photo KoleksiSkripsiHeader.gif HP CS Kami 0852.25.88.77.47(AS), 0857.0.1111.632(IM3), email:IDTesis@gmail.com

FOKUS EKONOMI, AGUSTUS 2004

PARADIGMA TEORI PERMINTAAN DALAM PERSPEKTIF

FILSAFAT ILMU

Oleh : T.Sihol Nababan & Basukianto

FE. HKBP Nomensen Medan & STIE Stikubank Semarang

Abstrak

Ilmu Ekonomi merupakan ilmu sosial yang membahas tentang bagaimana manusia memenuhi kebutuhannya yang tidak terbatas dengan alat pemuas yang terbatas. Ilmu ekonomi ini termasuk ilmu sosial yang aplikatif, dalam arti dapat diterapkan didalam kehidupan nyata. Salah satu bagian dari ilmu ekonomi adalah Ekonomi Mikro yang mempelajari tentang perilaku manusia dalam mengalokasikan faktor produksi agar tercapai kombinasi optimum.

Banyak teori-teoti ekonomi mikro yang dapat diaplikasikan untuk pengambilan keputusan yang telah dikembangkan oleh para ekonom. Namun demikian bukan berrti bahwa teori-teori tersebut terlepas dari masalah kebenaran. Sebagai ilmu sosial teori ekonomi mikro tidak dapat lepas dari kajian filsafat ilmu yng selalu mempertanyakan kebenarannya.

Dari aspek filsafat ilmu suatu teori atau pengetahuan dapat dikaji kebenarannya dengan mendasarkan pada tiga aspek, yaitu : Ontologis, Epistemologis dan Aksiologis. Ontologi membahas masalah obyek dari ilmu pengetahuan, Epistemologi membahas masalah proses untuk memperoleh ilmu pengetahuan tersebut dan Aksiologi bekaitan dengan manfaat dari ilmu pengetahuan tersebut.

Ilmu pengetahuan atau teori dikatan benar bila memenuhi standar ketiga aspek tersebut. Tulisan ini membahas Ekonomi Mikro khususnya Teori Permintaan dari kajian Filsafat Ilmu, dengan melihat aspek ontologisnya, epistemologinya dan aksiologinya.

PENDAHULUAN

Tanpa disadari bahwa setiap ilmu, terutama ilmu sosial mempunyai asumsi tetentu tentang manusia yang menjadi lakon utama dalam kajian keilmuannya. Contoh paling dekat adalah ilmu ekonomi. Dalam konteks filsafat ilmu, ilmu ekonomi menyatakan bahwa manusia adalah homoeconomicus, yaitu suatu makluk yang berusaha untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, mencari kenikmatan sebesar-besarnya dan menjahui ketidak nyamanan sebisa mungkin (Suriasumantri;1999:27). Bahkan Harrison Barret (1990:1) menyatakan bahwa dalam filsafat (Philoshophy), manusia adalah obyek studi realitas yang paling pokok (the study of ultimate reality) baik dalam keimanan maupun dalam ilmu pengetahuan manusia. Oleh karena itu fokus dari filsafat yang berkembang menjadi ilmu-ilmu lain adalah manusia dengan segala keinginan dan kebutuhannya.

Fokus Ekonomi – Vol.3 – No.2 – Agustus 2004

Manusia mempunyai keinginan dan kebutuhan yang tidak terbatas, sedangkan alat pemuas kebutuhan tersebut terbatas atau langka (scarcity) telah menimbulkan masalah, yang disebut dengan masalah ekonomi . Masalah ekonomi adalah bagaimana manusia memenuhi kebutuhannya yang tidak terbatas dengan alat pemuas kebutuhan (faktor-faktor produksi) yang terbatas. Oleh karena itu manusia akan melakukan pilihan terhadap berbagai alternatif yang mungkin dari berbagai kemungkinan yang ada. Tindakan melakukan pilihan terhadap serangkaian kemungkinan yang ada didasari oleh suatu motif, yang disebut dengan motif ekonomi. Motif ekonomi biasanya didasari suatu prinsip ekonomi, yang berbunyi dengan pengorbanan tertentu untuk medapatkan hasil yang sebesar-besarnya, atau dengan pengorbanan sekecil-kecilnya untuk memperoleh manfaat tertentu. Ilmu yang mempelajari bagaimana manusia bertindak atas dasar motif ekonomi dengan prinsip ekonomi disebut Ilmu Ekonomi. Secara umum ilmu ekonomi dibedakan atas ilmu ekonomi mikro dan ilmu ekonomi makro. Analisis ekonomi mikro bertujuan bagaimana mengalokasikan faktor-faktor produksi agar tercapai kombinasi yang tepat, sedangkan ilmu ekonomi makror bertujuan untuk menganalisis tentang pengaruh kegiatan ekonomi terhadap perekonomian secara menyeluruh (Joesron dan Fathorrozi, 2003: 1-2).

Dalam konteks filsafat ilmu, ilmu ekonomi termasuk bagian ilmu sosial, yang dapat diterapkan langsung dalam kehidupan praktis, sebagaimana disebutkan Paul A. Samuelson sebagai ilmu yang beruntung (fortunate), karena dapat diterapkan langsung pada kebijakan umum (public policy). Sebagai ilmu sosial ilmu ekonomi tidak dapat terlepas dari kajian filsafat yang berlandaskan pada tiga aspek, yaitu: ontologis, epistemologis dan aksiologis. Semua pengetahuan apakah itu ilmu, seni atau pngetahuan apasaja pada dasarnya mempunyai tiga landasan tersebut. Perbedaannya terletak pada perwujudannya serta sejauhmana landasan-landasan dari ketiga aspek tersebut dikembangkan dan dilaksanakan. Aspek ontologis menyangkut apa yang dikaji oleh pengetahuan tersebut. Aspek epistemologis menyangkut bagaimana cara mendapatkan pengetahuan tersebut, sedangkan aspek aksiologis menyangkut untuk apa pengetahuan tersebut digunakan ( Suriasumantri,1999 :35,95).

Berdasarkan ketiga aspek di atas, tulisan ini mencoba membahas bagaimana bagian ilmu ekonomi, yaitu ilmu ekonomimikro, khususnya teori permintaan dikaji secara filsafat. Teori permintaan merupakan salah satu pokok bahasan dari ilmu ekonomi mikro, selain penawaran, dimana hubungan keduanya sangat penting untuk mengetahui prilaku pelaku-pelaku ekonomi. Tetapi dalam tulisan ini pokok bahasan hanya difokuskan pada paradigma teori permintaan saja. Dalam hubungannya dengan aspek ontologis, epistemologi dan aksiologis, maka teori permintaan akan membahas hal-hal sebagaiberikut:

  1. Aspek ontologis membahas definisi, sumber, dan dimensi-dimensi teori permintaan.
  2. Aspek epistemologis membahas pendekatan-pendekatan dan metodologis yang digunakan dalam teori permintaan.
  3. Aspek aksiologis membahas aplikasi teori permintaan dalam kehidupan ekonomi.

ONTOLOGIS TEORI PERMINTAAN

Seperti diuraikan di atas , bahwa aspek ontologis menjelaskan tentang apa yang dikaji ilmu pengetahuan. Secara lebih luas hal tersebut mempertanyakan tentang: 1) obyek apa yang ditelah oleh suatu ilmu, 2) bagaimana wujud dari yang hakiki dari obyek tersbut. Secara operasional , kedua pertanyaan tersebut akan membawa pembahasan kepada suatu konsep-konsep praktis dari ilmu tersebut yang meliputi definisi-definisi, sumber atau latar belakang munculnya suatu ilmu dan bagaimana demensi dan hubungan-hubungan yang terjadi dalam obyek yang dibahas.

Dalam hubungannya dengan ontologi teori permintaan, maka akan dikemukakan hal-hal sebagaiberikut: a) Definisi permintaan, asumsi, hukum permitaan dan proses terbentuknya permintaan b) sejarah singkat teori permintaan, dan c) kajian ontologis.

  1. Definisi Permintaan, Asumsi, Hukum Permintaan dan Proses Terbentuknya Permintaan.

Lipsey et al (1990:54) mengemukakan The total of commodity that all house hold needed in some time periode is called the quantity demanded of that commodity". Pendapat lain mengatakan bahwa konsep permintaan digunakan untuk menunjukan keinginan seorang pembeli pada suatu pasar (Arsyad,1991 : 22). Selanjudnya Joesron dan Fathorrozi ( 2003 : 12) mendefinisikan, permintaan adalah berbagai jumlah barang dan jasa yang diminta pada berbagai tingkat harga pada suatu waktu tertentu.

Banyak ekonom memberikan istilah-istilah khusus terhadap permintaan dengan menambah kata-kata fungsi , kurva atau skedule, sehingga muncul perkataan fungsi permintaan, kurva permintaan dan skedule permintaan. _Pemberian istilah ini menjadikan definisi permintaan lebih operasional, lebih nyata dan dengan istilah-istilah tersebut maka teori permintaan lebih mudah dianalisis. Marilah kita perhatikan definisi-definisi berikut:

  1. Fungsi permintaan menunjukan hubungan antara kuantitas suatu barang yang diminta dengan semua faktor yang mempengaruhinya: harga, pendapatan, selera dan harapan-harapan untuk masa mendatang (Arsyad, 1991 : 22). Hubungan tersebut dapat dirumuskan sebagaiberikut :

Q = f ( Harga, Pendapatan, Selera, Harapan-harapan ................)

  1. Hubungan antara tingkat harga dengan jumlah barang yang diminta dapat disajikan dalam suatu kurva, yang disebut kurva permintaan , yaitu kurva yang menunjukan tempat titik-titik yang menggambarkan maksimum pembelian pada tingkat harga tertentu dengan anggapan ceteris paribus ( Joesron dan Fathorrozi 2003 : 12). Kemudian Pindyck dan Rubenfeld (1992 : 20) mendefinisikan : "The demand curve tell us how much consumers are willing to buy for each price per unit that they must pay. It slope downward becouse consumers are usually ready to buy more if the price is lower". Visualisasi definisi kurva permintaan ini disajikan dalam gambar 1 berikut:

P Gambar 1 : Kurva Permintaan.

Kurva permintaan

O Q

  1. Skedule permitaan adalah skedule yang menunjukan hubungan antara harga dan jumlah barang yang diminta konsumen pada setiap tingkat harga ( Iswardono,1990 :12). Visualisasi definisi tersebut dapat dilihat pada tabel 1 berikut :

Tabel 1: Kombinasi harga dan jumlah barang yang diminta

Harga (Rp)

Jumlah Barang (unit)

41

42

43

44

45

100

80

60

40

20

Dari definisi-definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa fungsi permintaan menunjukaqn hubungan matematika dalam bentuk fungsi, kurva permintaan menunjukan hubungan dalam bentuk gambar secara grafik, dan skedule permintaan menunjukan hubungan dalam bentuk data kuantitatif.

Definisi-definisi tersebut di atas berlaku apabila memenuhi asumsi ceteris paribus, yang berarti: hal-hal lain dianggap tetap atau tidak berubah (Lipsey : 1990;Bilas, 1993:9). Ceteris paribus ini dapat dilihat pada faktor-faktor lain yang dianggap tidak berubah seperti: selera, waktu, harapan, harga barang lain dan lain sebagainya. Adanya asumsi ini menunjukan keterbatasan dari teori permintaan. Jika diamati definisi-definisi permintaan di atas, maka ada hubungan yang berbanding terbalik (negatif) antara harga dengan jumlah barang yang diminta, dengan konsekwensi bahwa bila harga naik maka jumlah barang yang diminta turun, atau sebaliknya jika harga turun maka permintaan barang naik. Pola hubungan inilah yang disebut dengan Hukum Permintaan.

Secara jelas, adanya asumsi dan hukum permintaan ini telah terkandung kurva permintaan (gambar 1), yaitu kemiringan kurva permintaan tersebut menunjukan adanya hukum permintaan, dan lurusnya kurva permintaan tersebut menunjukan adanya asumsi ceteris paribus.

Proses terbentuknya permintaan dijelaskan sebagai berikut: Permintaan timbul karena perilaku konsumen, yaitu karena pendapatan yang terbatas sementara keinginannya adalah untuk mencapai kepuasan maksimum dengan jalan berusaha mengkonsumsi barang dan jasa sebanyak mungkin. Oleh karena itu konsumen mengadakan pilihan. Inilah yang melahirkan perilaku konsumen sebagai upaya untuk mengungkap bagaimana permintaan itu terbentuk. Selanjudnya muncul beberapa hal yang bertalian dengan permintaan konsumen, seperti:

      1. Elastisitas.

      2. hubungan pendapatan dengan jumlah barang yang diminta (kurva Angel).

      3. Efek substitusi dan pendapatan.

      4. Bagaimana keseimbangan berubah sebagai akibat perubahan pendapatan (Income Consumption Curve).

      5. Bagaimana keseimbangan berubah sebagai akibat perubahan harga ( Price Consumption Curve).

b. Sejarah Singkat Teori Permintaan.

Teori permintaan konsumen dimulai dari teori perilaku konsumen dan dari awalnya teori perilaku konsumen bertitik tolak dari aksioma preferensi atau fungsi utilitas. Dalam perkembangan selanjutnya, teori perilaku konsumen ditandai dengan generalisasi konsep utilitas itu sendiri.

Untuk melihat sejarah singkat teori permintaan ini, diambil tulisan-tulisan Lai 1972, Uzawa 1959, Green, Hasan Johnson, 1954 sebagaimana dikutip oleh Purwono (1997 ; 45 – 46) dalam desertasinya. Sejarah singkat tersebut diuraikan sebagai berikut :

Pada awalnya Gossen (1854) yang juga diikuti oleh Jevons (1871) dan Walras (1874) mengasumsikan bahwa utilitas dapat diukur dan dijumlahkan. Akan tetapi beberapa tahun kemudian Edgeworth (1881), Antonelli(1886) dan Lieben (1889) mengubah asumsi trsebut yaitu bahwa utilitas dapat diukur tetapi tidak dapat dijumlahkan.

Pada akhir abad 19 ahli ekonomi lain seperti Pareto 1906) menemukan kenyataan bahwa tidak perlu menganggap bahwa utilitas sebagai besaran cardinal, tetapi merupakan ukuran ordinal. Sejak itu teori perilaku konsumen yang didasarkan pada konsep utilitas ordinal dikembangkan lebih lanjut oleh Slutsky (1915), Hikcs ( 1939), Samuelson (1947) dan lainnya. Konsumen dianggap mempunyai fungsi utilitas ordinal yang tidak perlu pengukuran jumlah absolut utilitastersebut, tetapi hanya.berupa rangking dari preferensi konsumen terhdap alernatif kombinasi barang dan jasa yang dikonsumsinya.

Karena aksioma-aksioma pada utilitas tidak ditujukan langsung untuk menguji validitas dalam menjelaskan perilaku konsumen yang diamati, maka beberapa ahli ekonomi mulai curiga dengan kegunaan konsep utilitas tersebut. Diantaranya adalah Cassel (1918) yang mengajukan teori perilaku konsumen tidak dari fungsi preferensi atau utilitas, akan tetapi dari fungsi permintaan. Demikian juga Samuelson (1939) mengajukan teori Revealed Preference yang dasarnya adalah fungsi permintaan yang tidak diturunkan dari fungsi utilitas.

Pada tahun 1959 Uzawa menyelidiki aksioma tentang preferensi konsumen dan aksioma fungsi permintaan. Secara matematis ia berhasil membuktikan bahwa kedua aksioma tersebut equivalen. Yaitu bahwa fungsi permintaan dapat diturunkan dari fungsi preferensi atau fungsi utilitas. Sebaliknya fungsi utilitas juga dapat diturunkan dari fungsi permintaan.

Jika ditinjau permintaan sebagai fungsi, maka dapat dimulai dari King (1669) yang menemukan adanya hubungan negatif antara harga dengan kuantitas. Hubungan antara harga dan kuantitas ini kemudian banyak ditunjukan oleh penulis lain sepeti Devenantt, Verri, Cournot, Dupuit, Walras dan Marshall. Cournot maupun Dupuit memformulasikan fungsi permintan sebagai q = f(p) dan menunjukan secara grafis kurve permintaan yang berlereng negatif. Walras melanjutkan konsep Cournot tersebut dan menemukan bahwa fungsi permintaan sebagai suatu sistem (equation system), dimana dalam sistem tersebut jumlah yang diminta merupakan fungsi semua harga barang dan jasa, pendapatan dan selera dengan anggapan pendapatan dan selera konstan. Penemuan Walras tersebut dilengkap oleh Marshall dengan konsep ceteris paribus dan konsep elastisitas permintaan.

c) Kajian Ontologis.

Sebagaimana ditekankan dalam aspek ontologias, yaitu tentang hakikat apa yang dikaji dari suatu ilmu, maka uraian diatas yang membahas tentang teori permintaan telah memberikan hakekat dasar, seperti definisi, demensi hubungan teori permintaan dengan obyeknya ( manusia dengan kebutuhannya serta perilakunya untuk memenuhi kebutuhan tersebut), dan perkembangan teori tersebut.

Secara ringkas kajian ontologis teori permintaan tersebut disajikan pada gambar 2 berikut:

Gambar 2: Kajian Ontologis Teori Permintaan

Manusia:Homoeconomicus

(Masyarakat, rumah tangga,individu

Kebutuhan tak terbatas

Ingin membeli barang dan jasa, tetapi pendapatan terbatas

Utilitas dan preferensi

Perilaku konsumen

Permintaan konsumen

Teori permintaan

(fungsi,kurva,skedul)

Pendekatan-pendekatan dalam teori permintaan

Aspek epistemologi

Dalam landasan ontologis, Suriasumantri (1999 : 89) menyatakan bahwa salah satu aspek penting adalah pengembangan asumsi, dengan memperhatikan dua hal, yaitu: 1) Asumsi harus sesuai dengan bidang dan tujuan pengkajian disiplin keilmuan, 2) asumsi harus disimpulkan dari keadaan sebagaimana adanya.

Dalam konteks teori permintaan, telah dikembangkan asumsi ceteris paribus dan hukum permintaan. Sesuai dengan ketentuan asumsi diatas, maka syarat telaah ilmiah dan moral telah trpenuhi, karena teori permintaan berlaku sebagai akibat fakta empirik. Artinya jika tidak ada pembatasan asumsi, maka teori permintaan tidak dapat berlaku universal dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.

EPISTEMOLOGI TEORI PERMINTAAN

Dalam aspek epistemologis ditekankan pada "Bagaimana mendapatkan pengetahu-an yang benar?". Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka ilmu,teori maupun pengetahuan harus didapatkan melalui metode ilmiah. Peter Senn (1971), Huxley (1964) sebagaimana dikutip oleh Suriasumantri (1999: 119) menyatakan bahwa metode ilmiah merupakan prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah sistematis dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu, dan metode ilmiah merupakan ekspresi mengenai cara bekerjanya pikiran. Dengan cara bekerja ini maka pengetahuan yang dihasilkan diharapkan mempunyai karakteristik tertentu yang diminta oleh pengetahuan ilmiah, yaitu sifat rasional dan teruji, yang memungkinkan bahwa pengetahuan yang disusun merupakan pengetahuan yang dapat diandalkan. Dalam hal inimaka metode ilmiah mencoba menggabungkancara berfikir deduktif dan cara berfikir induktif dalam membangun pengetahuan tersebut.

Dalam konteks epistemologi khususnya dalam metode ilmiah perlu dikembangkan konsep positivisme yang berarti ilmu yang valid adalah ilmu yang dibangun dari empirik . Filsafat positivisme berusaha menyusun bangunan ilmu secara nomothetik yaitu ilmu yang berupaya membuat hukum dari generalisasinya. Kebenaran dicari lewat hubungan kausal linier, tiada akibat tanpa sebab, dan tiada sebab tanpa akibat. Positivisme mempunyai slogan yang tekenal yaitu "savoir pour prevoir, prevoir pour pouvoir" yang artinya dari ilmu muncul prediksi, dan dari prediksi muncul aksi (Triyono; 2003 : 12). Teori kebenaran yang dianut positivisme termasuk teori korespondensi (Muhadjir : 2000 : 13 – 14). Teori korespondensi menyebutkan bahwa suatu pernyataan adalah benar jika terdapat fakta-fakta empiris yang mendukung pernyataan tersebut (Susiasumanrtri : 1999:20) Atau dengan kata lain, suatu pernyataan dianggap benar apabila materi yang terkandung dalam pernyataan tersebut bersesuaian (korespodensi)) dengan obyek faktual yang ditunjuk oleh pernyataan tersebut.

Jika ditinjau dengan teori permintaan, maka perkembangan teori permintaan sampai saat ini merupakan hasil analisis atau pengkajian metode ilmiah yang telah berkembang dengan berbagai pendekatan-pendekatan, model-model, formulasi-formulasi berdasarkan fakta empirik. Penemuan model baru dalam teori permintaan merupakan hasil empirik yang telah diuji sehingga menjadi suatu teori baru. Hal ini dapat dilihat dari model-model permintaan yang dibangun mulai dari Gossen, Jevon, Walras, kemudian Samuelson hingga kepada teori Marshallian sampai perkembangan terakhir dengan munculnya teori permintaan dinamis yang dikembangkan oleh Nerlove, Houthakker dan ekonom-ekonom lainnya (Johanes dan Handoko : 1980, Koutsoyiannis : 1994 : 56).

Dalam pandangan logika positivisme, teori permintaan telah mengembangkan aksioma teori ilmu kedalam logika matematika dan dikembangkan lebih jauh dalam logika induktif yang berkembang dari fakta-fakta fenomenologis ke generalisasi teoritik. Hal ini bisa dilihat dengan pemakaian matematika sebagai alat analisis dalam menyelesaikan masalah-masalah dalam teori permintaan.

Secara epistemologi maka teori permintaan akan diuraikan dalam : a) Pendekatan-pendekatan dalam teori permintaan, b) metode derivasi dan model-model dalam teori permintaan.

a). Pendekatan-pendekatan dalam teori permintaan

Secara epistemologi, metode penentuan fungsi permintaan pada umumnya dilakukan dengan empat pendekatan, yaitu : 1) pendekatan kardinal (Cardinal Approach), 2) pendekatan ordinal (ordinal Approach), 3) pendekatan preferensi nyata (revealed preference) dan 4) pendekatan atribut ( attribute approach).

Pendekatan kardinal

Pendekatan ini dipopulerkan oleh ekonom beraliran subyektif seperti Gossen, Jevons dan Walras. Menurut pendekatan ini : 1) daya guna suatu barang diukur dengan satuan barang atau util, serta tinggi rendahnya nilai atau daya guna tersebut tegantung pada subyek atau pihak yang menilai, 2) semakin berguna suatu barang bagi seseorang maka akan semakin diminati (Joesron dan Fathurrozi, 2003 : 45; Pyndick and Rubinfeld, 1992 : 63; Bilas, 1993 : 38-39 ; Iswardono, 1990 : 27). Adapun asumsi-asumsi dalam pendekatan kardinal ini adalah:

  1. Konsumen bertujuan untuk memaksimumkan kepuasannya dengan kendala pendapatan yang dimiliki dan konsumen bersifat rasional.
  2. Adanya deminishing marginal utility yaitu tambahan utilitas yang diperoleh konsumen semakin menurun dengan bertambahnya konsumsi dari suatu barang.
  3. Pendapatan konsumen dianggap tetap.
  4. Constant marginal utility of money, yaitu uang mempunyai nilai subyektif yang tetap.
  5. Total utility adalah additive dan independen. Additive berarti daya guna sekumpulan barang adalah fungsi kuantitas dari masing-masing barang yang dikonsumsi. Independen berarti daya guna suatu barang tertentu tidak dipengaruhi oleh tindakan mengkonsumsi barang lain.

Pendekatan Ordinal

Pendekatan ini diperkenalkan oleh J.Hicks dan R.J Allen. Menurut pendekatan ini, daya guna suatu barang tidak perlu diukur cukup untuk diketahui dan konsumen mampu untuk membuat rangking daya guna yang diperoleh dengan mengkonsumsi sekelompok barang. Dalam analisisnya pendekatan ordinal ini menggunakan metode-metode indefference curve, budget line, price consumption, kurva Angel, income and substitution effect ( Hick methode and Slutsky methode), elasticity, inferior and giffent goods (Joesron dan Fathurrozi, 2003: 50) Pyndick and Rubinfeld 1992 : 63, Bilas 1993 : 38 – 39) Iswardono: 1990 : 30).

Adapun asumsi pendekatan ordinal adalah :

  1. Konsumen bersikap rasional.
  2. Konsumen mempunyai pola preferensi terhadap barang yang disusun berdsasarkan urutan besar kecilnya daya guna.
  3. Konsumen mempunyai pendapatan sejumlah tertentu.
  4. Konsumen selalu berusaha mencapai kepuasan maksimum.
  5. Konsumen konsisten, artinya bila barang A lebih dipilih daripada barang B, karena barang A lebih disukai daripada barang B, dan tidak berlaku sebaliknya, B lebih dipilih dari pada A.
  6. Berlaku hukum transitif, artinya bila barang A lebih disukai daripada barang B dan B lebih disukai daripada barang C, maka A lebih disukai daripada barang C.

Pendekatan Preferensi Nyata ( Revealed Preference)

Pendekatan ini diperkenalkan oleh Paul A. Samuelson. Pendekatan ini dikembangkan karena adanya kelemahan dari pendekatan ordinal, seperti harus diterimanya asumsi convexity pada indefference curve dan kelemahan dari pendekatan kardinal yaitu daya guna dapat diukur. Dengan pendekatan revealed prefference ini semua kelemahan tersebut dapat dinetralisir karena dengan pendekatan revealed prefference akan dapat diperoleh kurve permintaan secara langsung serta dapat dibuat indefference curve-nya (Joesron dan Fathurrozi, 2003 : 60, Pyndick and Robinfeld 1992 : 80, Bilas 1993 : 89; Henderson dan Quantdt 1980; 45;Varian 1992 : 132). Adapun asumsi-asumsi pendekatan ini adalah:

  1. Konsumen bersikap rasional.
  2. Konsumen konsisten , artinya bila barang A lebih dipilih dari barang B, karena A lebih disukai daripada B dan tidak berlaku sebaliknya, B lebih dipilih daripada A.
  3. Prinsip transitif artinya bila barang A lebih disukai daripada barang B, dan B lebih disukai daripada C, maka A lebih disukai daripada C.
  4. Revealed preference axioma , artinya konsumen akan menyisihkan sejumlah uang tertentu untuk pengeluarannya.

Pendekatan atribut (Attribute Approach)

Pendekatan ini diperkenalkan oelh K.Lancaste. Pendekatan ini berpendapat bahwa konsumen meminta produk bukan karena daya guna produk tersebut, tetapi karena atribut-atribut atau karakteristik yang terkandung dalam produk tersebut (Joerson dan Fathrrozi 2003 :71).

b). Metode Derivasi dan Model-Model Fungsi Permintaan

Barten (1977), Sandhu (1985) sebagaimana dikutip Purwono (1997 : 47) mengemukakan bahwa ada tiga pendekatan utama untuk memperoleh sistem permintaan . Pertama, , dimulai spesifikasi fungsi utilitas kemudian memaksimisasi dengan kendala pendapatan yang ada dan menyelesaikannya dengan sistem pertmintaan yang ada. Kedua, dengan cara spesifikasi fungsi utilitas secara tidak langsung (indirect utility) kemudian mendapatkan sistem permintaan dengan memakai identitas Roy (Roy’s identity) (Henderson dan quant,1980:41,Hartono,2002:147). Kedua pendekatan tersebut mempunyai kelebihan yaitu bahwa sistem permintaan yang diturunkan memenuhi 3 kriteria/restriksi resmi fungsi permintaan yaitu :homogenitas, addivitas negatif dan simetri (Henderson dan Quant, 1980 :39-40,193 – 194). Ketiga , fungsi permintaan langsung dispesifikasi , kemudian fungsi permintaan dimasukan kedalam (imposed) fungsi permintaan yang telah dispesifikasi tersebut. Dengan demikian, untuk memperoleh sistem permintaan dapat dimulai dengan spesifikasi fungsi utilitas dan kemudian memaksimumkannya dengan pembatas (constrains).

Dalam perkembangan selanjutnya, melalui penelitian-penelitian yang bersifat positivisme, Barten (1977) menyebutkan bahwa peranan teori adalah untuk mendukung analisis empirik, tetapi dalam kasus fungsi permintaan Green, Hassan dan Johnson (1984) malahan menyatakan bahwa ada fungsi permintaan yang tidak konsisten dengan teori, yaitu seperti fungsi permintaan dalam bentuk persamaan tunggal double-logarithmic. Bahkan Bernet dan Kasarjian (1987) mengemukakan bahwa: 1) teori permintaan tidak operasional dalam arti sifatnya lebih normatif daripada positif, 2) teori permintaan berorientasi pada produk, bukan pada konsumen, 3) teori permintaan tidak lengkap sebab tidak melibatkan faktor-faktor individu konsumen dan variabel pemasaran (Purwono, 1997:55)

Dalam konteks memperbaiki kelemahan teori tersebut, maka Imre Lakatos telah mengembangkan suatu program riset, disebut Program Riset Lakatosian, untuk memberikan bimbingan riset dimasa mendatang dengan cara positif dan negatif, atau disebut Heuristik Positif dan Heuristik Negatif. Heuristik Negatif adalah program yang menetapkan bahwa asumsi dasar yang melandasi suatu teori yang merupakan inti pokok , seharusnya jangan sampai ditolak atau dimodifikasi. Ia harus dilindungi dari ancaman falsifikasi (disalahkan) dengan berbagai hipotesis pendukung. Heuristik Positif meliputi bimbingan garis- besar yang menunjukan bagaimana program riset itu dapat mengembangkan teori. Perkembangan ini memerlukan asumsi-asumsi tambahan untuk menerangkan fenomena yang sudah dikenal dulu dan meramalkan fenomena baru (Chalmers, 1983:84,Lakatos 1970 :132)

Berdasarkan kelemahan-kelemahan diatas, maka secara empirik dijumpai banyak model-model fungsi permintaan yang digunakan oleh peneliti-peneliti ekonomi. Adapun model-model estimasi untuk permintaan tersebut sebagaimana dikemukakan oleh Purwono (1997 :55,58,60,63,64,66), Henderson and Quandt (1980 : 37), Varian (1992 :212 – 213), Koutsoyiannis ( 1994 : 58) adalah sebagai berikut:

  1. Model Linier Expenditure System (LES ) yang diperkenalkan oleh Richard Stone (1954), dan selanjudnya digunakan dalam aplikasi empirik dengan modifikasi-modifikasi tertentu oleh peneliti-peneliti lainnya antara lain : Pollack dan Wales ( 1969, 1976 ), Park (1969), Barten ( 1977), Green, Hassan, dan Johnson ( 1984), Teklu dan Johnson ( 1986). Model ini digunakan untuk mengestimasi permintaan komoditi dalam kelompok yang banyak dan harga-harga pada tiap kelompok tidak bervariasi.
  2. Model Extended Linier Expenditure System (ELES ) , yang dikembangkan oleh Lluch (1973) yang kemudian digunakan pula oleh peneliti lainnya, seperti : Lluch dan William ( 1975), Cooper dan Mc Laren ( 1981), Eastwood dan Craven (1981). Model ini digunakan untuk mengidentifikasi parameter-parameter dalam expendeture system jika data tentang harga tidak ada.
  3. Model Functionalized Extended Linier Expenditure System (FELES), adalah merupakan pengembangan model ELES dari Lluch dimana parameter-parameter dalam ELES secara eksplisit tergantung pada karakteristik sosial ekonomi dan sosial demografi rumah tangga. Model ini dikembangkan oleh Joachim Merz ( 1983).
  4. Model Indirect Addilog System , yang dikembangkan oleh Houthaker (1960). Model ini diturunkan dari fungsi utilitas tidak langsung (indirect utility functuion) dan otomatis memenuhi syarat restriksi fungsi permintaan: Homogenitas, additivitas dan simetri.
  5. Rotterdam Demand Model, merupakan sistem permintaan yang spesifikasi modelnya langsung dibuat, tidak diturunkan dari satu bentuk fungsi utilitas sebagaimana model permintaan yang lainnya.
  6. Almost ideal demand system model (AIDS), yang dikembangkan oleh Deaton dan Muellbauer (1980) yang kemudian aplikasi dan modifikasinya banyak dilakukan oleh peneliti lainnya, seperti : Blanci forti dan Green (1983), Teklu dan Johnson (1988), Fulponi (1989). Model ini diturunkan dari fungsi biaya atau pengeluaran.

Dalam perkembangan selanjutnya , beberapa pakar telah memasukan unsur dinamika dalam analisis fungsi permintaan untuk menangkap perilaku pembelian dimasa lampau. Pada haekatnya pertimbangan memasukan unsur dinamika didasari pendapat yang mengatakan bahwa perilaku kita sekarang dipengaruhi oleh perilaku dimasa lampau. Variabel-variabel yang memuat nilai-nilai masa lampau itu disebut sebagai lag variabel dan model yang menggunakan lag variabel disebut distributed-lag mdels. Adapun pakar yang mengembangkan model ini .adalah Nerlove, Stone and Rowe, Houthaker and Taylor (Koutsoyiannis, 1994 : 55).

AKSIOLOGI TEORI PERMINTAAN.

Aspek aksiologis dalam filsafat ilmu berusaha menjawab pertanyaan "Untuk apa pengetahuan atau ilmu pengetahuan digunakan?". Suriasumantri (1999 : 249) menyatakan bahwa pengetahuan harus digunakan untuk kemaslahatan manusia.

Dalam konteks aksiologis, teori permintaan telah banyak digunakan untuk mengestimasi permintaan terhadap komoditi-komoditi yang dikonsumsi oleh individu, rumah tangga maupun masyarakat. Peranannya yang paling penting adalah bagaimana memaksimumkan utilitas dari suatu barang ataupun jasa dengan pendapatan tertentu yang dimiliki oleh konsumen. Teori permintaan telah banyak digunakan untuk membantu kebijakan pengambilan keputusan bagi pihak lain, terutama untuk sisi penawaran atau produsen (pengusaha) untuk membuat peramalan-peramalan produk dan jasa dimasa yang akan datang.

KESIMPULAN

Filsafat ilmu merupakan telaah secara filsafat tentang ilmu atau pengetahuan. Dalam filsafat ilmu setiap ilmu , pengetahuan ataupun teori dapat dikaji atau ditelaah dari aspek ontologi, epistemologi dan aksiologi, dan ketiga aspek ini menjadi landasan suatu ilmu untuk berkembang. Tujuannya adalah untuk mengembangkan disiplin ilmu dengan penuh tanggung jawab dan sungguh-sungguh sehingga bermanfaat untuk masyarakat dan untuk pengembangan ilmu itu sendiri.

Dalam konteks teori permintaan sebagai bagian dari ilmu ekonomi mikro, maka aspek ontologi meliputi: manusia sebagai homoeconomicus yang memiliki kebutuhan tidak terbatas, sementara alat pemuas kebutuhan terbatas. Keadaan ini memunculkan adanya pemaksimuman utilitas dengan perilaku konsumen. Dari perilaku konsumen maka dapat diturunkan fungsi-fungsi permintaan dengan berbagai pendekatan-pendekatan.

Dari aspek epistemologi, teori permintaan dikaji berdasarkan metode-metode ilmiah dengan melakukan pendekatan kardinal, ordinal, revealed preference dan atribut yang selanjutnya dikembangkan dengan motode derivasi fungsi permintaan. Teori permintaan terus dikaji dengan pendekatan positivisme maupun dengan program-program riset heuristik positif dan heuristik negatif. Sebagai hasilnya muncullah berbagai metode yang dikemabngkan oleh ahli-ahli ekonomi yang digunakan dalam penelitian-penelitian estimasi seperti : LES, ELES, FELES , Indirect Addilog System, Rotterdam Demand Model, AIDS. Dalam perkambangan selanjutnya para ahli ekonomi telah memasukan unsur dinamika dalam mengestimasi fungsi permintaan dengan memasuksan lag variables.

Dari aspek aksiologi, maka teori permintaan telah diaplikasikan sebagai alat untuk perencanaan dan peramalan bagi produsen atau perusahaan (sisi penawaran) untuk memproduksi produk maupun jasa.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Lincolin (1991), Ikhtisar teori dan Soal Jawab Ekonomi Mikro, Edisi 1, penerbit BPFE, Yogyakarta.

Bilas, Richard A (1993), Teori Mikro Ekonomi, Edisi ke dua, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Chalmers, AF (1983), Apa itu yang dinmakan ilmu?, Penerbit Hasta Mitra, Jakarta.

Harrison-Barret, Anthony (1990), Mastering Philosophy, MacMillan Education Ltd, London Uk.

Hartono, Jogiyanto (2002), Teori Ekonomi Mikro, Analisis matematis, Penerbit Andi Yogyakarta.

Henderson, James M, Richard E. Quandt (1980), Micro Economic Theory: Mathematical Approach.,Third edition, McGraw-Hill Book Company, Singapore.

Iswardono SP (1990) Economika Mikro, Penerbit AMP YKPN, Yogyakarta.

Joesron, Tati Suharti, Fathorrozi (2003), Teori Ekonomi Mikro , Penerbit Salemba empat, Jakarta.

Johanes, H, Budiono Sri Handoko (1980), Pengantar Matematika Untuk Ekonomi, Penerbit LP3ES, Jakarta.

Koutsoyiannis, A (1994), Modern Microeconomics, Second Edition, The MacMillan Press Ltd, London.

Lakatos, Imre (1970) Falsification and the Methodology of Sciencetific Research Programmes , Cambridge Univercity Press, London.

Lipsey, Richard, Peter O. Steiner, Douglas D.Purvis, Paul N. Courant (1990), Microeconomics, Ninth edition, Harper Collins Publishers, New York.

Muhadjir, Noeng (2000), Metodologi Penelitian Kualitatif ,Edisi IV, Penerbit Rake Sarasin, Yogyakarta.

Pindycs, Robert S, Daniel L. Rubinfeld (1992) Microeconomics, Second edition, MacMillan Publishing Company New York,

Purwono, Dwi setia (1997), Ketersediaan Ikan dan Akseptabilitasnya Oleh Konsumen Dalam Estimasi Permintaan Rumah Tangga Terhadap Beberapa Jenis Ikan Segar (Servsi di kota pantai dan pegunungan di Jawa Tengah) Desertasi, Universitas Padjajaran Bandung.

Suriasumantre,Jujun,S (1999) Filsafat Ilmu: Sebuah pengantar populer, Penerbit Pustaka Harapan , Jakarta.

Triyono (2003), Paradigma Metodologi Akuntansi Positif Dalam Perspektif Filsafat Ilmu, Jurnal Bisnis Strategi, Penerbit FE-Undip Vol 11/Juli/Tahun VIII/2003 Hal 12 – 22.

Varian, Hal R (1992), Microeconomics Analysis, Third Edtion,WW. Norton and Company, New York.

Tidak ada komentar: