photo KoleksiSkripsiHeader.gif HP CS Kami 0852.25.88.77.47(AS), 0857.0.1111.632(IM3), email:IDTesis@gmail.com

JURNAL BISNIS DAN EKONOMI, MARET 2001

PENGARUH RASIO PROFITABILITAS DAN LEVERAGE TERHADAP RETURN SAHAM PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BEJ

Oleh : Sunarto

STIE Stikubank Semarang

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh rasio profitabilitas dan leverage terhadap return saham di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Sampel penelitian yang digunakan adalah kelompok perusahaan manufaktur dengan kategori perusahaan yang sahamnya selalu aktif diperdagangkan di BEJ selama periode pengamatan (31 Desember 1998 sampai dengan 2000). Jumlah sampel yang diperoleh berdasarkan kategori tersebut berjumlah 92 saham perusahaan. Data sekunder diperoleh dari JSX Statistic dari beberapa publikasi (1998-2000). Teknik regresi berganda (multiple regression) digunakan untuk teknik analisis ini dengan uji hipotesis t-test dan F-test pada level of significance 5% (a = 0.05). Dari hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa rasio profitabilitas (ROA dan ROE) dan leverage (DTA) signifikan mempengaruhi return saham di BEJ untuk periode 1998/1999 dan 1999/2000. Dari hasil pengujian juga ditemukan bahwa ROA secara konsisten dominan mempengaruhi return saham perusahaan sektor manufaktur. Hasil penelitian ini (terutama ROA) konsisten dengan temuan penelitian sebelumnya; namun untuk variabel DTA tidak konsisten. Keterbatasan hasil penelitian ini terletak pada jumlah sampel yang digunakan; dimana sampel hanya terbatas pada sektor manufaktur dengan periode pengamatan tahunan (berdasar laporan akhir tahun perusahaan).

1. LATAR BELAKANG

Informasi yang diperlukan oleh para investor di pasar modal tidak hanya informasi yang bersifat fundamental saja, tetapi juga informasi yang bersifat teknikal. Informasi yang bersifat fundamental diperoleh dari kondisi intern perusahaan , dan informasi yang bersifat teknikal diperoleh dari luar perusahaan, seperti ekonomi, politik, finansial, dan faktor lainnya. Informasi yang diperoleh dari kondisi intern perusahaan yang lazim digunakan adalah informasi laporan keuangan. Informasi fundamental dan teknikal tersebut dapat digunakan sebagai dasar bagi investor untuk memprediksi return, risiko atau ketidak pastian, jumlah, waktu, dan faktor lain yang berhubungan dengan aktivitas investasi di pasar modal.

Dari berbagai rasio keuangan terdapat beberapa rasio dan informasi keuangan perusahaan yang dapat digunakan untuk memprediksi return saham. Robbert Ang (1997) menyatakan bahwa rasio keuangan dikelompokkan dalam lima jenis yaitu: (1) rasio likuiditas; (2) rasio aktivitas; (3) rasio profitabilitas; (4) rasio solvabilitas (leverage); dan (5) rasio pasar. Rasio profitabilitas terdiri dari tujuh rasio yaitu: gross profit margin (GPM), net profit margin (NPM), operating return on assets (OPROA), return on asset (ROA) atau sering disebut return on investment (ROI), return on equity (ROE), dan operating ratio (OPR). Penelitian tentang hubungan rasio profitabilitas yang dikaitkan dengan return saham masih sangat terbatas. Penelitian yang dilakukan oleh Syahib Natarsyah (2000) meneliti tentang "analisis pengaruh beberapa faktor fundamental dan risiko sistematik terhadap harga saham", menunjukkan bahwa ROA secara signifikan berpengaruh positif terhadap harga saham di pasar sekunder. Hasil penelitiannya konsisten dengan peneliti terdahulu (Silalahi, 1991).

Penelitian sejenis juga dilakukan oleh Sugeng Sulistiono 1994; Sulaiman 1995; Leki Rofinus 1997 (dalam Syahib Natarsyah, 2000) menunjukkan bahwa ROA mempunyai pengaruh yang signifikan secara parsial terhadap harga saham. Bahkan Silalahi, 1991 (dalam Syahib Natarsyah, 2000) ROA ternyata mempunyai pengaruh yang dominan. Sementara hasil penelitian Rina Trisnawati (1999) menunjukkan bahwa ROA tidak signifikan berpengaruh terhadap return saham di pasar perdana. Hasil penelitian Rina Trisnawati (1999) juga tidak sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa semakin tinggi ROA berarti kinerja perusahaan semakin baik dan return semakin tinggi; dan penelitian tersebut bukan di pasar sekunder tetapi di pasar perdanas, sehingga menunjukkan hasil yang berbeda dengan peneliti lainnya.

Rasio solvabilitas (leverage ratio) dibedakan menjadi delapan rasio yaitu: debt ratio, debt to equity ratio, long-term debt to equity ratio, long-term debt to capitalization ratio, times interst earned, cash flow interest coverage, cash flow to net income, and cash return on sales (Robbert Ang, 1997: hal. 18.34). Sementara itu, data yang terkait dengan leverage ratio ditunjukkan oleh Indonesian Capital Market Directory besarnya debt to equity ratio dan leverage ratio. Leverage ratio menunjukkan besarnya debt ratio yang merupakan rasio dari total debt to total assets.

Di sisi lain, Mas’ud Machfoedz (1994) menemukan bahwa dari rasio profitabilitas yang ada ternyata hanya tiga rasio keuangan yang signifikan berhubungan dengan prediksi laba untuk periode 1 tahun ke depan. Ketiga rasio tersebut adalah yaitu rasio GPS, NIS, dan NINW. GPS sering disebut sebagai gross profit margin (GPM), NIS sering disebut sebagai net profit margin (NPM), dan net income to net worth (NINW) sering disebut sebagai return on equity (ROE). Lebih jauh, Machfoedz, Mas’ud (1994) menunjukkan bahwa dari ketiga rasio profitabilitas tersebut yang mempunyai hubungan sangat signifikan (1%) dengan prediksi earning adalah net income to net worth (NINW) atau return on equity (ROE). Penelitian sejenis sampai saat ini belum pernah dilakukan replikasi; bahkan penelitian yang menghubungkan antara ROE dengan harga atau return saham belum ada bukti empiris yang dihasilkan oleh peneliti sebelumnya. Oleh karenanya, perlu dilakukan perluasan penelitian yang menghubungkan antara Return on Equity (ROE) terhadap return saham.

Penelitian tentang hubungan leverage dengan ramalan laba dilakukan oleh Meily Surianti dan Nur Indriantoro (1999) yang meneliti tentang ketepatan ramalan laba pada prospectus penawaran umum perdana, menemukan bahwa semakin besar rasio leverage menunjukkan semakin kecil kesalahan ramalan laba yang terjadi. Penelitian sejenis tentang hubungan leverage dengan return saham sampai saat ini belum pernah dilakukan replikasi.

2. PERUMUSAN MASALAH

Berdasar uraian dan hasil-hasil penelitian sebelumnya serta teori yang mendasarinya menunjukkan masih adanya research problem tentang hubungan atau pengaruh rasio profitabilitas, terutama return on asset (ROA) atau sering disebut return on investment (ROI). Permasalahan penelitian tersebut muncul karena hasil penelitian yang dilakukan oleh Rina Trisnawati (1998); Syahib Natarsyah (2000); dan Silalahi (1991) masih menunjukkan hasil yang kontradiktif.

Sementara penelitian yang menghubungkan antara return on equity (ROE) dengan return saham belum dilakukan replikasi. Demikian pula penelitian yang menghubungkan antara rasio leverage dengan return saham juga belum dilakukan replikasi.

Berdasar uraian tersebut, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini terdiri dari tiga permasalahan yaitu: (1) Bagaimana pengaruh rasio profitabilitas (terutama ROI dan ROE) dan rasio leverage terhadap return saham; dan (2) Faktor fundamental manakah yang dominan berpengaruh terhadap return saham.

  1. TINJAUAN PUSTAKA

Berdasar laporan keuangan diketahui kinerja keuangan perusahaan dengan cara melakukan analisis laporan keuangan melalui perhitungan rasio-rasio keuangan. Analisis rasio merupakan bentuk atau cara yang umum digunakan dalam analisis laporan finansial. Dengan kata lain, diantara alat-alat analisis yang selalu digunakan untuk mengukur kekuatan atau kelemahan yang dihadapi perusahaan di dibidang keuangan, adalah analisis rasio (financial ratio analysis). Rasio merupakan alat yang dinyatakan dalam artian relatif maupun absolut untuk menjelaskan hubungan tertentu antara faktor yang satu dengan faktor yang lain dari suatu laporan finansial. Rasio dapat dihitung berdasarkan financial statement yang telah tersedia yang terdiri dari neraca (balance sheet) dan rugi-laba (income statement).

Rasio keuangan yang sering digunakan untuk memprediksi return saham dikelompokkan dalam lima jenis yaitu: (1) rasio likuiditas; (2) rasio aktivitas; (3) rasio rentabilitas/ profitabilitas; (4) rasio solvabilitas (leverage); dan (5) rasio pasar. Selanjutnya, rasio profitabilitas juga dikelompokkan menjadi tujuh rasio yaitu: gross profit margin (GPM), net profit margin (NPM), operating return on assets (OPROA), return on asset (ROA) atau sering disebut return on investment (ROI), return on equity (ROE), dan operating ratio (OPR).

Return on asset (ROA) yang sering disebut juga sebagai return on investment (ROI) digunakan untuk mengukur efektifitas perusahaan di dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktiva yang dimilikinya. Rasio ini merupakan rasio yang terpenting diantara rasio rentabilitas/ profitabilitas yang lainnya. ROA atau ROI diperoleh dengan cara membandingkan antara net income after tax (NIAT) terhadap total asset. Semakin besar ROA atau ROI menunjukkan kinerja yang semakin baik, karena tingkat kembalian semakin besar (Robbert Ang, 1997: hal. 18.32 – 18.33). Secara matematis ROA dapat dirumuskan sebagai berikut:

NIAT

ROA = ¾¾¾¾¾¾

Total Assets

NIAT merupakan pendapatan bersih sesudah pajak, tetapi kalau ada keuntungan hak minoritas harus ikut diperhitungkan. Total assets merupakan total asset pada periode laporan akhir tahun.

Rasio kedua dari rasio profitabilitas adalah ROE yaitu rasio antara laba setelah pajak atau net income after tax (NIAT) terhadap total modal sendiri (equity) yang berasal dari setoran modal pemilik, laba tak dibagi dan cadangan lain yang dikumpulkan oleh perusahaan. Semakin tinggi ROE menunjukkan semakin efisien perusahaan menggunakan modal sendiri untuk menghasilkan laba atau keuntungan bersih. Return on Equity (ROE) digunakan untuk mengukur tingkat kembalian perusahaan atau efektivitas perusahaan di dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan ekuitas (shareholders’ equity) yang dimiliki oleh perusahaan.ROE dapat diformulasikan sebagai berikut:

NIAT

ROE = ¾¾¾¾¾¾

Equity

ROE = (NIAT – Dp)/ Shareholders’ Equity, dimana

NIAT: laba bersih setelah pajak (net income after tax);

Dp :dividen saham prioritas (preferred stock); dan Shareholders’ Equity merupakan shareholders’ equity pada periode pengamatan akhir tahun.

Rasio keuangan yang ketiga adalah rasio solvabilitas yang juga disebut sebagai leverage ratio dibedakan menjadi delapan rasio yaitu: debt ratio, debt to equity ratio, long-term debt to equity ratio, long-term debt to capitalization ratio, times interst earned, cash flow interest coverage, cash flow to net income, and cash return on sales (Robbert Ang, 1997: hal. 18.34).

Debt ratio atau lazim disebut sebagai leverage ratio digunakan untuk mengukur tingkat leverage (penggunaan hutang) terhadap total assets yang dimiliki perusahaan . Rasio ini diukur dengan cara membandingkan antaratotal debts terhadap total assets. Debt ratio mempunyai dampak yang buruk terhadap kinerja perusahaan, karena tingkat hutang yang semakin tinggi berarti beban bunga akan semakin besar yang berarti mengurangi keuntungan. Sebaliknya, tingkat debt ratio yang kecil menunjukkan kinerja yang semakin baik, karena menyebabkan tingkat kembalian yang semakin tinggi (Robbert Ang, 1997: hal. 18.34 – 18.35). Secara matematis rasio leverage (dalam hal ini debt to total assets/ DTA) dapat diformulasikan sebagai berikut:

Total Debts

DTA = ¾¾¾¾¾¾

Total Assets

Sedangkan konsep return saham dapat digunakan berbagai konsep antara lain return realisasi (actual return) yang merupakan capital gain/ capital loss yaitu selisih antara harga saham periode saat ini (Pt) dengan harga saham pada periode sebelumnya (Pt-1). Secara matematis actual return diformulasikan sebagai berikut:

(Pt – Pt-1)

Act. Ret.= ¾¾¾¾

Pt-1

Act. Ret. = return realisasi (actual return) atau capital gain/ loss;

Pt = harga saham periode saat ini yang ditunjukkan dengan indek harga saham (IHSt);

Pt-1 = harga saham periode saat ini yang ditunjukkan dengan indek harga saham (IHSt-1).

Penelitian Sebelumnya

Penelitian yang berkaitan dengan rasio profitabilitas (ROA dan ROE) dan rasio leverage yang dihubungkan dengan prediksi pendapatan dan return saham telah dilakukan oleh beberapa peneliti, seperti ditunjukkan pada tabel 1.

Berdasar tabel 1 nampak bahwa rasio-rasio keuangan terutama rasio profitabilitas (ROE) berhubungan positif dengan prediksi earning. Sedangkan rasio profitabilitas (ROA/ ROI) tidak mempengaruhi return saham. Sementara itu, berdasarkan teori menyatakan bahwa semakin tinggi ROA/ ROI menunjukkan kinerja perusahaan semakin baik, dan diprediksi berpengaruh prositif terhadap return saham.

Tabel 1:

Hasil Penelitian Hubungan antara Rasio Keuangan dengan

Return Saham

Rasio Keuangan

Peneliti

Hasil Temuan

Konsistensi Hasil

  1. GPS

  2. NIS

  3. NINW/ROE

  1. ROA/ROI

  1. Leverage

Machfoed, Mas’ud (1994)

Rina Trisnawati (1998)

Syahib Natarsyah (2000)

Silalahi (1991)

Meily Surianti dan Nur Indriantoro (1999)

Bermanfaat untuk memprediksi earning satu tahun ke depan.

Tidak berpengaruh ter-hadap return saham

ROA signifikan ber-pengaruh positif ter-hadap harga saham

ROA mempunyai pe-ngaruh yang dominan terhadap harga saham

Leverage berhubu-ngan negatif dengan ramalan laba.

Belum ada replikasi te-rutama dikaitkan de-ngan return saham

Belum ada replikasi

Tidak konsisten dengan Rina Trisnawati (1999)

Konsisten dengan Syahib Natarsyah (2000)

Belum ada replikasi

Sumber: Hasil-hasil penelitian yang diolah.

Penelitian tentang hubungan return on assets (ROA) dengan return saham tersebut dilakukan oleh Rina Trisnawati (1998) yang menemukan bahwa return on assets (ROA) tidak mempengaruhi return saham.

Penelitian sejenis sampai saat ini belum dilakukan replikasi, sehingga diperlukan juga penelitian tentang pengaruh ROA terhadap return saham. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Silalahi (1991) dan Syahib Natarsyah (2000) menunjukkan bahwa ROA secara signifikan berpengaruh terhadap harga saham, bahkan Silalahi menunjukkan bukti bahwa ROA merupakan faktor yang dominan mempengaruhi harga saham. Berdasar bukti empiris tersebut menunjukkan bukti yang berbeda-beda.

Sementara itu, penelitian tentang pengaruh rasio leverage terhadap return saham, diteliti oleh Meily Surianti dan Nur Indriantoro (1999) yang menemukan bahwa rasio leverage mempunyai hubungan negatif dengan return saham. Hasil ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa semakin tinggi rasio leverage menunjukkan tingkat kembalian yang semakin kecil, dan berakibat menurunkan return saham. Namun penelitian sejenis belum pernah dilakukan replikasi.

Kerangka Pemikiran Teoritis

Pengaruh rasio profitabilitas (terutama ROE dan ROI) dan rasio leverage secara bersama-sama terhadap return saham dapat digambarkan dalam gambar 1 sebagai berikut:

Gambar 1:

Pengaruh ROE, ROI, dan Rasio Leverage terhadap Return Saham

ROI

RETURN

SAHAM

ROE

Rasio Leverage

4. HIPOTESIS

Berdasar gambar 1 tersebut maka hipotesis yang diajukan terdiri dari

dua hipotesis alternatif (H1 dan H2) yaitu:

H1 : Rasio profitabilitas (ROA dan ROE) dan rasio leverage (DTA) secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap return saham industri manufaktur di BEJ.

H2 : ROA merupakan rasio keuangan yang dominan mempengaruhi return saham, karena ROA merupakan earning power keuangan perusahaan.

5. METODE PENELITIAN

Jenis dan Sumber Data :

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data yang diperoleh dari Capital Market Directory, Jakarta Stock Exchange (JSX) Statistic selama 3 (tiga) tahun terakhir yaitu laporan keuangan per 31 Desember 1998, dan 1999 berupa data rasio keuangan terutama rasio profitabilitas (ROA dan ROE) dan rasio leverage (debt to total assets). Demikian pula data index saham individual (sebagai dasar perhitungan return) digunakan data sejak 31 Desember 1998, 1999, dan 2000 untuk menghitung return pada tahun 1999 dan 2000.

Sampel yang dipillih adalah saham-saham perusahaan sektor manufaktur yang sahamnya selalu terdaftar dan aktif diperdagangkan di BEJ selama 1998 s/d 2000. Dari kriteria tersebut jumlah jumlah sampel terpilih 92 perusahaan dari 104 perusahaan yang terdaftar di BEJ.

6. TEKNIK ANALISIS.

Untuk menguji hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda dengan persamaan kuadrat terkecil (OLS). Adapun bentuk model yang digunakan dari model dasar penentuan return saham adalah sebagai berikut:

Rs = a + b1 ROA + b2 ROE + b3 DTA + e;

dimana:

Rs : Return saham;

ROA: Rasio Pendapatan terhadap Total Aktiva,

ROE: Rasio Pendapatan terhadap Total Equity,

DTA: Rasio Total Utang terhadap Total Assets, dan

e: error-terms (variabel gangguan/ residual).

Besarnya konstanta tercermin dalam "a", dan besarnya koefisien regresi dari masing-masing variable independen ditunjukkan dengan b1, b2 dan b3. Rasio profitabilitas diukur dengan ROA dan ROE; sedangkan rasio leverage diukur dengan debt to total assets. Rasio profitabilitas dan leverage merupakan variable independen; sedangkan variabel dependennya adalah return saham.

7. HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Pengujian untuk Periode 1998 – 1999.

Pertumbuhan return on assets (ROA) dari 92 perusahaan sampel menunjukkan bahwa rata-rata return on assets (ROA) pada 1998-1999 sebesar 16,91 dan 1999-2000 sebesar –4,111 atau rata-rata pertumbuhan ROA selama periode tersebut sebesar 6,40 juta rupiah. Sedangkan rata-rata return on equity (ROE) pada periode 1998-1999 sebesar 26,43 dan periode 1999-2000 sebesar –45,387 atau rata-rata pertumbuhan ROE sebesar 35, 90 juta rupiah. Sementara itu, rata-rata debt to total assets (DTA) pada periode 1998-1999 sebesar –0,024 dan periode 1999-2000 sebesar 0,0418 atau pertumbuhan rata-rata DTA sebesar 0,011 juta rupiah.

Dari hasil pengujian normalitas terhadap data tahun 1998 menunjukkan bahwa data dari keempat variabel tersebut (ROA, ROE, DTA, return) pada tahun 1998 - 1999 ternyata tidak normal, karena rasio skewness lebih besar daripada ± 2,00 (lihat tabel 2). Oleh karenanya perlu dilakukan perbaikan data dengan menggunakan uji-z untuk mengetahui kenormalan data dari setiap perusahaan. Hasil uji-z ditunjukkan pada lampiran 4; dan dihasilkan data yang tidak normal adalah pada N: 26, 31, 35, 39, 54, 59, 67, 79 ,85, 89, dan 92. Dengan demikian data yang dapat digunakan untuk memprediksi return saham untuk periode 1998 – 1999 dari ketiga faktor fundamental sejumlah 81 perusahaan.

Tabel 2:Perhitungan Rasio Skewness Periode 1998-1999

image\ebx_1942353353.gif

Sementara itu hasil pengujian multikolinearitas yang didasarkan pada nilai variance inflation factor (VIF) menunjukkan bahwa ketiga variabel independen tidak terjadi multikolinearitas (lihat tabel 3), karena ketiga variabel tersebut nilai VIF-nya berada di bawah 5 (1.769; 1.028; 1.740) sehingga ketiga variabel tersebut dapat digunakan untuk memprediksi return saham.

Tabel 3: Hasil Perhitungan VIF

image\ebx_-2043674951.gif

Dari hasil analisis regresi menunjukkan bahwa ketiga variabel independen (ROA, ROE, dan DTA) secara bersama-sama (simultan) signifikan berpengaruh terhadap return saham. Hal ini ditunjukkan dengan hasil signifikansi uji-F (sig.F Change) sebesar 0.011 dimana angka ini berada di bawah level of significance 5% (lihat tabel 4).

Tabel 4:

Hasil Uji-F

image\ebx_940307641.gif

Dengan demikian hipotesis pertama (H1) yang menyatakan bahwa ROA, ROE, dan DTA secara bersama-sama (simultan) signifikan berpengaruh terhadap return saham, diterima (untuk periode 1998-1999).

Sedangkan secara parsial dari masing-masing variabel independen tidak ditemukan pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen. Hal ini ditunjukkan dengan hasil t-test (lihat tabel 3) untuk variabel ROA, ROE, dan DTA masing-masing menghasilkan significance-t (Sig.t) sebesar 0.063; 0.083; dan 0.790; dimana angka ini berada di atas level of significance yang digunakan yaitu 5%. Dengan kata lain variabel ROA dan ROE singnifikan berpengaruh terhadap return saham pada level kurang dari 10% (0,063 dan 0,083).

Sementara itu, hipotesis kedua (H2) yang menyatakan bahwa ROA merupakan variabel yang dominan mempengaruhi return saham, diterima. Hal ini ditunjukkan dengan beta standar dimana ROA mempunyai beta standar tertinggi (- 0,247) dibanding dengan variabel ROE dan DTA (lihat tabel 3).

Hasil Pengujian untuk Periode 1999 – 2000.

Pengujian Asumsi Klasik

Pada periode 1999 – 2000 pengujian normalitas data menunjukkan bahwa hanya variabel ROA yang datanya normal karena rasio skewness-nya di bawah 2,00 ; sedangkan variabel lainnya berada di atas 2,00 ( lihat tabel 5 ) ; sehingga variabel lainnya (ROE, DTA, dan Return) perlu dilakukan uji-z. Berdasar hasil perhitungan nilai-z yang menunjukkan bahwa data yang tidak normal dari variabel ROE, DTA, dan Return adalah data pada N: 26, 39, 48, 67, 70, 73, dan 78. Dengan demikian data yang normal adalah 85 perusahaan.

Sementara hasil pengujian multikolinearitas menunjukkan bahwa ketiga variabel independen tidak terjadi multikolinearitas, karena ketiga variabel tersebut nilai VIF-nya berada di bawah 5 (1.831;1.047;dan 1.854) sehingga ketiga variabel tersebut dapat digunakan untuk memprediksi return saham (lihat tabel 6).

Tabel 5:

Hasil Perhitungan Rasio Skewness

(untuk Periode 1999 – 2000)

image\ebx_411291655.gif

Tabel 6:

Hasil Perhitungan VIFimage\ebx_-1103765549.gif

Dari hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa ketiga variabel independen (ROA, ROE, dan DTA) secara bersama-sama (simultan) tidak signifikan berpengaruh terhadap return saham. Hal ini ditunjukkan dengan hasil signifikansi uji-F (sig.F Change) sebesar 0.232 dimana angka ini berada di atas level of significance 5% (lihat tabel 7). Dengan demikian hipotesis pertama (H1) pada periode 1999 – 2000 yang menyatakan bahwa ROA, ROE, dan DTA secara bersama-sama (simultan) berpengaruh terhadap return saham, ditolak. Sedangkan secara parsial dari masing-masing variabel independen menunjukkan bahwa hanya ROA yang signifikan berpengaruh terhadap return saham. Hal ini ditunjukkan dengan hasil t-test (lihat tabel 6) untuk variabel ROA menghasilkan significance-t (Sig.t) sebesar 0.043 (di bawah 0,05); sedangkan ROE dan DTA masing-masing sebesar 0.500; dan 0.126; dimana angka ini berada di atas level of significance 5%.

Tabel 7:

Hasil Perhitungan Regresi

image\ebx_628476382.gif

Sementara itu, hipotesis kedua (H2) yang menyatakan bahwa ROA merupakan variabel yang dominan mempengaruhi return saham, diterima. Hal ini ditunjukkan dengan beta standar dimana ROA mempunyai beta standar tertinggi (0,301) dibanding dengan variabel ROE dan DTA (lihat tabel 6).

Persamaan garis regresi dapat dirumuskan sebagai berikut:

Return = - 0,495 + 0,0042 ROA – 0,00089 ROE + 0,219 DTA

Berdasar hasil perhitungan dari kedua periode tersebut (1998 –1999) dan ( 1999 – 2000 ) menunjukkan bahwa ROA secara signifikan berpengaruh terhadap return saham dengan level of significancy kurang dari 0,10 (untuk periode 1998 – 1999) dan signifikan pada level of significancy kurang dari 0,05 (untuk periode 1999 – 2000).

Disamping itu juga ditemukan bahwa ROA secara konsisten untuk dua periode tersebut merupakan variabel yang dominan mempengaruhi return saham (yang ditunjukkan dengan beta standar terbesar) dibanding dengan ROE dan DTA.

8. PEMBAHASAN

Berdasar hasil pengujian tersebut nampak bahwa analisis terhadap data periode 1998 untuk ROA, ROE, dan DTA serta data periode 1998/1999 untuk perhitungan return saham menunjukkan bahwa ketiga variabel independen (ROA, ROE, dan DTA) secara bersama-sama secara signifikan berpengaruh terhadap return saham. Sedangkan secara parsial dari masing-masing variabel independen tidak ditemukan pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen pada level 5%; namun pada level 10% ROA dan ROE signifikan mempengaruhi return saham.

Berdasar hasil pengujian terhadap data periode 1999 untuk ROA, ROE, dan DTA serta data periode 1999/2000 untuk perhitungan return saham menunjukkan bahwa ketiga variabel independen (ROA, ROE, dan DTA) secara bersama-sama tidak signifikan berpengaruh terhadap return saham.

Sedangkan secara parsial dari masing-masing variabel independen menunjukkan bahwa hanya ROA yang signifikan berpengaruh terhadap return saham. Hal ini ditunjukkan dengan significance-t (Sig.t) sebesar 0.043 (di bawah 0,05); sedangkan ROE dan DTA tidak signifikan.

Dari hasil pengujian dua periode (1998 dan 1999) untuk data fundamental dan periode 1999 – 2000 (return saham) menunjukkan bahwa ROA merupakan variabel yang dominan mempengaruhi return saham. Hasil ini menunjukkan bahwa ROA secara konsisten merupakan variabel fundamental yang dominan mempengaruhi return saham dibanding dengan ROE dan DTA. Dari hasil ini nampak bahwa dari ketiga rasio fundamental tersebut hanya ROA mampu memprediksi return saham untuk periode satu tahun ke depan. Hal ini konsisten dengan hasil penelitian sebelumnya (Syahib Natarsyah, 2000 dan Silalahi, 1991). Sedangkan rasio leverage (DTA) tidak signifikan mempengaruhi return saham. Hasil ini tidak konsisten dengan Meily Surianti & Nur Indriantoro (1999).

9. KESIMPULAN

Berdasar hasil analisis yang telah dibahas tersebut dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  • Dari hasil pengujian hipotesis pada periode 1998 – 1999 menunjukkan bahwa bahwa ketiga variabel independen (ROA, ROE, dan DTA) secara bersama-sama secara signifikan berpengaruh terhadap return saham. Hal ini ditunjukkan dengan hasil signifikansi uji-F (sig.F Change) sebesar 0.011 dimana angka ini berada di bawah level of significance yang digunakan yaitu 5% (0,05). Sedangkan secara parsial menunjukkan bahwa variabel ROA dan ROE secara signifikan berpengaruh terhadap harga saham pada level of significance kurang dari 10%; dan variabel DTA ternyata tidak signifikan berpengaruh terhadap harga saham.

  • Pada periode 1998 – 1999 juga menunjukkan bahwa ROA merupakan variabel yang dominan mempengaruhi return saham. Hal ini ditunjukkan dengan beta standar dimana ROA mempunyai beta standar tertinggi

(- 0,247) dibanding dengan variabel ROE dan DTA.

  • Dari hasil pengujian tersebut menunjukkan bahwa pada periode 1998 –1999 variabel ROA, ROE dan DTA secara bersama-sama (simultan) mempunyai kemampuan untuk memprediksi harga saham untuk periode satu tahun ke depan.

  • Sementara pada periode 1999 – 2000 ROA, ROE, dan DTA secara bersama-sama (simultan) tidak signifikan mempengaruhi harga saham. Sedangkan secara parsial dari masing-masing variabel independen menunjukkan bahwa hanya ROA yang signifikan berpengaruh terhadap harga saham dengan signifikansi kurang dari 5%. Dari hasil pengujian tersebut juga menunjukkan bahwa ROA merupakan variabel yang dominan mempengaruhi harga saham dengan beta standar tertinggi (0,301) dibanding dengan variabel ROE dan DTA.

  • Faktor fundamental yang terdiri dari ROA, ROE, dan DTA terbukti bahwa hanya ROA yang bermanfaat untuk memprediksi return saham untuk periode satu tahun tahun ke depan. Hal ini terbukti bahwa dengan melakukan analisis setiap periode terhadap sampel perusahaan menunjukkan bahwa untuk periode 1998 dan 1999 ROA secara konsisten mempengaruhi return saham untuk prediksi 1999 dan 2000. Dengan kata lain analisis fundamental lebih bermanfaat dengan menggunakan data cross-sectional daripada time-series. Hasil ini juga didukung oleh penelitian sebelumnya (Mas’ud Machfoedz, 1994; dan Natarsyah, 2000). Namun hasil ini tidak konsisten dengan Rina Trisnawati (1998).

10. SARAN

Berdasar hasil pengujian menunjukkan bahwa ketiga variabel independen mampu menjelaskan harga atau return saham untuk periode satu tahun. Sedangkan untuk periode lebih dari satu tahun (1998 – 2000) yang dihitung secara rata-rata tidak mampu menjelaskan return saham perusahaan kelompok manufaktur.

Atas dasar hasil pengujian tersebut disarankan untuk dilakukan perluasan penelitian dengan menambah jumlah sampel dengan data cross-sectional untuk periode 2000 – 2001. Disamping itu juga perlu dikembangkan variabel dari faktor fundamental lain seperti PER, PBV dan faktor fundamental lainnya. Penelitian untuk periode mendatang juga disarankan untuk melakukan replikasi terutama variabel rasio leverage terhadap return saham, karena masih menunjukkan hasil yang berbeda.

REFERENSI :

Fabozzi, Frank J. (dalam Tim Penterjemah Salemba Empat). (1999). "Manajemen Investasi". Salemba Empat dan Simon & Schuster (Asia) Pte.Ltd. Prentice-Hall.

Francis, Jack Clark. (1988). "Investment: Analysis and Management". Fourth Edition. McGraw-Hill International-Finance Series.

Jogiyanto, H.M. 1998. "Teori Portofolio dan Analisis Investasi". Edisi Pertama. BPFE UGM. Yogyakarta.

Machfoed, Mas’ud. (1994). "Financial Ratio Analysis and The Prediction of Earnings Changes in Indonesia". Kelola, No.7/III/1994: pp. 114-134.

Meily Surianti dan Nur Indriantoro (1999) "Ketepatan Ramalan Laba pada Prospectus Penawaran Umum Perdana". Jurnal Riset Akuntansi Indonesia.

Rina Trisnawati. (1999). "Pengaruh Informasi Prospektus pada Return Saham di Pasar Modal". Simposium Nasional Akuntansi II dan Rapat Anggota II. Ikatan Akuntan Indonesia, Kompartemen Akuntan Pendidik, 24-25 September: pp. 1-13.

Robbert Ang. 1997. "Buku Pintar: Pasar Modal Indonesia". Mediasoft Indonesia.

Shahib Natarsyah. (2000). "Analisis Pengaruh Beberapa Faktor Fundamental dan Risiko Sistematik Terhadap Harga Saham: Kasus Industri Barang Konsumsi yang Go-Public di Pasar Modal Indonesia". Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol. 15, No. 3: pp. 294-312.

Sufiyati dan Ainun Na’im. (1998). "Pengaruh Leverage Operasi dan Leverage Finansial terhadap Risiko Sistematik Saham: Studi pada Perusahaan Publik di Indonesia". Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol. 13, No. 3: pp. 57-69.

Teguh Prasetyo. (2000). "Analisa Rasio Keuangan dan Nilai Kapitalisasi Pasar sebagai Prediksi Harga Saham di BEJ pada Periode Bullish dan Bearish". Simposium Nasional Akuntansi III. IAI-Kompartemen Akuntan Pendidik. Agustus: pp. 652-695.

Tidak ada komentar: