photo KoleksiSkripsiHeader.gif HP CS Kami 0852.25.88.77.47(AS), 0857.0.1111.632(IM3), email:IDTesis@gmail.com

BIAYA VARIABILITAS AQL VS ROBUST ZERO DEFECT

JURNAL BISNIS DAN EKONOMI, MARET 2000

BIAYA VARIABILITAS AQL VS ROBUST ZERO DEFECT

Oleh : MG. Kentris Indarti

STIE Stikubank Semarang

ABSTRACT

Quality has become such an important strategic variable that management accounting can no longer ignor it. Acceptable Quality Level (AQL) and Robust Zero Defects are two quality philosophies that is used to help US companies to compete in the global market. With the AQL philosophi, the only cost attributed to variation occurs when products fall out side the spesification limits. Thus, the cost variaton depens on whether the product can be reworked, if there are constrains on production, and the distance between product specification limits is wide. On the other hand, a Robust Zero Defect claims that any variation is undesirable and causes costs to be incurred by manufacturer, consumer, or society.

An important measure in any quality philosophi is the cost of product variability. Variability cost information is needed to help managers to serve as input for decision making. It can be used to evaluate the overall performance of quality improvement programs. It can also be used to help improve a variaty of managerial decision, for example strategic pricing, and new product analysis.

PENDAHULUAN

Dewasa ini kualitas dikenal luas sebagai senjata kunci persaingan dalam pasar bebas. Perusahaan-perusahaan seperti American Express, Ford, General Electric, IBM, dan Xerox mementingkan kualitas dalam strategi umum mereka.(Sank and Govindarajan: 1994)

Istilah kualitas mempunyai berbagai pengertian tergantung pada konteks yang digunakan. Dalam kaitannya dengan produk, kualitas mempunyai arti memenuhi spesifikasi tertentu (conforming to specifications) atau kemampuan atau kesesuaian untuk digunakan (fitness for use). Meskipun bagi kebanyakan orang dua arti tersebut mempunyai arti yang sama, tetapi kedua pengertian tersebut mempunyai implikasi yang berbeda pada evaluasi kualitas dan variabilitas produk.

Filosofi yang mendasari definisi conformance to spesifications biasanya mengarah pada pendekatan kualitas AQL (Acceptable Quality Level),. Filosofi AQL dikemukakan oleh Joseph Juran seorang pioner kualitas pada tahun 1950-an. Meskipun pendekatan ini bisa dikatakan sebagai pandangan tradisional, tetapi sampai saat ini masih digunakan secara luas oleh para manajer di seluruh dunia. Alasannya adalah mengestimasi tingkat kerusakan produk (product defect) sampai pada titik nol adalah sangat mahal.(Hansen and Mowen: 1997)

Sementara filosofi fitness for use mengarah pada pendekatan kualitas Robust Zero Defects yang dikemukakan oleh Edward Deming. Menurut pandangan ini setiap penyimpangan dari nilai target merupakan kondisi di luar ideal dengan konsekuensi ekonomi yang potensial sehingga akan menyebabkan kerugian. Jadi robust quality akan tercapai bila perusahaan secara konsisten memenuhi target kualitas dengan tepat.

Suatu penelitian yang dilakukan oleh Sony Coorporation mendukung gagasan bahwa terdapat hubungan antara variabilitas dengan pendekatan/filosofi yang digunakan yaitu AQL atau Robust Zero Defects. Studi ini melibatkan color density dari televisi yang dihasilkan oleh dua fasilitas manufaktur, yaitu di San Diego Amerika Serikat dan di Tokyo Jepang. (Roth, et. All: 1997)

Distribusi color density unutk masing-masing wilayah manufaktur ditunjukkan dalam gambar 1 berikut ini.

Gambar 1

Distribusi Color Density

SONY TOKYO VS SONY SAN DIEGO

TOKYO TV

SAN DIEGO TV

Batas Spesifikasi Target Value Batas spesifikasi

Bawah Atas

Secara umum, Sony Coorporation mempertimbangkan bahwa setiap televisi yang mempunyai color density di bawah batas spesifikasi bawah dan di atas batas spesifikasi atas merupakan produk rusak (defective product). Akan tetapi pendekatan kualitas di kedua wilayah manufaktur tersebut berbeda, yaitu Sony Tokyo menggunakan pendekatan Robust Zero defects sedangkan Sony San Diego menggunakan pendekatan AQL..

Sony Tokyo berusaha keras (strive) untuk memproduksi televisi pada nilai target dan tidak melakukan inspeksi pada masing-masing unit. Jadi, semua produk yang tidak memenuhi spesifikasi dikirim kepada customer sebagai bukti dari ekor distribusi (tail of the distribution) yang berada di luar batas spesifikasi. Sebaliknya, Sony San Diego menggunakan inspeksi 100% untuk menjamin bahwa televisi berada dalam batas spesifikasi yang telah ditentukan dan mencegah pengiriman produk rusak kepada distributor.

Setelah mempelajari output dari kedua pabrik tersebut, Sony menemukan bahwa meskipun jumlah unit yang rusak adalah sama untuk kedua wilayah pabrik tersebut tetapi penyimpangan di sekitar batas spesifikasinya adalah berbeda. Seperti ditunjukkan dalam gambar 1 terdapat penyimpangan yang lebih rendah pada televisi yang dihasilkan oleh Sony Tokyo karena dirancang sesuai dengan target value. Distribusi color density dari pabrik yang ada di San Diego (ditunjukkan dalam distribusi empat persegi panjang) menunjukkan penyimpangan yang lebih besar dari pada Sony Tokyo.

Customer yang membeli televisi yang diproduksi oleh Sony Tokyo dilaporkan lebih puas dan lebih sedikit klaim garansi yang diajukan daripada customer yang membeli televisi dari Sony San Diego. Pengalaman Sony ini menunjukkan dengan jelas bahwa variabilitas dari nilai target mempunyai implikasi pada kepuasan konsumen yang pada akhirnya akan berimplikasi pada biaya (cost).

BIAYA VARIABILITAS DAN PENGUKURANNYA

Variabilitas produk adalah penyimpangan produk yang dihasilkan oleh suatu perusahaan dari nilai target atau batas spesifikasi yang telah ditetapkan. Peran variabilitas produk dalam mengevaluasi kualitas produk tergantung pada apakah perusahaan mengadopsi filosofi AQL atau Robust Zero Defects.

Pada pandangan AQL, penyimpangan yang ditolelir berada dalam batas tertentu yaitu jarak antara batas bawah (lower spesification limit) dan batas atas (upper spesification limit).Biaya yang timbul karena penyimpangan tetapi masih dalam range tersebut, tidak masuk dalam biaya variabilitas (cost of variability). Jadi biaya variabilitas timbul kalau produk berada di luar batas yang ditoleransi. Sebaliknya pada pendekatan Robust Zero Defects, setiap penyimpangan dari nilai target kualitas adalah merupakan kerugian yang diperhitungkan sebagai biaya variabilitas.

Ada beberapa biaya yang berhubungan dengan penyimpangan atribut produk, misalnya biaya bahan baku akan lebih besar bila produk menggunakan bahan baku yang melebihi standar (target value). Demikian juga, variabilitas dalam ketebalan atau berat bahan baku akan mengakibatkan tambahan pemakaian mesin sehingga biaya reparasi dan pemeliharaan mungkin akan lebih tinggi.

Di samping itu, produk yang melebihi target penggunaan bahan baku akan menyebabkan biaya angkut yang lebih tinggi karena beratnya melebihi target.Akan tetapi biaya-biaya ini tidak dihubungkan pada variabilitas dalam filosofi AQL. Malahan, biaya variabilitas diperhitungkan hanya bila produk berada di luar batas-batas spesifikasi tertentu. Bila produk memenuhi spesifikasi tertentu, diasumsikan bahwa produk memenuhi harapan customer.

Biaya yang dibebankan bila produk berada di luar batas-batas spesifikasi tertentu tergantung tiga faktor, yaitu:

- apakah produk dapat diperbaiki (rework/repair)

- kendala produksi

- di mana batas-batas spesifikasi dirancang

Bila produk berada di luar batas spesifikasi, biaya yang diperlukan untuk reparasi atau pengerjaan kembali mungkin lebih murah daripada kerugian bila produk tersebut dibuang. Bila produk yang diperbaiki kemudian dapat dijual, berarti tidak ada kerugian bahan baku atau suku cadang yang membentuk produk akhir. Di samping itu, biaya disposal dapat dikurangi atau dihindari oleh produsen, sehingga biaya akan lebih rendah bila rework dimungkinkan.

Kendala yang ada dalam proses produksi juga mempengaruhi besarnya biaya. Jika terdapat kelebihan kapasitas dan unit tambahan dapat diproduksi untuk menggantikan produk yang tidak sesuai dengan standar, biaya yang dibebankan karena produk gagal memenuhi spesifikasi tergantung pada apakah unit yang tidak memenuhi standar tersebut dapat dijual atau hanya dibuang. Tetapi jika unit tambahan tidak dapat dihasilkan, maka biaya variabilitas akan mencakup juga biaya kesempatan (opportunity cost) karena hilangnya kesempatan untuk menjual produk. Jadi, biaya ekonomis karena lost production lebih tinggi bila ada kendala proses produksi.

Berbagai biaya dibebankan bila produk berada di luar batas spesifikasi. Biaya ini mencakup biaya-biaya seperti inspeksi dan rework. Jika produk dapat dijual sebagai produk dengan kualitas pertama setelah adanya rework, biaya rework yang dikeluarkan merupakan total biaya variabilitas. Jika unit produk yang dirework tidak dapat dijual sebagai produk dengan kualitas pertama, maka biaya variabilitas meliputi biaya rework dan biaya kesempatan. Biaya kesempatan akan relevan bila produk kualitas kedua menggantikan penjualan untuk produk kualitas pertama. Dalam kasus ini, biaya kesempatan yang merupakan biaya variabilitas adalah sebesar selisih antara contribution margin produk kualitas pertama dengan contribution margin aktual.

Jika produk yang berada di luar batas spesifikasi tidak dapat dirework dan harus dibuang, maka biaya variabilitas meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya lain yang digunakan untuk menghasilkan produk tersebut.

Berikut ini diberikan suatu contoh perhitungan biaya variabilitas.

Perusahaan ‘MUTUSAE" menghasilkan suatu produk yang dijual dengan harga Rp 50 per unit. Biaya produksi variabel per unit Rp 20, dan contribusi margin sebesar Rp 30. Selama bulan Maret 2000, perusahaan menghasilkan 100.000 unit dan menggunakan seluruh jam mesin yang tersedia. Seluruh produk yang dihasilkan laku dijual.

Bagi perusahaan "MUTUSAE", berat merupakan dimensi kritis untuk produk yang dihasilkan tersebut. Nilai target (target value) untuk masing-masing produk adalah 20 kg dan batas-batas spesifikasi dirancang plus atau minus 2kg. Untuk produk yang dihasilkan pada bulan Maret 2000 tersebut, berat mengikuti distribusi normal dengan rata-rata 20 kg dan deviasi standar 0,8 kg. Gambar 2 menunjukkan distribusi berat dari proses produksi yang ada pada perusahaan.

Seperti ditunjukkan dalam Gambar 2 bahwa sebagian besar produk berada dalam range antara 18 kg dan 22 kg, yang berarti memenuhi spesifikasi. Akan tetapi beberapa produk mempunyai berat di bawah batas bawah 18 kg dan di atas batas atas 22 kg.

Untuk menghitung jumlah produk yang tidak memenuhi batas spesifikasi, digunakan dua pendekatan yaitu:

1. Acceptable Quality Level (AQL)

2. Quality Loss Function yang merupakan cara untuk mengukur besarnya biaya variabilitas dalam pendekatan Robust Zero Defects.(Taguchi and Clausing: 1990)

Gambar 2

Distribusi Produk

------------!--------------------------!---------------------------!------------

18 kg 20 kg 22 kg

Batas spesifikasi Rata-rata Batas spesifikasi

Bawah Atas

Z = ( x –x ) / s = ( 22 – 20 ) / 0.8 = 2.5

Acceptable Quality Level (AQL)

Untuk menghitung jumlah produk yang tidak memenuhi standar harus dihitung terlebih dahulu niai z (z-value). Dari gambar 2 dapat dilihat besarnya z-value adalah 2,5. Dengan z = 2,5, tabel untuk kurve normal menunjukkan 0,0062% (Grant and Leavenworth: 1980) dari observasi melebihi 22 kg. Oleh karena distribusi tersebut simetris, maka jumlah yang sama berada dibawah batas bawah 18 kg. Jadi, jumlah produk yang berada di luar batas spesifikasi untuk bulan Maret 2000 adalah 100.000 (2 x 0,0062) = 1240 unit

Besarnya biaya yang disebabkan oleh variabilitas dari 1240 produk tersebut tergantung pada kondisi masing-masing produk tersebut. Tabel 1 berikut ini merupakan ringkasan biaya variabilitas unutk berbagai kondisi.

Dari tabel 1 di atas, besarnya biaya variabilitas dapat dihitung dengan mengalikan jumlah unit produk yang tidak memenuhi spesifikasi dengan biaya per unitnya. Dari 1240 unit produk yang tidak memenuhi spesifikasi tersebut, biaya variabilitas dapat berkisar antara Rp 14.880 (Rp 12 x 1240) jika produk dapat dirework dan dijual pada kualitas pertama sampai dengan Rp 68. 200 (Rp 55 x 1240) jika produk tidak dapat dirework dan harus dibuang dengan biaya Rp 5 per unit.

Tabel 1

Biaya Variabilitas

Harga jual produk kualitas pertama Rp 50

Harga jual produk kualitas kedua Rp 45

Biaya produksi variabel Rp 20

Contribution margin per unit Rp 30

Biaya rework per unit Rp 12

Biaya disposal per unit Rp 5

Kondisi

Biaya Produksi Variabel

Biaya Rework

Biaya Disposal

Lost Contribution Margin

Total Biaya per Unit

Unit yang dirework dan dijual pada harga Rp 50

12

12

Unit yang dirework dan dijual pada harga Rp 40

12

5

17

Unit yang tidak dapat dirework dan tidak mempunyai biaya disposal

20

30

50

Unit yang tidak dapat dirework dan mem-punyai biaya disposal Rp 5

20

5

30

55

Quality Loss Function (QLF)

Quality Loss Function (QLF) merupakan bagian dari filosofi Taguchi Quality. QLF didasarkan pada pandangan bahwa setiap variabilitas dari target akan menyebabkan kerugian. Jadi pendukung pandangan ini yakin bahwa setiap variabilitas adalah mahal bahkan meski produk berada dalam batas spesifikasi.

Ada beberapa variasi Quality Loss Function, pemilihan mana yang akan digunakan tergantung pada bagaimana kualitas diukur. Dari contoh yang disajikan di atas, karakteristik kualitas yaitu berat sehingga nominal merupakan fungsi yang lebih baik . Dengan kata lain, target value sebesar 20 kg merupakan nilai nominal dan produksi seharusnya berusaha keras (strive) untuk membuat produk yang beratnya 20 kg. Setiap penyimpangan dari nilai target ini akan menyebabkan kerugian di dalam Quality Loss Function.

Quality Loss Function merupakan fungsi kuadrat di mana biaya akan meningkat sejalan dengan peningkatan penyimpangan (deviasi) karakteristik produk dari nilai targetnya. Gambar 3 berikut ini menunjukkan Quality Loss Function.

Gambar 3

Taguchi Quality Loss Function

--------------------------------!-------------------------------

Batas Spesifikasi Target Value Batas Spesifikasi

Bawah Atas

Untuk menghitung total kerugian pada bulan Maret dengan quality loss function, harus dihitung terlebih dahulu kerugian rata-rata per unit kemudian dikalikan dengan jumlah total unit. Untuk mengestimasi kerugian rata-rata per unit, harus diketahui nilai rata-rata (dari contoh diketahui rata-rata/mean = 20 kg) dan deviasi standarnya (0,8 kg). Tabel 2 berikut ini menyajikan formula untuk menghitung quality loss untuk satu unit produk.

Tabel 2

Pengukuran Quality Loss

Quality Loss per unit produk:

L = k(Y -T)2

Di mana L = Kerugian per unit

Y = Nilai aktual karakteristik

T = Nilai target karakteristik

k = Konstan

Nilai k dihitung dengan rumus:

C

k = --

d2

Di mana c = Kerugian yang berkaitan dengan satu unit yang diproduksi pada batas spesifikasi

d = Jarak antara target value dengan batas spesifikasi

Dari contoh di atas, jika kerugian untuk satu unit pada batas spesifikasi adalah Rp 12, maka besarnya k adalah:

k = 12 = Rp 12 = Rp 3

(22 – 20)2 22

Kerugian Rata-rata per Unit:

Kerugian Rata-rata = k {s2 + (Y -T)2}

Di mana s = deviasi standar

Y = rata-rata (mean)

T = nilai target

k = konstan

Dari data di atas, kerugian rata-rata per unit adalah:

Rp 3 {0,82 + (20 - 20)2} = Rp 3 x 0,64 = Rp 1,92

Dari 100.000 unit produk yang dihasilkan pada bulan Maret 2000, besarnya quality loss adalah Rp 1,92 x 100.000 = Rp 192.000

Dari contoh perhitungan biaya variabilitas dengan menggunakan kedua pendekatan tersebut, dapat dilihat bahwa pendekatan AQL akan menghasilkan biaya variabilitas yang lebih rendah daripada pendekatan Robust Zero Defects. Alasannya adalah bahwa dalam pendekatan Robust Zero defects (Quality Loss Function), biaya variabilitas mencakup biaya untuk setiap unit yang menyimpang dari nilai target tanpa memperhatikan apakah produk tersebut masih dalam batas spesifikasi atau tidak.

Kedua pendekatan di atas memberikan gambaran bagi organisasi tentang pendekatan kualitas yang akan digunakan. Tentu saja kedua pendekatan tersebut akan mempunyai konsekuensi yang berbeda. Hal yang penting adalah pengukuran variabilitas seharusnya memberikan informasi kepada manager sehingga dapat membantu mereka dalam meningkatakan operasionalnya dengan cara mengidentifikasi kesempatan-kesempatan untuk meningkatkan kualitas produk. Jika bagian tertentu dari suatu produk dapat diidentifikasi sebagai sumber variabilitas, maka manajer akan mengetahui di mana seharusnya usaha meningkatkan kualitas difokuskan. Usaha-usaha yang bisa dilakukan antara lain pendidikan dan pelatihan tenaga kerja, redesigning proses produksi, investasi dalam peralatan (equipment), dan bahkan melakukan redesigning terhadap produk.

Pengukuran biaya variabilitas seharusnya juga dapat membantu manajer dalam memecahkan masalah kualitas yang dihadapi. Jika manajer tidak mendefinisikan kualitas dengan jelas, mereka tidak akan menyadari jenis biaya yang berkaitan dengan variabilitas dan besarnya (magnitute) biaya variabilitas. Dengan mengestimasi biaya , manajer dapat lebih memahami implikasi keuangan dari variabilitas dan penghematan yang mungkin bisa dilakukan dengan adanya penurunan variabiliatas produk.

KESIMPULAN

Dalam dunia bisnis yang penuh dengan kompetisi seperti dewasa ini, kualitas merupakan suatu hal yang tidak bisa diabaikan lagi. Kualitas produk yang tidak memadai akan berdampak pada ketidakpuasan customer yang pada akhirnya akan berdampak pada kenaikan biaya (cost). Oleh karena itu suatu perusahaan harus mempunyai skill untuk bisa mengurangi biaya sekaligus mempertahankan posisi strategisnya. Caranya adalah dengan menjaga kualitas dan mengenali setiap penyimpangan terhadap kualitas yang terjadi.

Variabilitas produk adalah penyimpangan produk yang dihasilkan oleh suatu perusahaan dari nilai target atau batas spesifikasi yang telah ditetapkan. Peran variabilitas produk dalam mengevaluasi kualitas produk tergantung pada apakah perusahaan mengadopsi filosofi AQL atau Robust Zero Defects.

Pada pandangan AQL, penyimpangan yang ditolelir berada dalam batas tertentu yaitu jarak antara batas bawah (lower spesification limit) dan batas atas (upper spesification limit).Biaya yang timbul karena penyimpangan tetapi masih dalam range tersebut, tidak masuk dalam biaya variabilitas (cost of variability). Jadi biaya variabilitas timbul kalau produk berada di luar batas yang ditoleransi. Sebaliknya pada pendekatan Robust Zero Defects, setiap penyimpangan dari nilai target kualitas adalah merupakan kerugian yang diperhitungkan sebagi biaya variabilitas.

Dari contoh perhitungan besarnya biaya variabilitas dengan menggunakan kedua metode tersebut akan menghasilkan biaya variabilitas yang berbeda. Biaya variabilitas dengan menggunakan pendekatan AQL besarnya berkisar antara Rp 14.800 sampai dengan Rp 68.200, sedangkan dengan pendekatan Robust Zero Defect sebesar Rp 194.000. Kedua pendekatan di atas memberikan gambaran bagi organisasi tentang pendekatan kualitas yang akan digunakan. Tentu saja kedua pendekatan tersebut akan mempunyai konsekuensi yang berbeda. Untuk memilih pendekatan mana yang akan digunakan oleh suatu perusahaan, banyak faktor yang harus dipertimbangkan. Suatu perusahaan bisa memilih pendekatan AQL dengan alasan mengestimasi tingkat kerusakan produk sampai pada titik nol adalah sangat mahal. Bila perusahaan mengadopsi pendekatan ini, maka sebenarnya terdapat biaya penyimpangan yang tidak diperhitungkan oleh perusahaan. Akibatnya adalah ketidakpuasan konsumen, yang pada akhirnya akan merugikan perusahaan sendiri.

Sebaliknya bila perusahaan menggunakan pendekatan Robust Zero Defect, maka perusahaan tersebut harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit. Biaya tersebut diperlukan antara lain untuk mempersiapkan tenaga dengan skill tertentu, investasi peralatan, desain produk, dan desain proses produksi untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan kualitas yang ditargetkan (target value). Akan tetapi efek dari pendekatan ini adalah terciptanya customer value, yang pada akhirnya akan menguntungkan perusahaan itu sendiri.

Hal yang penting adalah pengukuran variabilitas seharusnya memberikan informasi kepada manager sehingga dapat membantu mereka dalam meningkatakan operasionalnya dengan cara mengidentifikasi kesempatan-kesempatan untuk meningkatkan kualitas produk. Jika bagian tertentu dari suatu produk dapat diidentifikasi sebagai sumber variabilitas, maka manajer akan mengetahui di mana seharusnya usaha meningkatkan kualitas difokuskan. Usaha-usaha yang bisa dilakukan antara lain dengan pendidikan dan pelatihan tenaga kerja, redesigning proses produksi, investasi dalam peralatan (equipment), dan bahkan melakukan redesigning terhadap produk.

Pengukuran biaya variabilitas seharusnya juga dapat membantu manajer dalam memecahkan masalah kualitas yang dihadapi. Jika manajer tidak mendefinisikan kualitas dengan jelas, mereka tidak akan menyadari jenis biaya yang berkaitan dengan variabilitas dan besarnya (magnitute) biaya variabilitas. Dengan mengestimasi biaya , manajer dapat lebih memahami implikasi keuangan dari variabilitas dan penghematan yang mungkin bisa dilakukan dengan adanya penurunan variabiliatas produk.

REFERENSI:

Genichi Taguchi and Don Clausing, Robust Quality, Havard Business Review, January-February 1990.

Eugene L. Grant and Richard S. Leavenworth, Statistic Quality Control, 5th ed., McGraw-Hill Book Company, New York, 1980.

John K. Shank and Govindarajan, Measuring the Cost of Quality: A Strategic Cost Management Perspective, Journal of Cost Management, Spring 1994

Hansen Don. R & Mowen Maryanne M, Management Accounting, Cincinati, Ohio South-Western Publishing, 1997

Roth, Harold P & Albright Thomas L, What Are the Cost of Variability?, Reading In Management Accounting, Prentice Hall Inc., 1997

Tidak ada komentar: