photo KoleksiSkripsiHeader.gif HP CS Kami 0852.25.88.77.47(AS), 0857.0.1111.632(IM3), email:IDTesis@gmail.com

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DIVIDEN PAYOUT RATIO PADA INDUSTRI PERBANKAN YANG LISTED DI BURSA EFEK JAKARTA ( BEJ )

JURNAL BISNIS DAN EKONOMI, MARET 02

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DIVIDEN PAYOUT RATIO PADA INDUSTRI PERBANKAN YANG LISTED DI BURSA EFEK JAKARTA ( BEJ )

Oleh : Sri Sudarsi

STIE Stikubank Semarang

ABSTRACT

This article is the result of the research that investigates the impact of many factors on divident payout ratio in banking industries. This investigation has found multicoliniearity beetwen DER factor and Size factor, so it will not be analyzed in this article. Unlike previous studies, the result doesn’t show a consistent and low significant relationship. This mean that cash position, profitability and growth potential have no significant relationship with divident policy.

Keywords : Cash Position, Profitability, Growth Potential and Divident Policy.

  1. PENDAHULUAN

Kebijakan dividen pada industri perbankan merupakan kebijakan yang sangat penting, sebab akan melibatkan dua pihak yaitu pemegang saham dan manajemen bank yang dapat mempunyai kepentingan yang berbeda. Dividen diartikan sebagai pembayaran kepada pemegang saham oleh perusahaan bank atas keuntungan yang diperolehnya. Kebijakan dividen adalah kebijakan yang berkaitan dengan pembayaran dividen oleh bank, berupa penentuan besarnya pembayaran dividen dan besarnya laba yang ditahan untuk kepentingan perusahaan (bank).

Brigham dan Gapenski (1999) menyatakan bahwa setiap perubahan dalam kebijakan pembayaran dividen akan memiliki dua dampak yang berlawanan . Apabila dividen akan dibayarkan semua, kepentingan cadangan akan terabaikan. Sebaliknya bila laba akan ditahan semua, maka kepentingan pemegang saham akan uang kas juga terabaikan. Untuk menjaga kedua kepentingan, manajer keuangan harus menempuh kebijakan dividen yang optimal. Teori kebijakan dividen yang optimal diartikan sebagai rasio pembayaran dividen yang ditetapkan dengan memperhatikan kesempatan untuk menginvestasikan dana serta berbagai preferensi yang dimiliki para investor mengenai dividen daripada capital gain (Husnan, 1988). Kebijakan dividen tersebut juga dipandang untuk menciptakan keseimbangan diantara dividen saat ini dan pertumbuhan dimasa mendatang sehingga memaksimumkan harga saham.

Pertumbuhan bank secara terus menerus adalah diperlukan agar dapat hidup dan memberi kemakmuran yang lebih tinggi kepada pemilik saham. Untuk tumbuh, perusahaan memerlukan dana yang lebih besar untuk mendanai perluasan invenstasinya. Dana tersebut dapat diperoleh dari berbagai sumber baik sumber internal maupun sumber eksternal. Sumber internal dapat berupa depresiasi dan laba ditahan. Sumber dana eksternal dapat berupa pinjaman dari bank lain atau lembaga keuangannya lainnya, menjual obligasi atau menjual saham baru. Apabila perusahaan mengandalkan pendanaan investasi dengan menggunakan laba ditahan maka dividen yang dibagikan akan berkurang. Sebaliknya bila perusahaan menggunakan sumber dana eksternal maka ada kecenderungan membagikan dividen yang lebih besar. Karakteristik bank adalah memiliki leverage ratio yang relatif sangat besar dibandingkan dnegan perushaan manufaktur. Leverage yang sangat besar ini menunjukkan bahwa bank lebih mengandalkan dana dari pihak eksternal khususnya dana pihak ketiga (masyarakat). Hal ini tentu akan mempengaruhi perilaku kebijakan dividen yang berbeda dengan pada industri manufaktur.

Bagi para pemegang saham yang tidak menyukai risiko akan mensyaratkan bahwa semakin tinggi risiko suatu bank semakin tinggi tingkat keuntungan yang diharapkan sebagai imbalan. Dividen yang ada saat ini mempunyai nilai yang lebih tinggi daripada capital gain yang akan diterima dimasa mendatang. Dengan demikian pemegang saham yang takut risiko akan lebih menyukai menerima dividen daripada capital gain.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen antara lain yang dikemukakan oleh Bambang Riyanto (1995) bahwa kebijakan dividen itu dipengaruhi oleh posisi likuiditas, kebutuhan dana untuk membayar hutang, tingkat pertumbuhan bank dan pengawasan terhadap bank. Sedangkan Husnan dan Puji Astuti (1994) menyebutkan faktor operating cash flow, tingkat laba, kesempatan investasi, biaya transaksi, dan pajak perorangan. Beberapa faktor tersebut bisa menyebabkan pembayaran dividen yang lebih tinggi dan beberapa faktor berpengaruh sebaliknya. Oleh karena itu penelitian terhadap factor-faktor yang mempengaruhi dividen payout ratio di dunia perbankan perlu dilakukan apakah factor tersebut konsisten /tetap berpengaruh. Bagaimanakah pengaruh faktor posisi kas, profitabilitas, potensi pertumbuhan, ukuran perusahaan dan debt to equity ratio terhadap dividen payout ratio pada Industri Perbankan yang aktif listed di Bursa Efek Jakarta. Faktor manakah yang paling dominan mempengaruhi divident payout ratio pada Industri perbankan di Bursa Efek Jakarta. Dengan demikian terdapat kontribusi untuk membuktikan apakah terjadi penguatan konsistensi terhadap teori maupun proporsi yang terjadi selama ini atau sebaliknya. Penulisan hasil penelitian ini diwalai dengan pendahuluan/latar belakang, kemudian tinajuan teori yang relevan dalam penelitian . pada bagian berikutnya disajikan hasil dan keseimpulan penelitian, tentu saja disajikan keterbatasan-keterbatasan yang mungkin timbul berkaitan dengan hasil ini.

  1. TINJAUAN TEORI.

Pada hasil penelitian ini, peneliti memfokuskan pada faktor-faktor yang didukung oleh data di Bursa Efek Jakarta.. Faktor tersebut pertama adalah posisi kas. Bagi bank yang memiliki posisi kas yang semakin kuat akan semakin besar kemampuannya untuk membayar dividen. Faktor ini merupakan faktor internal yang dapat dikendalikan oleh manajemen sehingga pengaruhnya dapat dirasakan secara langsung bagi kebijakan dividen.

Kedua adalah profitabilitas juga memiliki pengaruh terhadap kebijakan dividen.. Dividen adalah sebagian dari laba bersih yang diperoleh perusahaan, oleh karena itu dividen akan dibagikan apabila perusahaan memperoleh keuntungan. Keuntungan yang layak dibagikan kepada pemegang saham adalah keuntungan setelah perusahaan memenuhi kewajiban-kewajiban tetapnya yaitu bunga dan pajak. Oleh karena itu dividen yang diambilkan dari keuntungan bersih akan mempengaruhi divident payout ratio. Perusahaan yang semakin besar keuntungannya akan membayar porsi pendapatan yang semakin besar sebagai dividen.

Ketiga adalah faktor potensi pertumbuhan. Semakin cepat tingkat pertumbuhan perusahaan, semakin besar kebutuhan akan dana untuk membiayai perluasan. semakin besar kebutuhan dana dimasa mendatang, semakin mungkiin perusahaan menahan pendapatan, bukan membayarkannya sebagai dividen. Karena itu potensi pertumbuhan bank menjadi faktor penting dalam kebijakan dividen.

Keempat adalah faktor firm size. Faktor ini menjelaskan bahwa suatu bank yang mapan dan besar memiliki akses yang lebih mudah ke pasar modal, sedangkan bank kecil tidak mudah. Kemudahan aksesibilitas ke pasar modal dapat diartikan adanya fleksibilitas dan kemampuan bank untuk menciptakan hutang atau memunculkan dana yang lebih besar dengan catatan bank tersebut memiliki rasio pembayaran dividen yang lebih tinggi daripada perusahaan kecil.

Kelima adalah faktor debt to equity ratio (DER). Rasio ini mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi seluruh kewajibannya yang ditunjukkan oleh beberapa bagian modal sendiri yang digunakan untuk membayar hutang. Semakin besar rasio ini menunjukkan semakin besar kewajibannya dan rasio yang semakin rendah akan menujukkan semakin tinggi kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya. Peningkatan hutang ini akan mempengaruhi tingkat pendapatan bersih yang tersedia bagi pemegang saham, artinya semakin tinggi kewajiban perusahaan, akan semakin menurunkan kemampuan perusahaan dalam membayar dividen. Persoalannya pada industri perbankan, umumnya memiliki DER yang tinggi, artinya kewajiban membayar kewajiban sangat tinggi, sedangkan modal yang dimiiliki relatif kecil. Oleh karena itu secara teoritis kemampuan bank membayar dividen relatif kecil.

Dengan memperhatikan kajian teori tersebut maka dapat dihipotesiskan bahwa

  1. Ada pengaruh yang signifikan faktor posisi kas, profitabilitas, potensi pertumbuhan, ukuran perusahaan bank dan debt to equity ratio secara bersama-sama terhadap divident payout ratio pada Industri perbankan di BEJ.

  2. Posisi kas berpengaruh positif, profitabilitas berpengaruh positif, pertumbuhan perusahaan bank berpengaruh negatif, ukuran perusahaan bank berpengaruh positif, dan debt to equity ratio berpengaruh negatif secara signifikan terhadap divident payout ratio.

  1. METODOLOGI PENELITIAN.

    1. Populasi dan Sampel

Populasi yang akan diamati dalam penelitian ini adalah bank-bank yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta dan termasuk kelompok bank yang memiliki saham aktif selama tiga tahun berturut-turut. Dari populasi tersebut kemudian peneliti menentukan sample dengan metode purpose sampling yaitu penentuan sampel berdasarkan kriteria ( Cooper & Schlinder, 2000). Kriteria yang digunakan peneliti adalah pertama data untuk faktor-faktor yang diteliti adalah lengkap, kedua divident payout ratio yang dimiliki adalah lebih kecil atau sama dengan 1.

    1. Jenis Dan Sumber Data.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang meliputi laporan keuangan perusahaan bank, jumlah perusahaan bank dan laporan kegiatan perdagangan saham. Sumber data tersebut diperoleh dari Indonesia Capital Market Directory dan JSX Statistics yang diterbitkan oleh Bursa Efek Jakarta.

    1. Model Analisis.

Penelitian ini akan menganilis pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Variabel independen ada 5 variabel. Peneliti menggunakan model regresi berganda dengan menggunakan data time series cross section (pooling data). Dengan model ini akan dapat dilihat pengaruh semua faktor baik secara bersama-sama maupun secara parsial terhadap variabel dependen (divident payout ratio). Model dimaksud adalah sebagai berikut:

DPR = b0 + b1 CP + b2 PR + b3 GP + b4 Size + b5 DER + e

Definisi Operasional:

  1. DPR adalah divident Payout Ratio yang diukur melalui perbandingan dividen per lembar saham dengan earning per lembar saham.

  2. CP adalah cash position atau posisi kas yang merupakan rasio kas akhir tahun dengan earning after tax. Bagi bank yang memiliki posisi kas yang semakin kuat akan semakin besar kemampuannya untuk membayar dividen. Faktor ini merupakan faktor internal yang dapat dikendalikan oleh manajemen sehingga pengaruhnya dapat dirasakan secara langsung bagi kebijakan dividen. Dividen merupakan cash outflow dengan demikian makin kuatnya posisi kas perusahaan akan semakin besar kemampuannya untuk membayar dividen. Cash Position dihitung berdasarkan perbandingan saldo kas akhir tahun dengan Earning After Tax (EAT). Formulanya adalah:

CP = Kas Akhir Tahun/EAT

Dimana:

CP = Cash Position

EAT= Earning After Tax

c. PR adalah simbol profitability yaitu ukuran return on Assets (ROA) yang merupakan perbandingann antara earning after tax dengan Total assets. Profitabilitas adalah tingkat keuntungan bersih yang mampu diraih oleh perusahaan pada saat menjalankan operasinya. Faktor ini juga memiliki pengaruh terhadap kebijakan dividen.. Dividen adalah sebagian dari laba bersih yang diperoleh perusahaan, oleh karena itu dividen akan dibagikan apabila perusahaan memperoleh keuntungan.

Keuntungan yang layak dibagikan kepada pemegang saham adalah keuntungan setelah perusahaan memenuhi kewajiban-kewajiban tetapnya yaitu bunga dan pajak. Oleh karena itu dividen yang diambilkan dari keuntungan bersih akan mempengaruhi divident payout ratio. Perusahaan yang semakin besar keuntungannya akan membayar porsi pendapatan yang semakin besar sebagai dividen. Dengan kata lain semakin besar keuntungannnya yang diperoleh maka akan semakin besar kemampuannya bagi perusahaan untuk membayar dividen. Profitabilitas diwakili oleh PR yaitu tingkat keuntungan setelah pajak dibagi dengan total assets. Formulanya adalah:

PR atau ROA = EAT/ TA

Dimana :

PR = Profitabilitas

ROA = Return on Assets

EAT = Earning After tax

TA = Total Assets.

  1. GP adalah Growth Potential adalah potensi pertumbuhan perusahaan bank yang diukur dengan rasio selisih total assets pada tahun t dengan total assets pada tahun t-1 terhadap total assets pada t-1. Semakin cepat tingkat pertumbuhan perusahaan, semakin besar kebutuhan akan dana untuk membiayai perluasan. semakin besar kebutuhan dana dimasa mendatang, semakin mungkiin perusahaan menahan pendapatan, bukan membayarkannya sebagai dividen. Karena itu potensi pertumbuhan bank menjadi faktor penting dalam kebijakan dividen. Indikator untuk faktor ini adalah tingkat pertumbuhan campuran yang diatur tiap tahun dalam total assets. Rumusnya adalah:

TA t - TA t-1

GP =

TA t-1

Dimana:

GP = Growth Potential

TA t = Total Assets tahun t

TA t-1 = Totaal Assets tahun t – 1

  1. Size adalah simbol ukuran perusahaan bank. Proxy ini dapat ditentukan melalui log natural dari total assets (Ln TA) tiap tahun . Faktor ini menjelaskan bahwa suatu bank yang mapan dan besar memiliki akses yang lebih mudah ke pasar modal, sedangkan bank kecil tidak mudah. Kemudahan aksesibilitas ke pasar modal dapat diartikan adanya fleksibilitas dan kemampuan bank untuk menciptakan hutang atau memunculkan dana yang lebih besar dengan catatan bank tersebut memiliki rasio pembayaran dividen yang lebih tinggi daripada perusahaan kecil. Ukuran perusahaan diwakili oleh Log Natural (LN) dari total assets tiap tahun.

f. DER adalah simbol untuk variabel debt to equity ratio. Variabel ini diukur melalui perbandingan antara total hutang dengan ekuitas bank. Faktor ini mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi seluruh kewajibannya yang ditunjukkan oleh beberapa bagian modal sendiri yang digunakan untuk membayar hutang. Semakin besar rasio ini menunjukkan semakin besar kewajibannya dan rasio yang semakin rendah akan menujukkan semakin tinggi kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya. Peningkatan hutang ini akan mempengaruhi tingkat pendapatan bersih yang tersedia bagi pemegang saham, artinya semakin tinggi kewajiban perusahaan, akan semakin menurunkan kemampuan perusahaan dalam membayar dividen. Persoalannya pada industri perbankan, umumnya memiliki DER yang tinggi, artinya kewajiban membayar kewajiban sangat tinggi, sedangkan modal yang dimiiliki relatif kecil. Oleh karena itu secara teoritis kemampuan bank membayar dividen relatif kecil. Faktor ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

DER = Total Hutang/ Ekuitas atau (CL + LD)/ E, dimana

DER = Debt to Equity Ratio

CL = Current Liabilities (hutang jangka pendek)

LD = Long term debt.

    1. Sedangkan e adalah error term

    1. Teknik Analisis

Atas dasar model analisis, selanjutnya analisa data dapat menggunakan bantuan program komputer SPSS sebagai alat untuk meregresikan model yang telah dirumuskan diatas. Tentu saja pengujian dilakukan setelah model regresi tersebut bebas dari gejala asumsi klasik agar hasil analisis dapat diintepretasikan secara akurat

  1. ANALISIS DAN KESIMPULAN.

Hasil penelitian ini dianalisis dengan menggunakan model regresi berganda linier dengan variabel dependen dividend payout ratio dan variabel indenpenden terdiri dari cash position (CP), Probability (PR), Growth Potential (GP), Firm Size (Size), dept to equity ratio (DER). Model tersebut untuk menguji pengaruh variabel-variabel independen terhadap variabel dependen (Dividend payout ratio) baik secara simultan maupun secara parsial.

Untuk melangkah lebih jauh dalam melakukan analisis, sebuah data harus diuji terlebih dahulu untuk menghindari terjadinya pelanggaran-pelanggaran terhadap asumsi klasik . Pendeteksian pelanggaran ini penting untuk mendapatkan analisis yang akurat atas faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam analsis. Pelanggaran terhadap asumsi klasik perlu ada pengobatan terlebih dahulu.

    1. Uji Asumsi Klasik

Salah satu asumsi klasik yang harus dicermati dan sangat vital adalah Multikolinieritas. Uji multikolinieritas digunakan untuk mengetahui ada/tidaknya hubungan yang berarti antara masing-masing variabel bebas dalam model regresi. Multikolinieritas berarti terjadi hubungan atau korelasi antar variabel bebas. Variabel-variabel ini akan terjadi multikolinieritas bila terjadi korelasi yang siginifikan antara CP, PR, GP, SIZE dan DER. Bila ini terjadi maka model belum layak digunakan, sebab dapat menyesatkan. Untuk mengetahui multikolinieritas, dapat digunakan matruk korelasi yang dihitung melalui program SPSS.

Tabel 1 menunjukkan bahwa telah terjadi korelasi yang bermakna antara variabel independen yaitu antara CP dengan SIZE dan antara DER dengan SIZE. Untuk mengatasi multikolinieritas ini maka salah satu variabel yang berkorelasi harus dikeluarkan dari model. Variabel yang harus dikeluarkan tersebut adalah variabel yang berkorelasi lebih rendah terhadap variabel dependen DPR kalau dibandingkan dengan pasangan korelasinya. Dalam hal ini yang dikeluarkan adalah DER (-0,050) dan SIZE (-0,032) . Dengan dikeluarkannya kedua variabel yang dianggap melanggar asumsi multikolinieritas, maka matrik korelasi antar variabel menjadi bebas dari gejala multikolinieritas yang selanjutnya dapat digunakan untuk menganalisis data dengan menggunakan model. Berdasarkan tabel 2, maka persamaan regresi yang dibangun menjadi:

DPR = b0 + b1CP + b2 PR + b3 GP + e

Tabel 1. Matrik Korelasi untuk mengetahui Gejala Multikolinieritas Pada Industri Perbankan.

image\ebx_1457517617.gif

Tabel 2. Matrik Korelasi setelah ditiadakannya Gejala Multikolinieritas Pada Industri Perbankan

image\ebx_1625150579.gif

    1. Hasil Akhir dan Pembahasannya.

Setelah pengujian asumsi klasik dilakukan dan dilakukan pengobatan terhadapnya, maka variabel-variabel yang telah memenuhi syarat selanjutnya dapat diregresikan untuk mengetahui hubungan masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. Hasil pengujian secara konsisten menunjukkan bahwa variabel DER dan SIZE harus dikeluarkan dari model regresi, dengan demikian yang diolah adalah variabel CP, PR dan GP terhadap DPR. Hasilnya secara ringkas dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3. Hasil Analisis Regresi Industri Perbankan

Variabel Bebas

Koefisien Regresi

Std. Error

t-statistik

Sig. t

r2

Constanta

0,461

0,096

4,823

0,000

CP

- 0,0112

0,028

-0,396

0,695

-0,073

PR

0,367

0,678

0,541

0,593

0,106

GP

- 0,336

0,208

-1,611

0,119

-0,301

R2 = 0,120 F= 1,180 Sig. F = 0,337

Dependent Variable: DPR ; Sumber : lampiran 2

Hasil analisis regresi seperti tampak pada tabel 3 telah menunjukkan bahwa persamaan regresi yang bisa dibentuk adalah:

DPR = 0,461 - 0,0112 CP + 0,367PR - 0,336 GP

Sig (0,000) (0,695) (0,593) (0,119)

t. (4,823) (-0,396) (0,541) (-1,611)

Keterangan:

DPR = Dividend Payout Ratio

CP = Cash Position

PR = Profitibility

GP = Growth Potential

Nilai Koefisien:

B1 = -0,0112

b2 = 0,367

b3 = -0,336

Dalam pembahasan hasil analisis ini tidak memasukan variabel Debt to Equity Ratio (DER) dan variabel ukuran perusahaan (SIZE) karena kedua variabel tersebut tidak memenuhi asumsi klasik multikolinieritas dan harus dikeluarkan dari model analisis. Dengan demikian dalam analisis ini akan membahas pengaruh variabel posisi kas dan potensi pertumbuhan terhadap dividend payout ratio bagi secara simultan maupun secara parsial.

    1. Pengaruh Secara Simultan

Berdasarkan tabel 3 dan persamaan diatas maka dapat dijelaskan bahwa tiga variabel bebas yang dimasukan dalam model analisis ternyata tidak memiliki pengaruh yang siginifikan terhadap dividend payout ratio . Hal ini dapat dilihat dari F hitung = 2,317 yang lebih kecil daripada F tabel= 2,92 dan siginifikansinya adalah 0,085 yang lebih besar dari a = 0,05. Ketiga variabel tersebut memberikan nilai R2 sebesar 0,120, hal ini berarti bahwa hanya 12 % dari variasi variabel DPR dapat dijelaskan oleh variabel CP, PR dan GP dengan tingkat kesalahan 0,337 % .

    1. Pengaruh secara Parsial

Pembahasan disini akan ditekankan pada pengaruh variabel bebas secara individual (satu per satu) terhadap variabel terikat (DPR). Dengan diketahui pengaruh masing-masing variabel maka dapat diperbandingkan tingkat pengaruh variabel tersebut apakah memang berbeda.

    1. Variabel Posisi kas

Pada variabel ini, pengaruhnya terhadap DPR dapat dilihat pada tabel 3 diatas. Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa CP memiliki t hitung lebih kecil dari pada t tabel atau t hitung = -0,396 dan t table = 2,042 dan tingkat siginifikannya sebesar

0,695 yang lebih besar dari taraf siginifikan 0,05 sehingga secara parsial dapat dikatakan bahwa CP tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap DPR. Tabel 3 juga memberikan informasi bahwa CP mempunyai koefisien regresi dengan arah yang negatif sebesar -0,0112 hal ini berarti bahwa hubungan antara bariabel CP dengan variaabel DPR adalah negatif. Oleh karena itu berdasarkan hasil penelitian ini dapat diinterpretasikan bahwa jika posisi kas (CP) meningkat 100% maka dividebnd payout ratio (DPR) akan menurun sebesar 1,12% dengan asumsi variabel bebas lainnya relatif konstan.

Berdasarkan pembahsan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian ini tidak memdukung hipotesis yang telah ditetapkan pada bab satu dimuka bahwa posisi kas berpengaruh positif secara signifikan terhadap dividend payout ratio. Secara teoritis hubungan antara kedua varaiabel tersebut yaitu posisi kas terhadap dividend payout ratio adalah dapat diterima yaitu apabila perusahaan mempunyai posisi kas yang tinggi tentu akan berdampak positif terhadap kemampuan perusahaan untuk membayar dividen kepada pemegang saham yang lebih tinggi sehingga rasio pembayaran dividen juga tinggi.

    1. Variabel Profitabilitas

Tabel 3 adalah menunjukkan hasil analisis regresi dan dapat diketahui bahwa variabel profitabilitas (PR) memiliki t hitung lebih kecil dari t tabel atau t hitung = 0,541 dan t tabel = 2,042 dan tingkat signifikansinya adalah 0,593 yang lebih besar dari taraf siginifikansi 0,05 sehingga secara parsial dapat dikatakan bahwa PR tidak berpengaruh terhadap DPR. Variabel PR ini mempunyai koefisien regresi sebesar 0,367 hal ini berarti bahwa hubungan antara variabel PR dengan varaibel terikat DPR adalah searah. Dengan demikian dapat diinterpretasikan jika profitabilitas (PR) meningkat 100% maka DPR akan meningkat sebesar 36,7% dengan tingkat kesalahan 59,3% dianggap variabel lainnya konstan.

Dengan mendasarkan pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian ini tidak mendukung hipotesis yang telah ditetapkan dalam bab satu bahwa profitabilitas berpengaruh negatif secara siginifikan terhadap dividend payout ratio. Tetapi secara teori hubungan antara potensi pertumbuhan dengan dividend payout ratio dapat diterima. Apabila potensi profitabilitas makin meningkat maka kemampuan perusahaan untuk membayar dividen kepada pemegang saham makin terbatas sehingga rasio pembayaran dividennya semakin rendah.

    1. Variabel Potensi Pertumbuhan (GP)

Tabel 3 adalah menunjukkan hasil analisis regresi dan dapat diketahui bahwa variabel potensi pertumbuhan (GP) memiliki t hitung lebih kecil dari t tabel atau t hitung = -1,611dan t tabel = 2,042 dan tingkat signifikansinya adalah 0,119 yang lebih besar dari taraf siginifikansi 0,05 sehingga secara parsial dapat dikatakan bahwa GP tidak berpegaruh terhadap DPR. Variabel GP ini mempunyai koefisien regresi sebesar -0,336 hal ini berarti bahwa hubungan antara variabel GP dengan varaibel terikat DPR adalah tidak searah. Dengan demikian dapat diinterpretasikan jika potensi pertumbuhan (GP) meningkat 100% maka DPR akan menurun sebesar 33,6% dengan tingkat kesalahan 11,9% dan dianggap variabel lainnya konstan.

Dengan mendasarkan pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian ini tidak mendukung hipotesis yang telah ditetapkan dalam bab satu bahwa potensi pertumbuhan berpengaruh negatif secara siginifikan terhadap dividend payout ratio. Tetapi secara teori hubungan antara potensi pertumbuhan dengan dividend payout ratio dapat diterima. Apabila potensi pertumbuhan perusahaan makin meningkat maka kemampuan perusahaan untuk membayar dividen kepada pemegang saham makin terbatas sehingga rasio pembayaran dividennya semakin rendah.

  1. KETERBATASAN DAN SARAN

Dengan memperhatikan hasil penelitian yang menunjukkan kurang mendukung hipotesis, maka disarankan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut pada periode pasca krisis moneter dengan memperhatikan faktor penentu kebijakan dividen secara lebih luas misalnya dengan mempertimbangkan kebijakan hutang yang ditempuh perusahaan, keberadaan kepemilikan baik oleh insider, lembaga maupun perorangan, risiko bisnis. dan personal tax serta kemungkinan meningkatkan cakupan penelitian di bidang Jasa yang lebih luas (selain lembaga perbankan).

DAFTAR PUSTAKA

Brigham, EF and LC. Gapenski, 2000, Intermediate Financial Management, Fith Edition, New York, The Drysden Press.

Benton Gup, Donald R Fraser & James W. Kolari, 1989, Commercial Bank Management, John Wiley & Son, New York

Bank Indonesia, 1998, Undang-Undang No. 10 tahun 1998 Tentang Perbankan.

Bank Indonesia, 1998, Ketentuan 27 April 1998 Tentang Penilaian Kesehatan Bank Umum, BI, Jakarta

Chang, RP. And SG. Rhee, 1990, Taxes and Dividends: The Impact of Personal taxes on Corporate Dividend Policy and capital Structure Dicisions, Financial Management/Summer.p21-31.

Duane B. Graddy & Austin H. Spencer, 1990, Managing Commercial Bank , Prentice Hall International, New York

Frank P. Johnson & Ricard D. Johnson, 1984, Commercial bank Management, The Dryden Press, New York

Fred C. Yeager & Neil E. Seitz, 1982, Financial Institution Management, A Prentice Hall Company, Virginia

George F. Hempel, Donald G. Simonson & Alan B. Coleman, 1994, Bank Management, John Wiley & Son, New York

Husnan, S, 1988, Manajemen Keuangan, Keputusan investasi dan Pembelanjaan Edisi 2, Fakultas Ekonomi UGM Yogyakarta.

___________ 1992, Manajemen Keuangan, Teori dan Penerapannya, Buku 1, edisi 12, Yogyakarta BPFE.

Husnan , S dan E. Pujiastuti, 1994, Dasar-Dasar Manajemen Keuangan, Edisi Pertama, UPP AMP YKPN, Yogyakarta.

Institute for Economic and Financial Research, 1995, Indonesian Capital Market Directory, Sixth Edition.

_____________, 1996, Indonesian Capital market Directory, Seventh Edition.

_____________, 1997, Indonesian Capital market Directory, Eigth Edition.

_____________, 1998, Indonesian Capital market Directory, Ninth Edition Vol I

_____________, 1999, Indonesian Capital market Directory, Ninth Edition Vol II.

Jakarta Stock Exchange, 1995, JSX Statistics, 1994

Jakarta Stock Exchange, 1995, JSX Statistics, 1994

Jakarta Stock Exchange, 1995, JSX Statistics, 1994

Joseph Sinkey, 1988, Commercial Bank Financial Management, John Wiley & Son, New York .

Riyanto, B, 1995, Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi Keempat, BPFE UGM.

Robert O. Emiser, 1980, Financial Institution, McGraw-Hill Book Company, New York

Sartono, Agus, 1999, Manajemen Keuangan, Teori Dan Aplikasi, BPFE UGM Yogyakarta.

Setyawan, W, 1995, Analisis Beberapa Faktor yang berpengaruh terhadap kebijakan Dividen Pada badan Usaha Milik Negara Bentuk Persero, Tesis S2, UGM, Yogyakarta.

Taswan, 2000, Manajemen Dana Bank, Pusat Penerbitan STIE Stikubank , Semarang

William F. Sharpe, Gordon J. Alexander & Jefrey V. Bailey, 1995, Invesment, Prentice Hall Inc., New Jersey

Tidak ada komentar: