kons

        DPR

        G

        SD

        t-test (p-value)

        3,787

        (0,021)

        -2,636

        (0,001)

        -2,340

        (0,003)

        2,394

        (0,042)

        R2=0,543

        Adj R2=0,433

        F-test=14,24

        (0,000)

        Sumber: Hasil Penelitian, 2003

        Analisis yang dilakukan berdasarkan tabel 4.3 adalah sebagai berikut:

        1. PER= 3,122 + 2,012DPR– 0,384G + 3,755E-3SD

        2. Rsquare =0,543 artinya PER dipengaruhi oleh dividend pay out ratio, growth, dan standar deviasi sebesar 54,3% sedangkan 45,7% dipengaruhi oleh variabel lain (error). Dengan melihat R2 = 0,543 berarti model tersebut baik.

        3. Dengan melihat F-test = 14,24 dengan signifikan F=0.000 berarti signifikan pada a = 5%. Berarti model tersebut fit.

        Hipotesis H1B didukung artinya ada pengaruh dividend payout ratio (positif), growth (negatif), dan risiko (positif) terhadap PER. Penelitian ini mendukung penelitian Kisor dan Whitbeck (1963) dalam Manurung, 1997: 32, Malkiel dan Cragg (1968) dalam Prasetya (2000) dan Anugerah et al. (2000), serta Manurung (1997).Jika dilihat parsial: a) ada pengaruh positif antara dividend payout ratio terhadap PER artinya penelitian ini mendukung Lintner (1956), Gordon (1963), Bhattacharya (1979), Farrely et al. (1982), Mear dan Firth (1988), serta Capstaff (1992) jika dividend pay out ratio tinggi, maka risiko semakin rendah; b) ada pengaruh negatif antara growth terhadap PER artinya artinya penelitian ini mendukung penelitian Chung dan Charoenwong (1991) dalam Anugerah et al. (2001) serta Fijrijanti dan Hartono, (2000) bahwa perusahaan yang mempunyai kesempatan untuk tumbuh lebih mempunyai risiko saham sistematik yang lebih rendah. Penelitian ini tidak mendukung penelitian Anugerah et al. (2001).

        • Hipotesis Ketiga

        PER aktual diperoleh dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD). PER prediksi diperoleh dari rumus PER yang dihasilkan dari regresi hipotesis kedua, yaitu: PER= 3,122 + 2,012DPR– 0,384G + 3,755E-3SD

        Hasil t-test=3,234 dengan p-value=0,023. Berdasarkan portofolio yang terdiri dari saham-saham yang diperkirakan overvalued, dan portofolio lain yang diperkirakan undervalued, diperoleh rata-rata return portofolio yang overvalued sebesar -0,20 atau -20%, sedangkan portofolio yang undervalued sebesar 0,71 atau 71%. Jelas terlihat bahwa portofolio saham yang undervalued memiliki return saham yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan yang overvalued.

        Perbedaan return saham kedua portofolio tersebut, menunjukkan adanya kecenderungan bahwa harga saham bergerak ke arah nilai intrinsiknya selama tahun 1996 dan 2000. Saham yang overvalued, karena harganya relatif tinggi pada akhir 1995 dan 1998 maka pada tahun 1996 dan 2000 harga sahamnya turun menuju nilai intrinsiknya, sehingga menghasilkan return saham yang relatif rendah. Sebaliknya, karena harganya yang relatif rendah pada akhir tahun 1995 dan 1998 maka saham undervalued harganya cenderung naik menuju nilai intrinsiknya pada tahun 1996 dan 2000, sehingga return-nya menjadi sangat tinggi.

        Hasil t-test=3,234 dengan p-value=0,023 menunjukkan bahwa hipotesis HA3 didukung artinya rata-rata return saham undervalued lebih tinggi dari rata-rata return saham overvalued. Penelitian ini mendukung Utama dan Santosa (1999) dalam (Prasetya: 2000) serta Anugerah et al. (2001).

        Hipotesis H1C didukung artinya artinya rata-rata return saham undervalued lebih tinggi dari rata-rata return saham overvalued.

        V. SIMPULAN ,KETERBATASAN DAN IMPLIKASI

          1. SIMPULAN

        Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh PER terhadap variabel fundamental akuntansi yaitu: dividend payout ratio, growth, dan standar deviasi. Penelitian ini menggunakan 60 sampel. Pemilihan sampel didasarkan purposive sampling. Data yang digunakan yaitu data archival. Alat analisis yang digunakan untuk menguji hipotesis yaitu regresi berganda.

        Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa portofolio yang dibentuk oleh price earnings ratio (PER), price to bool value (PBV) dan price to sales ratio (PSR) yang rendah, memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan portofolio yang dibentuk oleh PER, PBV, dan PSR yang tinggi. Penelitian ini mendukung Utama dan Santosa (1999) dalam (Prasetya: 2000) serta Anugerah et al. (2001).

        Test BLUE terpenuhi yaitu: a) multikolinearitas tidak berbahaya dengan VIF rata-rata satu; b) homoskedasitas; dan c) autokorelasi artinya antara variabel satu dengan yang lain tidak terjadi ketergantungan (independen) dengan metoda Durbin-Watson mendekati angka 2 dan BG (The Breussh-Godfrey) r=0.

        5.2. KETERBATASAN

          1. Proksi risiko dengan standar deviasi

        b. Proksi growth dengan laju pertumbuhan pendapatan perusahaan earnings per share (EPS) yang belum banyak didukung teori.

          1. IMPLIKASI

        Hasil penelitian ini minimal dapat mendorong dan memicu dilakukan penelitian-penelitian berikutnya. Dengan mempertimbangkan keterbatasan-keterbatasan yang ada, diharapkan penelitian yang akan datang memperbaiki faktor-faktor:

        a. Menggunakan variabel fundamental yang lain, misal: current ratio, leverage,earnings variability, earning covariability, dan lain-lain.

        b. Menggunakan proksi risiko dengan beta akuntansi dan beta pasar.

        c. Proksi growth dengan IOS (investment opportunity Set) yang sudah banyak didukung teori.

        DAFTAR PUSTAKA :

        Anugerah, Nurul; Habbe, Abdul Hamid, dan Kadir,Natsir, (2001), "Korelasi antara Price Earnings Ratio (PER) dengan Return saham pada Perusahaan Go Public di BEJ,"SNA IV, Bandung.

        Beaver, W., Kettler, P. dan Scholes, Myron (1970), "The Association Between Market-Determined and Accounting Determined Risk Measures," Accounting Review, October, h. 654-682.

        Bhattacharya, S. (1979),"Imperfect Information, Dividend Policy, and ‘the Bird-in-the-Hand’ Fallacy," Bell Journal of Economics 10,h. 259-270.

        Capstaff, John (1992), "The Usefulness of UK Accounting and Market Data for Predicting the Perceived risk Class securities," Accounting and Business Research, Vol. 22, No. 87, h. 219-288.

        Elton E. J., Martin J. Grubber, (1994) Modern Portfolio Theory and Investment Analysis, Singapore: John Wiley & Sons, Inc., Fourth edition.

        Farrely, G., K. Ferris dan W. Reinhenstein (1985), "Perceived risk, Market Risk and Accounting Determined Risk Measures," The Accounting Review, No. 60, 2, April, h.278-288.

        Fijrijanti,Tetet dan Hartono, Jogiyanto (2000),"Analisis korelasi Pokok Realisasi Pertumbuhan dan kebijakan,Pendanaan dan Dividen,"SNA III, Jakarta.

        Francis,JC (1991), Investment Analysis and Management, Singapore: Mcgraw Hill Book Co.

        Gibson,Charles, (1992),Financial Analysis,Cininnati, Ohio:South-Western Publishing Co.

        Gordon M. J.(1963), "Optimal Investment and Financing Policy,"Journal of Finance, May, h. 264-272.

        Gujarati, D. N., (1995), Basic Econometrics, 3rd ed., Singapore: McGraw-Hill, Inc.

        Hair, Jr., J. F; R.E. Anderson; R.L. Tatham, dan W. C. Black (1995), Multivariate Data Analysis with Readings, Third Edition, New York, NY: Micmillan Publishing Co.

        Hanafi, Mamduh dam Halim,Abdul (1996), Analisa Laporan Keuangan, Yogyakarta:UPP-AMP YKPN.

        Hartono,JM (1998),Teori Portfolio dan Analisis Investasi, Yogyakarta:BPFE, Yogyakarta.

        Institute for Economic and Financial Report, Indonesian Capital Market Directory.

        Lintner, John, (1962),"Dividends, Earnings, Stock Prices, and the Supply of Capital to Corporation,"Review of Economics and Statistic, August, h. 243-269.

        _______, (1962),"Dividends, Earnings, Stock Prices, and the Supply of Capital to Corporation,"Review of Economics and Statistic, August, h. 243-269.

        MacLeod,K dan Bohen, Peir (1994),Financial Statement Analysis, United States of America:McGraw-Hill,Inc.

        Manurung,AH (1997),"Penilaian Harga saham," Usahawan no 04 Th XXVI, April, h. 32.

        Mardiyah, Aida Ainul, dan Indriantoro, Nur (2001),"Pengaruh Variabel Akuntansi dan Data Pasar Terhadap Perceived Risk (Risiko Persepsian) saham pada Perusahaan Publik Yang Terdaftar di BEJ," Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, vol. 4, No. 3, h. 277-302.

        Prasetya, Teguh (2000),"Analisa Rasio Keuangan dan Nilai Kapitalisasi Pasar Sebagai Predikso Harga Saham di BEJ pada Periode Bullish dan Bearish," SNA III, Jakarta.

        Purnomo, Y, (1998),"Keterkaitan Kinerja dan Harga Saham," Usahawan No. 12 Th XVII (Desember), h. 33-38.

        Subekti, Imam dan Kusuma,Indra W, (2000),Assosiasi Anatar Set Kesempatan Investasi dengan Kebijakan Pendanaan dan Dividen Perusahaan,serta implikasinya pada perubahan Harga Saham,"SNA III, Jakarta

        Utama, S dan Santosa,AYB, (1998),Kaitan antara Rasio Price/Book Value dan Imbal Hasil Saham pada BEJ,"JRAI, Vol. 1,No,1, h.127-140.

2 komentar: