photo KoleksiSkripsiHeader.gif HP CS Kami 0852.25.88.77.47(AS), 0857.0.1111.632(IM3), email:IDTesis@gmail.com

FOKUS EKONOMI, APRIL 2004
PERAN AUDITOR SISTEM INFORMASI DALAM PENGEMBANGAN

SISTEM INFORMASI AKUNTANSI

Oleh : Nanik Sri Utaminingsih

Dosen Tetap STIE Stikubank Semarang



ABSTRAK




Pengembangan sistem informasi akuntansi dalam perusahaan merupakan hal yang mutlak untuk dilakukan. Untuk menghindari biaya pemeliharaan sistem yang tinggi dan tidak mengurangi esensi dari pentingnya pengembangan sistem informasi akuntansi, maka diperlukan langkah-langkah yang cukup strategis. Alternatif yang dapat ditempuh salah satunya adalah memberdayakan dan mengoptimalkan peran auditor sistem informasi, yang juga merupakan auditor intern untuk memberikan tinjauan kritis dan usulan terhadap proses pengembangan tersebut. Rebbeca C Wu (1992) melalui penelitiannya, melihat dan memprediksi bahwa dalam pengembangan sistem diduga adanya gejala bahwa biaya pemeliharaan piranti lunak yang makin membengkak dan tidak terkontrol. Wu membagi tahap pengembangan sistem menjadi fase definisi, fase konstruksi dan fase implementasi. Hasil penelitian Wu dan penelitan terdahulu mengungkapkan bahwa peran auditor sistem informasi lebih signifikan pada fase definisi, dibandingkan dengan fase yang lainnya.





I. PENDAHULUAN
Dewasa ini perkembangan bisnis dan industri mengalami persaingan yang cukup ketat, sehingga menuntut pihak manajemen sebuah perusahaan harus dapat melakukan tindakan-tindakan yang dapat mempertahankan diri (survive). Untuk dapat survive tentunya dibutuhkan kinerja yang cukup baik, dan salah satu cara agar tercapai kinerja yang baik maka manajemen harus dapat melakukan proses pengambilan keputusan yang tepat.



Untuk mendukung proses pengambilan keputusan yang baik, maka dibutuhkan suatu sistem yang dapat mensuplai kebutuhan informasi baik informasi akuntansi ataupun informasi manajemen. Informasi sistem akuntansi yang baik bagi manajemen adalah informasi yang sesuai dengan karakteristik, yaitu bersifat broadscope, timelines, aggregate dan integrated (Chenhall & Moris, 1986). Menurut Gorry dan Morton (1971), Larcker (1981) serta Gordon dan Narayanan (1984) dalam Priyono Puji (2002) informasi yang bersifat broadsope adalah informasi yang mengandung dimensi focus, time horizon dan kuantifikasi. Informasi yang bersifat timelines adalah informasi yang tersedia ketika dibutuhkan dan sering dilaporkan secara sistematis. Informasi yang bersifat aggregate adalah informasi yang memperhatikan penerapan bentuk kebijakan formal. Sedangkan infomasi yang integrated adalah informasi yang mencerminkan adanya koordinasi antara segmen yang satu dengan segmen yang lain.



Agar informasi yang dihasilkannya dapat memenuhi karakteristik tersebut diatas, maka sudah selayaknya sebuah sistem informasi akuntansi perlu untuk dikembangkan sehingga dapat mengikuti perkembangan perusahaan. Akan tetapi perlu dipertimbangkan bahwa sistem yang sukses untuk dijalankan oleh organisasi, jika memenuhi tujuan sebagai berikut (Boockholdt,1996): sistem seharusnya menghasilkan informasi secara benar dan tepat waktu, dikembangkan melalui sejumlah waktu yang masuk akal, dapat sejalan dengan kebutuhan organisasi akan informasi, pengguna sistem seharusnya merasa puas dengan sistem yang ada.



Dalam pengembangan sebuah sistem tentunya melibatkan sebuah tim, yang terdiri dari ahli sistem informasi, akuntan, dan pemakai sistem itu sendiri. Di mana setiap anggota tim tersebut, tentunya memiliki peran yang cukup berarti dalam pengembangan sistem informasi. Akuntan, dalam hal ini adalah auditor internal sistem informasi diharapkan dapat meningkatkan kesuksesan sebuah pengembangan sistem, yang diwujudkan dengan menurunnya biaya pengembangan. Artikel ini mengulas peran dari akuntan atau secara lebih khusus auditor internal sistem informasi, baik secara teoritis ataupun berdasarkan penelitian yang mengkaji peran dari auditor internal dalam proses pengembangan sistem informasi akuntansi.



Ulasan mengenai topik ini akan dimulai dari pendekatan yang dapat dilakukan dalam pengembangan sistem, pengembangan sistem, keterlibatan auditor intern dalam masing-masing tahap pengembangan, dan bukti empiris yang mengkaji masalah peran auditor dalam pengembangan sistem.



II. PENDEKATAN PENGEMBANGAN SISTEM


Menurut Hall (2002) perusahaan mempunyai 2 pendekatan yang dapat dipilihnya dalam melakukan pengembangan sistemnya, yaitu:




Pengembangan sistem In-house


Dalam pendekatan ini perusahaan akan mengembangkan sendiri sistem yang dibakukan melalui aktivitas pengembangan sistem secara formal. Pendekatan ini biasanya digunakan oleh perusahaan yant memiliki karakteristik yang unik sehingga tidak dapat menggunakan software yang instant




Pengembangan dengan melakukan sistem komersial yang ditawarkan pemasok.


Biasanya perusahaan yang memilih pendekatan ini telah memiliki praktek bisnis yang telah distandardisasi sehingga penggunaannya dapat langsung dipakai ataupun dimodifikasi sehingga lebih tepat, tetapi tidak mengurangi esensinya.



III. PENGEMBANGAN SISTEM



Salah satu model pengembangan sistem yang dapat digunakan dan telah diakui oleh para ahli dalam komunitas sistem adalah System Development Life Cycle (SDLC), dimana menurut Boockholdt terdapat lima tahap dalam model ini, yaitu:







System master plan





System operation







System Implementasi

System design

System analysis











Gambar 1: System Development Life Cycle

Sumber: Boockholdt, J.L, 1996, Accounting Information System, Fourth Ed.



Masing-masing tahapan dalam System Development Life Cycle memiliki tujuan dan manfaat, sebagai berikut:



1. Perencanaan Sistem

Tujuan tahap perencanaan adalah untuk merencanakan semua aktivitas pengembangan sistem dan menghubungakan proyek-proyek atau aplikasi sistem individual dengan tujuan-tujuan stratetegis perusahaan, dimana perencanaan sistem ini biasanya didasarkan pada perencanaan bisnis organisasi. Biasanya perusahaan-perusahaan akan menggunakan staf perencana strategis yang memberi pertimbangan kepada manajemen dan mengindentifikasi tujuan dan masalah-masalah yang dihadapi.



Menurut Hall (2001), dalam perencanaan sistem harus meliputi pembahasan mengenai: Mengenal masalah, mendefinisikan masalah, menentukan tujuan-tujuan sistem, menentukan kelayakan proyek, menyiapkan proposal proyek formal, mengevaluasi dan memprioritaskan proposal-proposal yang potensial, menghasilkan sebuah jadwal proyek, dan mengumumkan proyek sistem yang baru.



Sedangkan menurut McLeod (1995) tahap perencanaan meliputi menyadari permasalahan, mendefinisikan masalah, menentukan tujuan sistem, mengidentifikasi kendala-kendala sistem, membuat studi kelayakan , mempersiapkan usulan penelitian sistem, menyetujui atau menolak penelitian proyek, menetapkan mekanisme.



McLeod juga mengemukakan bahwa jika tahap ini dilaksanakan akan memberikan keuntungan-keuntungan sbb:




Menentukan lingkup proyek. Unit organisasi, kegiatan atau sistem mana yang akan terlibat, dan mana yang tidak. Informasi ini memberikan perkiraan awal dari skala sumber daya yang diperlukan.





Mengenali berbagai area permasalahan potensial. Perencanaan akan menunjukkan hal-hal yang mungkin salah sehingga hal-hal ini dapat dicegah.

Mengatur urutan tugas. Tugas-tugas diatur dalam urutan logis berdasarkan prioritas informasi dan kebutuhan untuk efisiensi.





Memberikan dasar untuk pengendalian. Tingkat kinerja dan metode pengukuran tertentu harus dispesifikasikan sejak awal.




Analisis Sistem

Merupakan proses pengujian terhadap sistem informasi yang sudah ada dan lingkungannya untuk mengidentifikasi apakah terdapat kemungkinan yang cukup besar (potensial) untuk dikembangkan, seorang analis dapat melakukannya lewat survey dan dilanjutkan dengan pengumpulan fakta-fakta mengenai sistem, yang meliputi: sumber data, pemakai, tempat penyimpanan data, proses, arus data, kontrol, volume transaksi, tingkat kesalahan, biaya sumber daya, kemacetan dan operasi yang diberlakukan. Hasil analisis ini menghasilkan informasi mengenai kebutuhan informasi yang dituangkan dalam master plan system. Ada 3 kemungkinan yang memberikan alasan untk melakukan analisis sistem, yaitu:




Untuk pemecahan masalah (problem solving)



Kebutuhan baru ( New requirements)



Untuk mendapatkan keunggulan teknologi baru.




Menurut McLeod (1995) dalam tahap ini analis sistem harus bekerja sama dengan manajer dan komite pengarah SIM, serta melakukan aktivitas mengumumkan penelitian sistem, mengorganisasikan tim proyek, mendefinisikan kebutuhan informasi, mendefinisikan kriteria kinerja sistem, menyiapkan usulan rancangan, dan yang terakhir manajer dan komite pengarah SIM mengevaluasi usulan rancangan dan menentukan apakah akan memberikan perseujuan atau tidak.



Design Sistem

Dalam tahap ini tim desain sistem akan menerjemahkan rekomendasi yang dibuat oleh analis sistem menjadi bentuk yang dapat untuk diimplementasikan. Dalam desain sistem yang besar, biasanya terdiri atas 2 fase, yaitu:



a. Pre eliminary survey yaitu suatu fase dimana sistem disusun secara konseptual, yang dinilai dengan menentukan tujuan, proses, data dan laporan yang diperlukan untuk mencapai tujuan tsb.

Detail spesifikasi, dalam fase ini tim desain akan mengidentifikasi bagaimana sistem bekerja dan didesain program komputer serta prosedur manual pengoperasiannya, desain dokumen dan laporan gambaran file dan internal kontrol dalam sistem.



Sedangkan menurut McLeod (1995) langkah-langkah yang harus dilakukan dalam tahap ini meliputi menyiapkan rancangan terperinci, mengidentifikasi alternatif konfigurasi sistem, komengevaluasi berbagai alternatif konfigurasi sistem, memilih konfigurasi yang terbaik, menyiapkan usaulan penerapan, menyetujui atau menolak penerapan sistem.





Implementasi Sistem

Tahap ini seringkali merupakan tahap yang menuntut biaya yang cukup besar dalam pengembangan sistem. Langkah-langkah yang diusulkan oleh McLeod (1995) meliputi merencanakan penerapan, mengumumkan penerapan kepada para pegawai, mendapatkan sumber daya perangkat lunak, menyiapkan database, menyiapkan fasilitas fisik, mendidik peserta dan pemakai dan masuk kedalam sistem baru.



Penggunaan sistem.

Tahap ini dilakukan setelah beberapa waktu proses implementasi sistem, dimana semua perangkat lunak dan perangkat keras telah siap dioperasikan. Menurut McLeod (1995) langkah-langkah yang harus dilakuan adalah;




Menggunakan sistem untuk mencapai tujuan telah ditetapkan

Audit sistem. Setelah sistem dapat berjalan dengan baik maka diperlukan postimplementation review yang dapat dilakukan oleh seseorang dari jasa informasi atau oleh auditor internal.

Memelihara sistem, yang dilaksanakan dengan alasan untuk memperbaiki kesalahan, menjaga kemutakhiran sistem, meningkatkan sistem.




Semua tahapan diatas adalah siklus hidup dari sebuah pengembangan sistem, dimana siklus hidup ini tidak terputus selama pengembangan itu sendiri dan selalu dipertahankan dalam organisasi.



Sedangkan menurut Atituv & Neumann (1982) dalam Rebecca Wu (1992) dengan studinya yang berjudul "The Information Systems Auditor’s review of The systems development process & Its Impact on Software Maitenance Effort" menyatakan bahwa fase pengembangan sistem terdiri dari 3 fase yaitu fase definisi yang meliputi proses perencanaan dan analisis, fase konstruksi dan fase implementasi yang meliputi fase implementasi dan pengoperasian.



IV. KETERLIBATAN AUDITOR INTERN
DALAM PENGEMBANGAN SISTEM




Keterlibatan auditor intern dapat ditinjau dari setiap tahapan dalam SDLC, yaitu:

4.1.Tahap perencanaan



Menurut Hall (2002) dalam tahap ini akuntan ataupun auditor internal sering diminta untuk memberikankeahliah mereka untuk mengevaluasi kelayakan sebuah proyek, mereview masalah kelayakan ekonomi, kelayakan perencanaan sistem pengendlian intern dan kelayakan operasi.



4.2.Tahap analisis sistem

Menurut Boockholdt (1996) peran auditor dalam tahap ini adalah mensuplai laporan audit pada sistem yang akan diuji oleh tim studi. Akuntan dengan latar belakang pendidikan formal dan informalnya menunjukkan bahwa ia memiliki keahlian untuk melakukan analisis sistem. Akuntan akan melakukan survey sistem untuk memahami elemen-elemen penting dari sistem yang digunakan saat ini dan menentukan kebutuhan informasi pemakai akhir, standar kontrol internal, kebutuhan jejakaudit, dan prosedur-prosedur dimandatkan jelas merupakan tugas-tugas penting untuk menentukan persyaratan sistem yang baru sehingga diharapkan sistem yang nantinya dipakai akan kompatibel dengan audit lanjutan yang akan digunakan.



4.3.Tahap desain sistem

Dalam tahap ini akuntan berperan penting dalam memanfaatkan keahlian teknisnya, peran ini dilakukan dalam hal:

Desain sistem konseptual, disini akuntan bertanggung jawab untuk sistem konseptual (arus informasi ogis) dan profesional sistem bertanggungjawab terhadap sistem fisik (pekerjaan teknis untuk membangun sistem ), dimana dalam melakukkan perannya ini akuntan harus mempertimbangkan bahwa setiap sistem harus dikontrol secara memadai, jejak audit yang harus dilestarikan, konversi-konversi akuntansi dan persyaratan-persyaratan hukum harus dipahami.



Menurut Boockholdt (1996) fase ini akuntan harus melakukan review atas:


Laporan.


Mengindentifikasi informasi yang dibutuhkan dalam laporan untuk pengendalian dan auditability


Langkah pemrosesan


Dimana auditor harus menyarankan prosedur pengendalian


Seleksi Perlengkapan.


Memastikan bahwa yang dipilih sesuai dengan kebijakan perusahaan.


File data.


Menetapkan bahwa data akan akurat dipelihara selama penggantian ke sistem baru.



4.4.Tahap implementasi sistem



Dalam tahap ini secara rinci internal auditor, harus terlibat dalam cara-cara berikut ini:


Menspesifikasi standar dokumentasi.


Auditor intern ikut serta menentukan spesifikasi dokumentasi sistem agar nantinya dalam pemeriksaan dapat mudah, maka akuntan harus aktif mendorong para pemakai sistem untui taat pada stadar dokumentasi yang telah diterapkan.




Menverifikasi kelayakan kontrol.


Tugas ini tidak semata-mata berdiri sendiri tetapi merupakan rangkaian atas usulan struktur pengendalian intern yang dibuat oleh auditor intern dalam fase sebelumnya. Pada tahap implementasi inilah review kembali apakah SPI yang telah ditetapkan memiliki keterbatasan yang cukup besar atau tidak.




Review konversi sistem lama ke sistem baru.


Untuk memastikan bahwa data-data akurat selama proses penggantian tersebut.




Review terhadap ketepatan uji data dan hasil uji


4.5.Tahap pengoperasian sistem

Dalam tahap ini auditor melakukan evaluasi dan menilai ketepatan pengendalian dalam operasi sistem, kaitannya dengan pemeliharaan sistem. Pada tahap ini pula auditor intern harus secara aktif memantau apakah tahap pengoperasian sistem telah sesuai dengan standar pengoperasian yang telah ditetapkan sebelumnya.



V. BUKTI EMPIRIS PERAN AUDITOR INTERN SISTEM INFORMASI DALAM PENGEMBANGAN SISTEM


Berdasarkan beberapa penelitian empiris terdahulu menyatakan bahwa :

Fase definisi yang didalamnya meliputi proses perencanaan dan analisis. Fase ini memiliki ekses implication yang cukup besar atas keberhasilan pengembangan sistem, khususnya pengembangan software. Menurut Rittenberg & Purdy (1978) dalam Rebecca Wu (1992) tujuan auditor selama tahap definisi adalah untuk meninjau studi kelayakan untuk kemungkinan dan kompatibilitas dengan fasilitas yang ada plus untuk memberikan keyakinan bahwa kebutuhan informasi pengguna dikomunikasikan secara memadai dan dimasukkan dalam desain. Wysong (1983) dan Umbaugh (1987) menyatakan peningkatan keterlibatan auditor internal dalam definisi dari sistem informasi perusahaan tertentu, menunjukkan bahwa biaya modifikasi sistem yang tinggi menentukan penambahan kontrol dalam desain sistem bukan penambahannya kemudian.



Fase contruction yang merupakan tahap design sebuah sistem Chapin (1985) dalam Rebecca Wu (1992) menyatakan bahwa masalah pemeliharaan terbesar yang dapat diidentifikasi adalah dokumentasi yang buruk. Permasalahan ini sebenarnya dapat diminimalkan dalam fase konstruksi, dimana keterlibatan auditor dalam memberikan kepastian dengan pengkajian dokumentasi yang dihasilkan selama pemrograman dan pengembangan prosedur.



Fase Implementation meliputi tahap pengimplementasian dan pengoperasian sistem. Dimana dalam tahap ini auditor diminta memberikan kepastian dengan pengkajian dokumentansi yang dihasilkan selama tahap konversi dan pengujian. Menurut Bryan dkk serta Lybrook dalam Rebecca Wu (1992), auditor sebaiknya meninjau dokumentasi untuk menentukan bahwa sistem tersebut memnuhi tujuan awal, bahwa pengujian sistem lengkap dan memadai, dan bahwa program berjalan seperti dijelaskan sebelumnya.



Salah satu penelitian yang menguji keterlibatan auditor intern secara detail, setiap fase pengembangan adalah penelitian yang dilakukan oleh Rebecca C.Wu. Dalam penelitian ini Wu melihat dan memprediksi bahwa dalam pengembangan sistem diduga adanya gejala bahwa biaya pemeliharaan piranti lunak yang makin membengkak dan tidak terkontrol. Dan menurut Lientz dan Swanson (1980) didapati bahwa sistem EDP secara berkala diaudit hanya pada sepertiga dari deparatemen pemrosesan data, satu alasan mengapa audit jarang dilakukan adalah karena ketidakpastian tentang bagaimana dan apa yang akan diaudit. Lientz dan Swanson (1980) juga menyatakan bahwa sebuah audit adalah metode yang efektif untuk pengontrolan biaya piranti lunak. Sedangkan Bryan dkk (1982) dalam Rebecca Wu mengindikasikan bahwa waktu dan dana yang diinvestasikan dalam audit, khususnya dalam tahap pengembangan sistem awal, akan menguntungkan tahap pemeliharaan.

Dalam menemukan bukti bahwa peran auditor internal sistem informasi mempunyai peran yang cukup berarti, Wu menggunakan variabel dependent yaitu maitenance person hour (jam kerja pemeliharaan software) dan maintenance cost software (biaya pemeliharaan software), variabel independent meliputi definition review effort ( upaya review di tahap definisi), construction review effort (upaya review di tahap konstruksi), dan Implementation review effort (upaya review di yahap implementasi) dari auditor internal sistem informasi. Variabel kontrol yang dianggap memiliki perngaruh terhadap variabel dependent dan yang perlu dikontrol meliputi system age (umur sistem), Maintenaner’s RD Experience (pengalaman anggota pemeliharaan di RD departemen) dan System Complexity (kompleksitas sistem).



Variabel maitenance person hours diukur sebagai jumlah total dari waktu karyawan yang dihabiskan pada pemeliharaan sebuah sistem aplikasi. Maitenance costs diukur sebagai pengeluaran pemeliharan aktual dalam dollar untuk sebuah sistem. Biaya ini menunjukkan total dari biaya piranti lunak dan biaya karyawan.



Definition review effort diukur sebagai total waktu karyawan aktual yang auditor informasi sistem habiskan pada tinjauan sebuah aplikasi dalam tahap definisi. Construction review effort diukur sebagai total waktu karyawan aktual yang auditor sistem informasi habiskan pada tinjauan sebuah aplikasi dalam tahap konstruksinya. Sedangkan Implementation review effort diukur sebagai total waktu karyawan aktual yang auditor sistem informasi habiskan pada tinjauan sebuah aplikasi dalam tahap implementasi.



System age diukur sebagai total jumlah bulan sejak sistem aplikasi itu berjalan. Maintainer’s review development experience diukur dengan pembagian jumlah pemelihara yang bekerja sebelumnya pada pengembangan sistem aplikasi dengan total jumlah pemelihara sistem, sedangkan system complexity diukur sebagai total jumlah program yang saat ini dimasukkan dalam sistem yang dipelihara.



Sampel dalam penelitian ini dipilih berdasarkan pada kriteria bahwa sistem tersebut telah beroperasi dan dalam pemeliharan selama satu tahun atau lebih, sistem tersebut dikembangkan dengan menggunakan pendekatan SDLC dan sistem ini mensyaratkan paling sedikit 6 orang-bulan pengembangannya, dan proses pengembangan sistem tersebut ditinjau oleh auditor sistem informasi. Perusahaan-perusahaan yang diidentifikasi untuk penelitian ini adalah lembaga financial multinasional di Los Angeles, yang memiliki spesifikasi tertentu, misalnya telah memiliki databe manajemen dan masing-masing organisasi memiliki departemen audit siste informasi internal yang majau yang melakukan review terhadap pengembangan sistem.



Teknik statistik yang digunakan dalam penelitian ini meliputi statistik deskriptif dari semua variabel, regresi berganda, dimana terdapat 2 tahap regresi, yaitu yang pertama hanya variabel kontrolnya saja yang dimasukkan dan yang kedua semua variabel independen dan kontrol secara serentak dimasukkan bersama-sama.



Hasil uji statistik menunjukkan bahwa untuk software maintenance person-hours saat dilakukan uji regresi tahap 1 memiliki nilai multiple correlation 0.84 yang signifikan pada tingkat probability 0.0001. R square menunjukkan 0.71 ini berarti bahwa variasi dalam variabel independen mampu menjelaskan variabel dependent sebesar 71%, sedangkan sisanya dijelaskan oleh faktor lain. Saat dilakukan uji regresi kedua, dimana 3 variabel independent dan 3 variabel kontrol dimasukkan semua, hasil dari regresi ini menunjukkan peningkatan R square menjadi 0,87 dan signifikan pada tingkat probability 0.0100. Peningkatan yang signifikan dalam R square mengindikasikan bahwa terdapat kriteria variasi yang unik dalam yang dijelaskan oleh upaya audit, bahkan setelah pengaruh dari usia sistem, pengalaman pengembangan relatif dari pemeliharaan dan kompleksitas sistem yang telah dijelaskan.



Wu juga melakukan uji beda t terhadap koefisen regresi. Uji ini ditujukan untuk mengetahui perbedaa peran auditor sistem informasi yang terbesar dilakukan dalam fase definisi, fase konstruksi, atau fase implementasi. Berdasarkan uji-t ditunjukkan bahwa koefisien regresi dari audit effort pada tahap definisi secara signifikan lebih besar dibandingkan dengan koefisien dari audit effort pada fase konstrksi dan bahwa kefisien regresi dari audit effort fase definisi secara signifikan lebih besar dari koefisien audit effort fase impelementasi. Hasil ini mengindikasikan bahwa investasi dari audit effort dalam tahap definisi menghasilkan pengurangan terbesar dalam waktu karyawan pemeliharaan software (software maintenance person-hours)

Untuk pengujian terhadap software maintenance cost dilakukan prosedur pengujian yang sama dengan software maintenance person-hours. Hasilnya menunjukkan dalam regresi pertama ternyata multiple correlation sebesar 0.79 yang signifikan pada tingkat probabilitas 0.01. Nilai R square sebesar 0,62. Kemudian saat regresi kedua dilakukan hasil menunjukkan peningkatan nilai R square menjadi 0.73 dan peningkatan nilai probabilitas menjadi 0.10. Peningkatan signifikan dalam nilai R square menindikasikan bahwa ada variasi biya pemeliharaan yang unik yang dapat dijelaskan oleh audit effort. Uji-t atas koefisien regresi menunjukkan hasil bahwa investasi dari audit effort dalam tahap definisi mengahasilkan pengurangan terbesar dalam biaya pemeliharaan software.

Sebagai tambahan dalam penelitian ini Rebecca Wu menyertakan analisa Cost-Benefit atas investasi audit effort selama pengembangan sistem. Hasilnya menunjukkan bahwa saat total audit effort (penjumlahan dari audit effort di ketiga fase) diregresikan dengan variabel kontrol, dan kedua variabel dependent ternyata bahwa ada pengurangan rata-rata dari software maintenance-hours sebesar 0.65 yang dikaitkan dengan peningkatan waktu karyawan audit, dan bahwa ada pengurangan rata-rata software maintenance cost (biaya pemeliharaan software) kurang lebih $10 (10.1) yang dikaitkan dengan peningkatan waktu karyawan audit.



VI. SIMPULAN




Berdasarkan ulasan teoritis dan bukti empiris diatas terlihat bahwa partisipasi auditor sistem informasi dalam tahap pengembangan sistem bermanfaat pada upaya pemeliharaan software dan ternyata partisipasi ini akan memberikan andil yang cukup besar jika dilaksanakan di tahap awal, yaitu tahap definisi. Secara logika hasil ini dapat diterima karena justru di tahap atau fase awal inilah semua perencanaan dan analisa sistem dirumuskan dengan melalui pertimbangan-pertimbangan yang cukup banyak sehingga pada tahap selanjutnya sebenarnya merupakan tahap dimana mulai melaksanakan rencana yang telah disusun. Pengaruh review audit ditunjukkan dalam pengurangan waktu karyawan pemeliharaan software maupun biaya pemeliharaan. Disamping itu audit sangat diperlukan untuk mendeteksi permasalahan yang muncul dalam sistem informasi akuntansi berbasis komputer.



Keterbatasan dari penelitian terdahulu. adalah tidak memasukkan variabel moderating yang dapat memperlemah ataupun memperkuat hubungan variabel independen dan dependen, seperti frekuensi review auditor disetiap tahap pengembangan, apabila variabel ini dimasukkan sebagai variabel moderating, tentunya hasil dari analisa akan berbeda.



DAFTAR PUSTAKA :



Boockholdt, J.L, 1996, Accounting Information System, Fourth Ed, Irwin



Chenhall, R.H. & Morris, D. The Impact of Structur, Enviroment and Interdependence on the Perceived Usefulness of Management Accounting System, The Accounting Review, Januari 1986.



Hall, James A. 2001, "Sistem Informasi Akuntansi", translated by Amir Abadi Yusuf, Jakarta: Salemba Empat.



McLeod, Raymond. 1995, "Sistem Informasi Manajemen", translated by Hendra Teguh, Jakarta: Salemba Empat



Prasetyo, Priyono Puji. Januari 2002. " Pengaruh Locus of Control terhadap Hubungan antara Ketidakpastian lingkungan dengan Karakteristik Informasi Sistem Akuntansi Manajemen" . Jurnal Riset Akuntansi Indonesia , P.119 -136



Wilkinson , Joseph W. 1991, "Sistem Akuntansi & Informasi", translated by Marianus Sinaga., Jakarta : Erlangga



Rebecca Wu, 1992, "The Information System Auditor’s Review of the Systems Development Process and Its Impact on Software Maitenance Efforts", Journal of Information System, Spring, 1992

Tidak ada komentar: