photo KoleksiSkripsiHeader.gif HP CS Kami 0852.25.88.77.47(AS), 0857.0.1111.632(IM3), email:IDTesis@gmail.com

JURNAL BISNIS DAN EKONOMI, MARET 2001

PENENTUAN NILAI TUKAR MELALUI MODEL HYBRID

Oleh : Sri Nawatmi

STIE Stikubank Semarang

ABSTRAK

Studi ini hendak menganalisis penentuan nilai tukar melalui pendekatan moneter dengan Indonesia sebagai kasusnya, selama periode 1987.I hingga 1998.II. Dalam periode tersebut Indonesia menggunakan sistem nilai tukar mengambang.

Model yang digunakan adalah model hybrid yang merupakan penggabungan antara Flex- price Monetary Approach (FLMA) dan Sticky Price Monetary Approach (SPMA) yang dikembangkan oleh Frankel. Studi ini menggunakan Standard Error CorrectionModel sebagai alat analisis.

Hasil yang diperoleh dari studi ini adalah semua variabel yaitu jumlah uang beredar, pendapatan, harapan inflasi dan tingkat bunga riil berpengaruh terhadap nilai tukar baik pada jangka pendek meupun jangka penjang. Dari hasil studi ini nampak bahwa model yang cocok untuk Indonesia dalam penentuan nilai tukar adalah model hybrid karena semua variabel bebasnya signifikan.

I. PENDAHULUAN

Hampir semua negara menganut sistem perekonomian terbuka yaitu membuka diri terhadap sistem perdagangan dan sistem keuangan internasional. Hubungan perdagangan muncul dari kenyataan bahwa beberapa hasil produksi suatu negara diekspor ke negara lain sedangkan beberapa barang yang dikonsumsi di dalam negeri diproduksi di luar negeri dan diimpor.

Sektor perdagangan luar negeri menjadi penghubung antara perekonomian dalam negeri dengan perekonomian luar negeri. Hubungan tersebut menyebabkan adanya saling ketergantungan di antara berbagai perekonomian. Oleh karena itu, semakin terbuka perekonomian suatu negara , semakin pekalah kesejahteraannya terhadap kegiatan ekonomi yang terjadi di tempat lain.

Kecenderungan dunia yang semakin mengglobal akan menyebabkan perekonomian suatu negara semakin terintegrasi dengan perekonomian dunia, sesuai dengan kadar keterbukaan negara yang bersangkutan. Demikian pula yang terjadi di Indonesia. Akibat perekonomian yang semakin terbuka menyebabkan perekonomian Indonesia semakin banyak dipengaruhi oleh kondisi perekonomian dunia. Derajat keterbukaan tersebut akan membawa dampak pada perubahan nilai tukar, yang harusnya dijaga stabilitasnya.

Seperti halnya negara lain, Indonesia dalam melakukan perdagangan internasional memerlukan devisa (foreign exchange) berupa mata uang kuat (hard currency) yaitu mata uang yang bisa diterima secara luas sebagai bukti pembayaran internasional dan digunakan sebagai alat tukar dalam transaksi internasional (Kuncoro, 1996 : 18). Mata uang yang tergolong dalam kategori tersebut adalah dollar AS, Poundsterling, Yen dan Deutsche Mark. Oleh karena itu penting untuk mengetahui nilai tukar (exchange rate) valuta asing dalam perdagangan internasional.

Pada dasarnya jenis sistem nilai tukar yang utama meliputi, pertama, nilai tukar mengambang (floating exchange rate) yang terdiri dari : mengambang bebas (clean floating rates) ditentukan oleh mekanisme pasar tanpa campur tangan pemerintah dan mengambang terkendali (dirty floating rates), ada campur tangan pemerintah. Kedua, sistem nilai tukar tertambat (pegged exchange rates) yaitu menambatkan nilai mata uangnya dengan mata uang lain atau sekelompok mata uang. Ketiga, sistem tertambat merangkak (crawling pegs) yaitu melakukan sedikit perubahan dalam nilai mata uangnya secara periodik dengan tujuan untuk bergerak menuju suatu nilai tertentu pada rentang waktu tertentu. Keempat, sekeranjang mata uang (basket of currencies), menetapkan nilai mata uangnya berdasarkan sekeranjang mata uang. Kelima, nilai tukar tetap (fixed exchange rates) yaitu negara mengumumkan suatu nilai tukar tertentu atas mata uangnya dan menjaga nilai tukar ini dengan menyetujui untuk membeli atau menjual valas dalam jumlah tak terbatas pada nilai tukar tersebut (Kuncoro, 1996 : 27).

Fluktuasi yang dialami oleh nilai tukar rupiah akan berpengaruh pada aktifitas ekspor dan impor dan sebaliknya perubahan pada aktifitas tersebut juga bisa mempengaruhi nilai tukar rupiah. Maka, melalui sektor luar negeri tersebut akan dimulai proses kontaminasi perekonomian domestik oleh perekonomian luar negeri.

Daya tarik dari hubungan antara nilai tukar dan tingkat harga terletak pada perbedaan pandangan antar beberapa ekonom mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tukar. Satu sisi menganggap bahwa faktor penting yang mempengaruhi nilai tukar adalah jumlah uang beredar, tingkat output riil dan suku bunga (Mac Donald and Taylor, 1994). Di sisi lain menganggap variabel tingkat harga memegang peran penting dalam model (Tucker, 1991). Melalui dimensi lain, beberapa ekonom menganggap bahwa perilaku nilai tukar dipandang dari sudut moneter lebih mengacu pada keseimbangan jangka panjang (Flex-Price Monetary Approach) dan beberapa ekonom menganggap bahwa pengaruh jangka pendek, yang menempatkan variabel harga sebagai variabel yang kaku, tidak bisa diabaikan (Sticky-Price Monetary Approach).

Pendekatan moneter merupakan pengembangan konsep paritas daya beli dan teori kuantitas uang. Pendekatan tersebut menekankan bahwa ketidakseimbangan nilai tukar valuta asing terjadi karena ketidakseimbangan di sektor moneter yaitu adanya perbedaan antara jumlah uang beredar dengan permintaan uang (Musa, 1976 : 47).

II. SPESIFIKASI DATA DAN SUMBER DATA

Data yang digunakan meliputi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, jumlah uang beredar dalam arti luas (M2), pendapatan domestik bruto, indeks harga (CPI) dan tingkat bunga deposito di Indonesia dan Amerika Serikat. Secara ringkas, definisi variabel dasar analisis dan simbolisasi yang akan dipergunakan dalam perhitungan estimasi nanti adalah sebagai berikut :

  • Leri adalah logaritma dari nilai tukar rupiah terhadap US $ yang dihitung rata-rata (kode IFS rf)
  • DMI merupakan selisih antara jumlah uang beredar dalam arti luas antara Indonesia (LMI) dengan Amerika (LMA) dalam bentuk logaritma (kode IFS 34+35)
  • DYI adalah selisih antara GDP Indonesia (LYI) dengan GDP Amerika (LYA) atas dasar harga konstan 1990 dalam bentuk logaritma. Penyamaan tahun dasar dilakukan dengan splicing index dan sebaran data tahunan diubah menjadi data kuartalan (kode IFS 99bp). Sedangkan perubahan data tahunan menjadi data kuartalan mengikuti (Insukindro, 1990) : Qkt = 0.25 * Qt * [1-(k-2.5)(1-B)/ 4] ; k=1,2,3,4
  • DCI2 merupakan selisih dari ekspektasi CPI Indonesia (LCIF1) dengan ekspektasi CPI Amerika (LCAF). Data CPI ini menggunakan tahun dasar 1990=100, sehingga perlu penyesuaian tahun dasar untuk data yang memiliki tahun dasar berbeda yaitu dengan menggunakan splicing index (kode IFS 64)
  • ZI2 adalah selisih antara tingkat bunga riil Indonesia dengan Amerika dimana tingkat bunga riil Indonesia merupakan pengurangan antara tingkat bunga deposito (kode IFS 60l) dengan LCIF1 sedangkan tingkat bunga Amerika merupakan pengurangan antara tingkat bunga deposito dengan LCAF

Sumber data berasal dari International Financial Statistic (IFS) terbitan IMF dan Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia (SEKI) publikasi dari Bank Indonesia.

III.MODEL ANALISIS

Model yang digunakan dalam penelitian adalah :

DLERI = b0 + b1 DDMI + b2 DDYI + b3 DDCI2 + b4 DZI2 + b5 BDMI + b6 BDYI

+ b7 BDCI2 + b8 BZI2 + b9 ECT

Dalam studi ini alat analisis yang dipakai adalah Error Correction Model (ECM), yang mampu menjawab analisis jangka panjang dan jangka pendek sekaligus. Adapun tujuan dari penggunaan model ECM adalah untuk menghindari permasalahan non-stationary times series dan spurious correlation (Thomas, 1997 : 383). Di samping itu, ECM juga memiliki potensi untuk mengurangi adanya gejala multikolinearitas, yaitu berupa dioperasikannya variabel diferensial derajat pertama atau kedua. Pengoperasian bentuk diferensial ini akan memungkinkan hubungan kolinearitas antara variabel menjadi berkurang (Thomas, 1997 : 386-387). Model ECM yang akan diterapkan dalam studi ini adalah ECM standard yang diderivasi dari equilibrium error, yang identik dengan disturbance error pada model standard.

Sebelum sampai pada analisis ECM standard, ada beberapa tahap pengujian yang akan dilakukan, yaitu uji unit root (Phillips-Perron Test), dan uji cointegration (Johansen Test). Uji kointegrasi dilakukan untuk lebih memastikan adanya sifat kointegrasi baik pada order satu, maupun pada order empat.

IV.ANALISIS

Unit Root.Dari hasil pengujian stasionaritas variabel yang akan dieksploitasi dengan menggunakan uji unit root Phillips-Perron, dengan berbagai asumsi yang dikenakannya yaitu asumsi terbebas dari pengaruh trend (T,n), ada pengaruh trend dan intercept (C,n) dan adanya asumsi white-noise error term (N,n), didapatkan hasil sebagai berikut:

Tabel 1:

Uji Stasioneritas Phillips-Perron

Var.

(C,4)

(T,4)

(N,4)

Var

(C,4)

(T,4)

(N,4)

LCIF1

1.68*

-1.37*

3.03(A)

D(LCAF)

-5.14(A)

-6.63(A)

-1.75(C)

D(LMI)

-5,40(A)

-5,51(A)

-2,15(B)

D(LMA)

-6,43(A)

-6,40(A)

-5,09(A)

D(LYI)

-7,83(A)

-7,95(A)

-7,22(A)

D(LYA)

-12,1(A)

-12,3(A)

-10,0(A)

D(II)

-4,56(A)

-4,71(A)

-4,43(A)

D(IA)

-3,78(A)

-3,72(B)

-3,83(A)

D(LERI)

-3,88(A)

-4,27(A)

-3,68(B)

Keterangan :

  • Tanda signifikansi : (A) = 1%; (B) = 5%; (C) = 10%; (*) = tidak signifikan

Dari hasil uji unit roots tersebut nampak bahwa variabel-variabel yang akan diestimasi memiliki derajat stasionaritas yang berbeda-beda. Secara teoritis, hal tersebut akan berdampak pada sifat stasionaritas pada persamaan estimasi OLS yang akan dibentuk. Ketidaksamaan derajat stasioneritas dapat saja mengakibatkan persamaan estimasi OLS tetap memiliki sifat stasioneritas dalam persamaan (Ramanathan,1989; Gujarati,1995). Oleh karena itu, langkah selanjutnya adalah melakukan uji kointegrasi, yaitu uji stasioneritas pada persamaan estimasi.

Uji kointegrasi dapat dijadikan dasar penentuan persamaan estimasi yang digunakan memiliki keseimbangan jangka panjang atau tidak. Apabila persamaan estimasi lolos dari uji ini maka persamaan estimasi tersebut memiliki keseimbangan jangka panjang (Gujarati, 1995). Penelitian ini menggunakan uji kointegrasi Johansen, yang mendasarkan diri pada kointegrasi system equations. Dibandingkan dengan Engle-Granger CRDW, model Johansen tidak menuntut adanya sebaran data yang normal (Phillips, 1991; Mukherjee and Naka,1995). Adapun hasil dari uji kointegrasi dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2:

Rekapitulasi Uji Kointegrasi Johansen

Type Kointegrasi Johansen

Ho : No Cointegration Estimation

Ha : Cointegration Estimation

Test assume no deterministic trend in data : no intercept or trend in CE

Reject

Do not reject (5 cointegrating equations)

Test assume no deterministic trend in data : with intercept (no trend) in CE

Reject

Do not reject (6 cointegrating equations)

Test allows for linier deterministic trend in data : intercept (no trend) in CE

Reject

Do not reject (4 cointegrating equations)

Test allows for linier deterministic trend in data : intercept (no trend) in CE

Reject

Do not Reject (6 cointegrating equations)

Test allows for quadratic deterministic trend in data : intercept and trend in CE

Reject

Do not reject (5 cointegrating equations)

Dari hasil perhitungan kointegrasi Johansen dengan menggunakan berbagai asumsi terlihat bahwa hasil tersebut mempunyai konsistensi yaitu ada kointegrasi dalam sistem persamaan.

Error Correction Model (ECM). Setelah dilakukan uji diagnostistic dan dilakukan perbaikan terhadap hasil estimasi ECM, diperoleh formulasi model sebagai berikut :

d(leri1) = -6.725 - 0.191 d(dmi1) - 0.145 d(dyi1) - 0.300 d(dci21) + 0.004 d(zi21) -

(-5.593) (-3.689) (-2.476) (-1.725) (2.568)

0.826 dmi(-1) - 0.788 dyi1(-1) - 0.682 dci21(-1) - 1.002 zi21(-1) - 1.024 ect

(4.052) (2.734) (4.887) (4.308) (-4.289)

R-Sqr = 0,384

DWR = 1,632

F = 223,974

Interpretasi dari hasil estimasi model dapat dilakukan dengan pembedaan interpretasi antara jangka pendek (d(x)) dengan jangka panjang (x(-1)). Dari persamaan tersebut nampak bahwa nilai t statistik dari ECT adalah signifikan. Hal ini mengindikasikan sahihnya (validnya) spesifikasi model dan menunjukkan adanya kointegrasi antar variabel pada derajat keyakinan 0% dengan nilai koefisien sebesar 1.024.

Dari persamaan di atas nampak bahwa perilaku jangka pendek maupun jangka panjang dari variabel penawaran uang (DMI dan DMI(-1)) mampu menjelaskan variasi nilai tukar (LERI) dengan tingkat signifikansi yang tinggi, meskipun dengan tanda yang berlawanan dengan teori. Kondisi ini menunjukkan bahwa baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika sangat dipengaruhi oleh fluktuasi penawaran uang.

Variabel GDP riil (DYI dan DYI(-1)) dalam jangka pendek dan jangka panjang mampu menjelaskan variasi nilai tukar rupiah (LERI) dengan tingkat signifikansi yang tinggi diikuti tanda yang negatif atau sesuai dengan teori. Hal ini berarti bahwa baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang nilai tukar rupiah sangat dipengaruhi oleh GDP riil dengan arah yang berkebalikan (negatif).

Untuk variabel inflasi yang diharapkan (DCI21), dalam jangka pendek dan jangka panjang juga signifikan dengan tanda yang negatif. Kondisi ini menunjukkan bahwa baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang nilai tukar rupiah sangat dipengaruhi oleh harapan inflasi. Sedangkan variabel tingkat bunga riil dalam jangka pendek maupun jangka panjang berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah dengan tingkat signifikansi yang tinggi dan arah yang positif untuk jangka pendek namun negatif untuk jangka panjang.

Beberapa hal yang penting untuk diungkapkan dalam temuan empiris ini adalah variabel penawaran uang dimana variabel tersebut memainkan peranan yang nyata dalam jangka pendek dan jangka panjang. Dengan kata lain menunjukkan bahwa dalam jangka pendek dan jangka panjang keterkaitan nilai tukar rupiah akan sangat dipengaruhi oleh fluktuasi penawaran uang yang dicerminkan oleh M2. Meskipun arahnya bertentangan dengan teori baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Hal ini bisa terjadi karena Indonesia mengalami defisit transakasi berjalan dimana defisit tersebut ditutup dengan hutang lear negeri. Jadi peningkatan penawaran uang berasal dari peningkatan hutang luar negeri sehingga terjadi peningkatan kegiatan di sektor riil, dimana menyebabkan terjadinya peningkatan ekspor yang akan mnyebabkan terjadinya apresiasi nilai tukar.

Pengaruh pendapatan riil terhadap nilai tukar rupiah terjadi baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang dengan arah yang sesuai dengan teori yaitu adanya peningkatan pendapatan akan mengakibatkan apresiasi mata uang rupiah.

Adapun variabel harapan inflasi memainkan peranan yang nyata baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang yang berarti bahwa nilai tukar rupiah sangat dipengaruhi oleh harapan inflasi. Akan tetapi pengaruh harapan inflasi terhadap nilai tukar mempunyai arah yang berlawanan dengan teori. Hal ini terjadi karena nilai tukar yang dianut tidak fleksibel, sehingga teori paritas daya beli tidak berlaku. Semakin fleksibel atau semakin mendekati mekanisme pasar maka pengaruh harga terhadap nilai tukar akan sesuai dengan teori. Sedangkan Indonesia menganut sistem kurs mengambang bebas baru pada Agustus 1997, sehingga yang terjadi adalah adanya peningkatan harapan inflasi menyebabkan terjadinya apresiasi nilai tukar.

Variabel tingkat bunga baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang mempunyai pegaruh yang nyata terhadap nilai tukar. Akan tetapi pengaruh tersebut berbeda arah antara jangka pendek dan jangka panjang. Untuk jangka pendek pengaruhnya negatif yang artinya kenaikan tingkat bunga domestik mendorong lembaga keuangan untuk menyalurkan dana ke pasar uang. Pada saat yang sama, suku bunga yang lebih tinggi tidak mendorong masyarakat untuk memegang uang (kondisi inflasioner). Akibatnya kelebihan keseimbangan uang muncul di pasar domestik sehingga mendorong depresiasi mata uang. Pada jangka panjang arahnya negatif karena kenaikan tingkat bunga domestik menyebabkan investor merasa lebih untung bila memindahkan modal ke Indonesia. Hal ini mendorong masuknya modal asing dan menimbulkan apresiasi mata uang domestik.

Dari tiga pendekatan moneter yang ada (FLMA, SPMA dan Hybrid) nampak bahwa untuk kasus Indonesia, pendekatan yang cocok adalah pendekatan Hybrid karena dari keempat variabel yang ada, semua signifikan.

V. PENUTUP

Di Indonesia, variabel yang berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah pada jangka pendek adalah variabel penawaran uang, pendapatan riil dan harapan inflasi dengan arah negatif, yang berarti bahwa jika terjadi kenaikan pada variabel-variabel tersebut akan menyebabkan terjadinya apresiasi nilai tukar rupiah. Sedangkan variabel tingkat bunga riil berpengaruh positif terhadap nilai tukar rupiah yang berarti bahwa, adanya kenaikan tingkat bunga riil akan menyebabkan terjadinya depresiasi nilai tukar rupiah.

Pada jangka panjang, variabel yang berpengaruh terhadap nilai tukar riil adalah penawaran uang, pendapatan riil, harapan inflasi dan tingkat bunga riil dengan arah yang negatif. Artinya jika terjadi kenaikan pada variabel-variabel tersebut maka akan menyebabkan terjadinya apresiasi nilai tukar rupiah.

KEPUSTAKAAN :

Caramazza, Francesco and Jahangir Aziz, 1997, Fixed or Flexible ? Getting The Exchange Rate Right in The 1990's, World Economic Outlook, Chapter 4

Copeland, L.S., 1994, Exchange Rate and International Finance, Second Edition, Westley Publishing Company

Domowitz, I and I. Elbadawi,1987, An Error Correction Approach to Money Demand : The Case of Sudan, Journal of Development Economics, 26 : 257-275

Dornbusch, R. and D. Jaffe, 1987, Purchasing Power Parity and Exchange Rate Problem Introduction, Journal of International Economics, 8 : 157-161

Dornbusch, R. and Fischer, 1993, Makroekonomi, Erlangga, Jakarta

Frenkel J.A., 1987, Purchasing Power Parity Doctrinal Perspective and Evidence from The 1920, Journal of International Economics, 8 : 196-199

Gemmel, N., 1994, Ilmu Ekonomi dan Pembangunan - Beberapa Survey, LP3ES, Jakarta

Gujarati, D.N., 1995, Basic Econometrics, Mc. Graw Hill, Singapore

Hallwood C.P. and R. Mac Donald, 1994, International Money and Finance, Blackwell Publisher Ltd

IMF, 1998, IMF Concludes Articles IV Consultation with Thailand, Information Notice (PIN) No. 98/44

Insukindro, 1992, Pembentukan Model Dalam Penelitian Ekonomi, Jurnal Ekonomi dan Bisnis, No. 1 Tahun VII, Yogyakarta, hal.1-17

Intriligator, M.D., R.G. Bodkin, and C. Hsiao, 1996, Econometric Models, Techniques, and Applications, Prentice - Hall International Inc

Jepma, C.J., H. Jager, and E. Kamphnis, 1996, Introduction to International Economics, Longman Publishing, New York

Judge, G. (et al), 1985, The Theory and Practice of Econometrics, John Wiley and Sons

Kalamotousakis, G.J., 1978, Exchange Rate and Prices : The Histoorical Evidence, Journal of International Economics, 8:163-167

Kuncoro, M., 1996, Manajemen Keuangan Internasional : Pengantar Ekonomi dan Bisnis Global, BPFE -UGM, Yogyakarta

Levi, M.D., 1990, International Finance : The Market an Financial Management of Multinational Business, Mc. Graw - Hill

Mac Donal, R. and M.P. Taylor, 1993, The Monetary Approach to The Exchange Rate : Rational Expectation, Long run Equilibrium and Forecasting, IMF Staff Paper, 40: 89-107

Mukherjee, T.K. and A. Naka,1995, Dynamic Relationas Between Macroeconomic Variables and The Japanese Stock Market An Application of A Vector Error Correction Model, The Journal of Financial Research, Vol. XVIII No. 2 : 223 - 237

Nusantara, A., 1999, Pendekatan Moneter Global Terhadap Neraca Pembayaran Indonesia 1985.I-1997.IV : Aspek Aktiva Luar Negeri, Tesis Program Pascasarjana UGM, Tidak Dipublikasikan

Pindyck, R.S. and D.L. Rubinfield, 1991, Econometric Model and Economic Forecast, Third Edition, Mc. Graw-Hill, International Edition, Singapore

Ramanathan, R., 1992, Introduction Econometrics with Application, Harcout Brace Javonavich, International Edition

Sukarna Wiranto, 1997, Krisis Rupiah Dalam Perspektif Ekonomi Internasional, Jurnal Ekonomi Politik, Vol. 2 Hal. 1-17

Thomas, R.L., 1993, Introductory Econometrics, Longman Group Ltd

Thomas, R.L., 1997, Modern Econometrics : An Introduction, Addison-Wesley

Wuri, J., 1997, Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kurs, Tesis Program Pasca Sarjana UGM, Tidak Dipublikasikan

Yanagihara, T. and S. Sambommatsu, 1996, Exchange Rate Fluctuations and Asian Responses : Growth Strategy In The Age of Global Money, Institute of Developing Economi

Tidak ada komentar: