photo KoleksiSkripsiHeader.gif HP CS Kami 0852.25.88.77.47(AS), 0857.0.1111.632(IM3), email:IDTesis@gmail.com

JURNAL BISNIS DAN EKONOMI, MARET 2000

PENDEKATAN EKONOMETRI DAN MODEL EKONOMETRI

Oleh : Agung Nusantara

STIE Stikubank Semarang

ABSTRAK

Kehidupan adalah sebuah fakta yang sangat kompleks. Di sisi lain manusia perlu memiliki alat untuk memahami fakta tersebut, untuk kemudian dikomunikasikan. Untuk itu perlu simplifikasi fakta tanpa terlalu jauh meninggalkan sifat realistiknya. Simplifikasi fakta disebut dengan model, yang memiliki beberapa jenis. Salah satu jenis model adalah model algebraic yang kemudian diadopsi oleh cabang ilmu ekonomi, yaitu ekonometrika.

Dengan segala fleksibilitas yang dimiliki ekonometrika, para pengguna ekonometrika tetap harus waspada terhadap kemungkinan kehilangan sifat realistik dalam memahami real world system.

" the whole of science is nothing more than the refinement of everyday thinking" (Albert Einstein)

Ekonometrika: Konsep Dasar

Sebagai awal pemahaman konsep ekonometrika sebagai cabang dari ilmu ekonomi, kita tidak bisa lepas dari estimasi empiris yang berkaitan dengan hubungan ekonomi. Kata ‘metric’ dalam econometrics merupakan kata yang diarahkan untuk memberi pengertian tentang permasalahan pengukuran, sehingga ekonometrika, perhatian utamanya diarahkan pada pengukuran hubungan ekonomi. Ekonometrikamemerlukan teori ekonomi, model ekonometrika, fakta, data yang relevan, dan teori statistik yang selanjutnya dipadukan dengan teknik ekonometrika, untuk mengukur dan menguji hasil pengamatan empiris yang berkaitan dengan hubungan antara variabel-variabel ekonomi.

Dalam gambar 1 disarikan tentang pendekatan ekonometrika. Terdapat dua kandungan utama dalam studi ekonometrika, yaitu teori dan fakta, dan pada akhirnya ekonometrika adalah kombinasi antara kedua kandungan tersebut. Dalam perkembangan selanjutnya, terdapat perbedaan penekanan dari sejumlah studi ekonomi, yang pertama mengarah pada The Theory-Only School dan The Facts-Only School (Intriligator, Bodkin, and Hsiao, 1996: 2-4).

Mashab Theory-Only memberikan perhatian utamanya pada implikasi deduktif yang murni dari suatu teori atau sistem postulasi yang muncul dalam fenomena ekonomi. Sebagai contoh, matematika ekonomi, yang didalamnya terdapat bahasan tentang teori permintaan neoklasik, produksi, dan general equilibrium. Di sisi lain, mashab Facts-Only, lebih memfokuskan pada pengembangan dan perbaikan data atau ukuran-ukuran dalam ekonomi. Sebagai contoh, statistik ekonomi, yang di dalamnya terlibat aktifitas-aktifitas pengumpulan data, baik dalam skala makro maupun mikro.

Sebagaimana dapat diduga, kedua sisi ekstrem tersebut tidak dapat mempertahankan posisinya secara meyakinkan. Mashab pertama, the Theory-only School, atau Pure Theory, hanya sedikit memiliki kandungan kebenaran dalam konteks empiris. Di sisi lain, the Facts-only School tidak dapat serta merta mengatakan bahwa pembuktian secara empiris memiliki kemampuan untuk mengembangkan kebutuhan teoritis, dan juga kajian empiris membutuhkan panduan bangunan teoritis. Sebagai sebuah mashab, the Facts-only, tidak dapat "speak for them selves", sehingga harus di-interpretasikan berdasarkan struktur pemikiran dan bangun teori yang memadai. Ekonometrika digunakan untuk menjembatani kedua mashab tersebut, dengan menggunakan dasar teori dan fakta, memanfaatkan teknik statistika, untuk mengestimasi hubungan antar variabel ekonomi.

Teori merupakan salah satu komponen penting dalam studi ekonometrika, tetapi teori masih memerlukan pengembangan lebih lanjut untuk dapat digunakan dalam ekonometrika. Sebagaimana tergambar dalam Gambar 1, bangunan teori perlu disesuaikan dengan sistem model yang akan dibangun, untuk selanjutnya terbentuk model ekonometri yang memungkinkan dilakukannya pengukuran dan pengujian empiris.

Gambar 1:

Pendekatan Ekonometrika

FACTS

THEORY

STATISTICAL THEORY

DATA

MODEL

ECONOMETRIC MODEL

REFINE DATA

ECONOMETRIC TECHNIQUES

ESTIMATION OF THE ECONOMETRIC MODEL WITH THE REFINE DATA USING ECONOMETRIC TECHNIQUES

POLICY EVALUATION

FORECASTING

STRUCTURAL ANALYSIS

Sumber: Intriligator, Bodkin, and Hsiao, 1996: 2.

Kandungan penting lainnya dalam studi ekonometrika adalah pengumpulan fakta, yang menghubungkan antara dunia nyata dengan fenomena teoritis yang akan dibangun. Fakta akan menentukan karakterisitik data yang akan diekplorasi, selanjutnya dengan mengacu pada persyaratan teknis ekonometrika, data harus memenuhi kaidah-kaidah yang dibutuhkan oleh metode analisis yang digunakan.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ekonometrika memiliki dua sudut pandang yang berbeda. Dipandang dari sudut teoritis, ekonometrika dapat dipandang sebagai penerapan data riil (real-world data) dalam teori ekonomi, sedangkan apabila dipandang dari sudut fakta, ekonometrika dapat dianggap sebagai cara yang sistematis untuk mempelajari atau mengamati sejarah ekonomi.

Tujuan Pokok Ekonometrika

Sebagaimana tergambar dalam gambar 1, ekonometrika, pada akhirnya, mengarah pada tiga tujuan utama, yaitu structural analysis, forecasting, dan policy evaluation. Suatu aktifitas ekonometris dapat memiliki satu, dua atau semua tujuan yang dimiliki ekonometrika.

Structural Analysis. Menurut definisinya, structural analysis dapat diartikan sebagai bentuk investigasi persoalan utama, yang melatar belakangi hubungan timbal balik dalam suatu sistem yang akan diamati, untuk dapat menjelaskan dan memahami suatu fenomena (Intriligator, Bodkin, Hsiao, 1996: 491). Analisis struktural ini digunakan untuk mengestimasi model ekonometri pada bentuk pengukuran kuantitatif. Analisis struktural ini menjembatani upaya membandingkan dua atau beberapa rival theories pada sebuah fenomena yang sama, dalam usaha untuk memahami fakta yang ada melalui pengukuran, pengujian statistik, dan pengujian hubungan teoritis. Hasil dari analisis tersebut sangat mungkin berbeda untuk setiap studi yang dilakukan. Sebagai contoh studi yang banyak menimbulkan kontroversi adalah pengukuran dan pengujian terhadap hubungan teoritis antara tingkat inflasi dengan tingkat pengangguran (Phillips curve), atau hubungan teoritis antara tingkat pertumbuhan ekspor dengan tingkat pertumbuhan ekonomi (inward looking vs outward looking).

Forecasting. Secara umum dapat didefinisikan sebagai peramalan dengan menggunakan dasar periode yang telah terjadi untuk periode yang akan datang. Forecasting merupakan bentuk penggunaan lebih lanjut dari hasil estimasi model ekonometri untuk memprediksi variabel tertentu secara kuantitatif melewati waktu yang digunakan sebagai sampel atau out of sample. Forecasting atau peramalan mungkin dapat dianggap sebagai dasar dari bentuk kebijakan atau tindakan, sebagai contoh, pembelian barang input dan tambahan tenaga kerja pada suatu perusahaan sangat mungkin didasarkan atas forecasting penjualan yang punya kecenderungan meningkat dalam beberapa periode terakhir. Forecasting yang dilakukan lebih merupakan forecasting dalam interval forecast, namun dapat juga dikembangkan menjadi point forecast dengan tingkat keyakinan tertentu. Secara grfais dapat digambatkan sebagai berikut:

Gambar 2:

Point Forecast dan Interval Forecast

AYt+h l

MYt+h l interval

forecast

yt l

Byt+h l

T = Waktu

T0 = saat ini Ti = i periode setelah

T0

Keterangan: Ayt+h = batas atas forecasting

Myt+h= nilai tengah forecasting

Byt+h = batas bawah forecasting

Policy Evaluation. Dapat dianggap sebagai pemanfaatan model estimasi ekonometri untuk menentukan pilihan dari beberapa alternatif kebijakan. Salah satu bentuk pendekatan yang sering diperkenalkan dalam matematika ekonomi adalah objective function yang mengalami proses optimasi dengan berbagai macam jenis kendala (Lagrange Multiplier, Kuhn-Tucker Multiplier, Linear Programming, Non-linear Programming). Pendekatan lainnya adalah dalam bentuk simulasi terhadap berbagai alternatif kebijakan yang mungkin dilakukan. Hasil forecasting dari variabel yang relevan disimulasikan dalam model untuk menentukan kebijakan mana yang pantas untuk dipilih (lihat gambar 3). Hasilnya dapat juga sejalan dengan pengalaman masa lalu dalam menjalan kebijakan terpilih atau bahkan bertolak belakang dengan pengalaman masa lalu. Sebagaimana halnya dengan analisis struktural, hasil evaluasi kebijakan dapat juga menimbulkan kontroversi.

Gambar 3:

Pendekatan Ekonometrika untuk Evaluasi Kebijakan

OPTIMAL POLICY

OBJECTIVES (targets or Social Welfare Function)

PROBLEM AREA

ECONOMETRIC MODEL

SIMULATED OUTCOMES

CHOICE OF POLICY

POLICY MAKER

POTENTIAL POLICIES

Sumber: Intriligator, Bodkin, Hsiao, 1996: 563

Ketiga tujuan pokok ekonometri tersebut memiliki kaitan yang sangat erat. Analisis struktural digunakan untuk forecasting dengan memanfaatkan model ekonometri, sedangkan policy evaluation menggunakan model ekonometri untuk mnciptakan conditional forecast.

Model dan Beberapa Jenis Model

Menurut definisi, model adalah representasi actual phenomenon sebagai sebuah sistem atau proses. Actual phenomenon yang direpresentasikan oleh model memiliki tujuan agar dapat dijelaskan atau diuraikan, agar dapat diprediksi, dan agar dapat dikontrol, yang semuanya terkait dengan tujuan pokok ekonometrika.

Aktifitas modelling, yang sering juga dikatakan sebagai the art of model building, merupakan bagian integral yang sangat penting dalam ilmu pengetahuan, baik yang bersifat alamiah maupun sosial, sebab sistem riil yang bekerja di dunia ini berada di bawah kondisi yang sangat kompleks. Sebuah sistem, baik itu berupa percepatan gerakan elektron, gravitasi bumi, berbagai macam harga yang terbentuk diberbagai macam pasar, dan penentuan pendapatan nasional merupakan sistem-sistem aktual yang ada di realitas kehidupan ini, sangatlah komplek untuk menggantungkan diri hanya pada representasi sederhana berupa model.

Model-model yang dimiliki oleh berbagai disiplin ilmu seringkali melakukan kompromi antara aspek realitas dan aspek keteraturan atau keterkontrolan (manageability). Model tersebut harus merupakan representasi yang reasonable dari sebuah sistem yang kompleks dan realistik bila dikaitkan dengan unsur-unsur pokok fenomena yang direpresentasikan. Di sisi lain, sifat manageability terkait dengan pengamatan atau kesimpulan yang diperoleh dari aktifitas observasi sistem yang diamati. Agar sebuah sistem yang kompleks dapat diarahkan ke bentuk yang manageability, diperlukan proses idealisasi, yang meliputi proses eliminasi faktor-faktor yang bersifat extraneous dan penyederhanaan proses yang bekerja pada sistem tersebut. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa proses idealisasi membuat model menjadi menurun derajad realistiknya, yang selanjutnya model memerlukan sebuah proses yang berfungsi untuk meyakinkan adanya sifat realistik. Model, dalam segala bentuknya, harus secara konstan berada pada sisi luar sifat unrealistic, sehingga pengguna model harus mewaspadai dan bersikap kritis bahwa model harus berada dalam lingkungan real world system sekalipun dalam bentuk yang sederhana.

Gambar 4:

Black Box

Inputs Outputs

System

Keseimbangan antara sifat realistik dan manageability merupakan esensi dari sebuah model yang baik. Secara lebih detil lagi dapat dikatakan bahwa sebuah model yang baik adalah yang mampu memberikan gambaran detil antar elemen-elemen yang ada dalam sistem dan mampu mengarahkan perhatian, dengan menggunakan model yang bersangkutan, ke arah pemahaman yang intensif terhadap real world system. Dan pada saat yang sama, kita harus punya keyakinan yang kuat bahwa model yang bersangkutan cukup sederhana dan terkontrol sehingga researchable.

Gambar 3 menunjukkan secara sederhana sebuah model yang lebih menekankan pada aspek manageability tanpa memberikan gambaran khusus terhadap pemahaman detil sistem yang dianalisis. Gambaran ekstrem tersebut sering disebut dengan black box., yaitu sebuah upaya untuk mengamati realitas melalui proses input dan output yang selanjutnya digunakan untuk menjelaskan sistem. Proses penjelasan tersebut sering juga diberi istilah descriptive model. Dengan mengamati proses dua arah input-output dan kemudian melakukan elaborasi model, akan menghasilkan analytic model, atau white box model, yang secara eksplisit mencermati hubungan timbal balik antara input-output.

Ada beberapa tipe model yang dapat dikemukakan dalam tulisan ini, yaitu model verbal atau logical, model physical, model geometric dan model algebraic. Model verbal adalah model yang dapat dikatakan sangat sederhana. Model tersebut menggunakan pendekatan analogi verbal, seperti metafora dan kiasan, yang hasil proses modellingnya sering disebut dengan paradigma.

Dalam konteks ilmu ekonomi, paradigma penting yang muncul di awal perkembangan ilmu ekonomi oleh Adam Smith adalah paradigma the pin factory, dan the invisible hand. Pada paradigma pertama Smith menjelaskan tentang peran penting division of labor, dengan memberikan metafor pabrik jarum. Sementara itu, paradigma kedua digunakan sebagai model untuk merepresentasikan sebuah kondisi yang ideal yang mampu memberikan kontribusi optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Smith percaya bahwa desentralisasi perekonomian akan menciptakan kemakmuran, karena manusia, bila mendasarkan diri pada desentralisasi, akan berhadapan dengan mekanisme pasar atau sistem harga yang alamiah. Dengan demikian Smith memiliki model verbal apabila terdapat invisible hand yang mampu mengatur keputusan individu untuk meraih general welfare, maka perekonomian akan mampu mendorong masyarakat menuju welfare society.

Model physical merupakan upaya merepresentasikan system yang ada dalam bentuk gambaran fisik. Sebuah contoh sederhana yang ada dalam keseharian kehidupan adalah model dalam pengertian fashion. Peragawati atau peragawan adalah model dari sesuatu yang mewakili image dari suatu merek pakaian yang ingin menggambarkan karakteristik calon pemakainya. Contoh lain yang lebih saintis adalah upaya para astronomer untuk memodelkan sistem matahari melalui analogi fisika, seperti proton, neutron, dan elektron, yang memiliki lintasan gerak atau orbit. Namun demikian, model physical ini tidak hanya dapat diterapkan pada fenomena fisika. Fenomena nonfisika, seperti variabel makroekonomi, national product, aggregate consumption, aggregate investment, dan money supply, dapat direpresentasikan melalui model hydraulic di bidang fisika untuk memberikan gambaran monetary flows dalam perekonomian.

Salah satu model penting dalam pengembangan ilmu ekonomi adalah geometric model yaitu upaya merepresentasikan real world system melalui grafik (gambar 3).

Gambar 5 :

Penentuan Keseimbangan Pendapatan Nasional

C,Y,Z 45°

C+ Z

Z

Z C

Ce=Autonomous Consumption

Y

Ye= Equilibrium National Income

Keterangan : C = Consumption Expenditure
Z = Autonomous Expenditure

Y = National Income

Model geometris ini sebenarnya merupakan model yang banyak bermanfaat dalam menjelaskan hubungan antara variabel. Namun, model geometris ini memiliki kelemahan utama di ketidak mampuannya untuk menggambarkan banyak variabel. Grafik hanya memiliki kemampuan untuk menggambarkan tiga variabel dengan menggunakan grafik tiga dimensi.

Model algebraic melakukan representasi real world system dengan menggunakan sistem persamaan aljabar. Sebagai contoh dari model keseimbangan pendapatan nasional di atas dapat dikonversikan dalam model algebraic.

C = C(Y) …………………………………………………………….……… (1

Y = C + Z ……………………………………………………………………. (2

Melalui substitusi persamaan (1) dan (2) diperoleh:

Ye = C(Ye) + Z ….……………………………………………………… (3

Salah satu keuntungan model algebraic (aljabar) ini adalah mudah untuk melakukan manipulasi model. Sebagai contoh, melalui proses diferensiasi, persamaan (3) dapat dimanipulasi untuk menjadi Marginal Propensity to Consume (MPC).

dYe/dZ = dC/dYe . dYe/dZ + 1 ……………………………………………… (4

Atau: dYe/dZ = 1/(1-MPC) ………………………………………………………… (5

Maka persamaan (5) tidak lagi sekedar menunjukkan angka MPC tapi sudah berkembang menjadi angka multiplier. Keuntungan lain model aljabar terhadap model geometris ini adalah sangat mudah untuk menambah variabel.

Bila sebuah model aljabar memiliki kandungan beberapa persamaan aljabar, maka model aljabar tersebut disebut dengan structural equations. Model tersebut menentukan nilai variabel lainnya, yang disebut dengan endogenous variables, yang dalam kasus tadi adalah konsumsi dan pendapatan nasional. Di samping itu, model juga memiliki exogenous variables, yaitu variabel yang berpengaruh terhadap model tapi tidak tergambar dalam model. Dalam kasus tadi yang berlaku sebagai exogenous variable adalah exogenous expenditure, yaitu segala jenis pengeluaran yang dilakukan masyarakat di luar pengeluaran konsumsi. Sebuah model aljabar juga mengandung parameter, yang secara umum akan diestimasi dalam proses analisis ekonometri. Parameter dalam kasus di atas adalah fungsi konsumsi.

Model Ekonometri

Model ekonometri merupakan salah satu alat analisis yang memiliki tipe model aljabar, atau secara khusus disebut dengan model stochastic, yang mengandung satu atau lebih variabel random. Model tersebut direpresentasikan dalam bentuk sistem yang mencakup hubungan stochastic antar variabel yang ada dalam sistem. Model makroekonomi di atas dapat dijadikan sebagai contoh model ekonometri.

C(Y) = a + bY ………………………………..…………………………………. (6

a dan b merupakan parameter. Parameter b memiliki interpretasi sebagai MPC yang diasumsikan konstan.

dYe/dZ = 1/(1-b) ………………………………..……………………….. (7

Seringkali dalam model ekonometri digunakan asumsi linearitas pada parameternya dimaksudkan sebagai upaya simplifikasi dan terkontrol (manageability). Ada tiga point penting berkenaan dengan asumsi linearitas ini, yaitu: pertama, kebanyakan dari hubungan ekonomi itu menunjukkan hubungan yang linear. Sebagai contoh adalah kondisi keseimbangan pendapatan nasional memiliki kecenderungan untuk linear sebagaimana definisi dari expenditure, revenue, cost, dan profit.

Point kedua adalah asumsi linearitas hanya diterapkan pada paramater dan bukan pada variabel. Sehingga persamaan yang variabelnya memiliki pangkat lebih dari satu (kuadrat, kubik, dan seterusnya) masih tetap dianggap sebagai linear selama parameternya berpangkat satu. Dan point ketiga, adalah seringkali model dapat ditransformasikan ke dalam bentuk linear, misalnya melalui transformasi logaritma. Sebagai contoh:

N = N0eát …………………………………………..……………………….. (8

Transformasi logaritma akan menghasilkan:

Ln N = ln N0 + át .………………………………..……………………….. (9

Point penting keempat adalah berbagai smooth function dapat didekati secara baik dengan menggunakan fungsi linear, misalnya melalui Taylor’s series expansion (Chiang, 1984: ). Sebuah kasus baru dapat dijadikan sebagai sebuah contoh, yaitu kasus general production function, yang diformulasikan sebagai berikut:

Y = G(K,L) ………………………………..…………………………………….. (10

Melalui proses ekspansi Taylor dengan menggunakan dasar (K0, L0) dihasilkan:

Y = G(K0,L0)+(äG/äK) (K0,L0) (K-K0)+(äG/äL)(K0,L0)(L- L0) …………………... (11

Persamaan (11) dapat dianalogkan dengan:

Y = a + bK + cL ………………………………..………………………..….. (12

Dimana: a = G(K0,L0)-(äG/äK) (K0,L0) K0 -(äG/äL)(K0,L0) L0

b = (äG/äK) (K0,L0)

c = (äG/äL) (K0,L0)

Catatan: (äG/äK) = Marginal Product dengan basis K ; (äG/äL) = Marginal Product dengan basis L

Point penting terakhir adalah karakteristik model ekonometri lebih merupakan model stochastic daripada model deterministic. Sebuah model stochastic selalu menggunakan variabel random di dalam modelnya, sementara model deterministic tidak memiliki variabel random.

Sebuah contoh yang jelas mengenai perubahan dari model deterministic menuju ke model stochastic terjadi di bidang fisika. Pada awal perkembangan teori mekanika yang dipelopori oleh Isaac Newton, yang kemudian terkenal dengan mashab Newtonian Mechanics, menggunakan pendekatan deterministic. Namun perkembangan lebih lanjut dari teori mekanika Newton ini, yaitu mekanika kuantum, dikembangkan dengan menggunakan dasar stochastic. Dalam pola pemikiran fisika kuantum, para ahli tidak mungkin melakukan identifikasi, misalnya, mengenai lokasi dari sebuah elemen partikel. Mereka baru bisa melakukan identifikasi lokasi sebuah elemen partikel hanya melalui perhitungan distribusi probabilitas dari lokasi elemen partikel yang selalu bergerak.

Untuk lebih memperdalam apresiasi terhadap model stochastic, kita dapat mengambil contoh dari model makro sederhana sebagaimana yang tertulis di persamaan (1) dan persamaan (2) yang kemudian telah direformulasi menjadi persamaan (6) sebagai fungsi konsumsi. Pertanyaan yang muncul dari persamaan (6) adalah apakah fungsi konsumsi tersebut, yang menyatakan bahwa pada tingkat pendapatan nasional tertentu konsumsi akan dipengaruhi oleh tingkat pendapatan, merupakan fungsi yang reasonable? Jawabnya pasti tidak!. Banyak faktor selain pendapatan yang mempengaruhi konsumsi, misalnya harga, selera, iklim, dan lain sebagainya. Dengan demikian fungsi konsumsi tidak sederhana sebagaimana digambarkan persamaan (6) dan terdapat kemungkinan terjadi ketidak akuratan dalam pengukuran variabel. Oleh sebab itu, teori selalu menyatakan bahwa estimasi terhadap konsumsi pada tingkat harga yang tetap dilakukan pada on average a + bY. Yang secara umum, konsumsi akan menurun pada rentang keyakinan tertentu, yaitu:

C = a + bY ± D ……………………………………………………..… (13

D menunjukkan interval kenaikan atau penurunan konsumsi pada derajad keyakinan interval yang tinggi. Nilai D dapat ditentukan oleh asumsi bahwa C bersifat random yang mengikuti pola density function (lihat gambar 4). Karena dalam kasus ini menggunakan asas central limit theorem, sehingga distribusi yang terjadi dianggap normal, maka variabel konsumsi (C) dapat digambarkan sebagai kurva normal. Terminologi "on average" selalu mengacu pada rata-rata (mean) atau expected value, sehingga a + bY merupakan rata-rata konsumsi (C).

Gambar 6:

Distribusi Normal Fungsi Konsumsi

f(C)

90%

5% 5% C

a+bY-D a+by a+bY+D

Secara aljabar, model stochastic, dalam kasus fungsi konsumsi, diformulasikan sebagai berikut:

C = a + bY + e ……………………………………………………..… (14

Dimana e merupakan stochastic disturbance error yang memainkan peranan sebagai penyesuai agar terbentuk keseimbangan yang diharapkan. Variabel stochastic tersebut merupakan variabel yang tidak terobservasi. Besarnya angka stochastic tersebut tergantung dari perbedaan model dalam mengestimasi suatu variabel. Perbedaan tersebut dapat bersumber dari kesalahan pengukuran atau dari tidak lengkapnya variabel yang relevan yang seharusnya masuk dalam model.

Penutup

Sebagaimana telah dijelaskan, bahwa model ekonometrika yang baik merupakan paduan antara penggambaran fakta dan bangunan teoritis. Dengan demikian dapat dipahami bahwa sejumlah kritik tentang ekonometrika berkisar antara asumsi model yang digunakan, yang dinilai oleh beberapa kalangan semakin jauh dari realita.

Sebagai contoh adalah kritik Hendry (1980) yang menyatakan bahwa studi ekonometrika klasik telah menjauhi realitas karena terdapatnya cacat dalam prosedur pengujian. Namun demikian, Hendry juga mengatakan bahwa para pengguna ekonometrika tidak perlu terlalu kawatir, karena cacat tersebut dapat diperbaiki dengan menggunakan metode tertentu. Demikian pula halnya dengan kritik yang dilancarkan oleh Lucas (1976), yang kemudian terkenal dengan Lucas Critique, mendasarkan kritiknya pada dasar hipotesis rational expectations. Dia berargumentasi bahwa pendekatan parameter dalam model ekonometrika, terutama model makro, akan menampilkan ketidak-stabilan dan, secara khusus, perubahan dalam kebijakan akan selalu menghasilkan pergeseran struktural terhadap model yang dibentuk.

Namun demikian, dengan berbagai perbaikan dalam metodologi maupun dalam pengujian data maupun model masih banyak yang bisa dilakukan dengan baik melalui ekonometrika. Perhatian yang utama, berangkat dari kritik tersebut, seharusnya diberikan pada ketajaman para pengguna dalam memahami konteks teoritik yang akan dimodelkan dan pengujian terhadap beberapa asumsi yang dituntut oleh model. Dan karena pembentukan model mengandung unsur art, karena sifatnya yang kasuistik, maka mempelajari ekonometrika akan lebih baik apabila menggunakan konsep learning by doing. Karena kekayaan wawasan terhadap kasus, persoalan statistik, dan berbagai penyimpangan yang dihadapi akan sangat membantu dalam membentuk model ekonometrika yang baik.

REFERENSI

Barro, R.J., 1993. Macroeconomics. John Willey & Sons.

Barten, A.P., 1981. Methodological Aspects of Macroeconomic Model Construction. Cabay Louvain-La-Neuve, Leuven.

Begg, D.K.H., 1982. The Rational Expectations Revolution in Macroeconomics: Theories and Evidence. The John Hopkins University Press.

Chiang, A.C., 1984. Fundamental Methods of Mathematical Economics. McGraw-Hill.

Ferber, R. and W.Z. Hirsch, 1978. Social Experimentation and Economic Policy: A Survey. Journal of Economic Literature, 16: 1379-1414.

Gujarati, D., 1995. Basic Econometrics. McGraw-Hill International, Inc.

Gujarati, D., 1999. Essentials of Econometrics. Irwin-McGraw-Hill.

Hendry, D.F., 1980. Econometrics-Alchemy or Science?. Economica, 47: 387-406.

Intriligator, M.D., R.G. Bodkin, C. Hsiao, 1996. Econometric Models, Techniques, and Applications. Prentice-Hall International, Inc.

Judge, G.G., E. Griffiths, R.C. Hill, H. Lütkepohl, T.C. Lee, 1985. The Theory and Practice of Econometrics. John Wiley and Sons.

Leontief, W.W., 1971. Theoritical Assumptions and Nonobserved Facts. American Economic Review, 61: 1-7.

Lucas, R.E., 1976. Econometric Policy Evaluation: A Critique. Journal of Monetary Economics, 2, supplement.

Mankiw, N.G., 1997. Macroeconomics. Worth Publishers.

Newbold, P. and T. Bos, 1990. Introductory Business Forecasting. South-Western Publishing Co.

Parkin, M. and R. Bade, 1992. Macroeconomics. Prentice-Hall, Inc.

Sims, C.A., 1980. Macroeconomics and Reality. Econometrica, 48: 1-48.

Smith, V.L., 1982. Microeconomic Systems as an Experimental Science. American Economic Review, 72: 923-955.

Smith, V.L., 1994. Economics in the Laboratory. Journal of Economic Perspectives, 8: 113-131.

Wallis, K.F., 1980. Econometric Implication of the Rational Ecpectations Hypothesis. Econometrica, 48: 49-73.

Tidak ada komentar: