photo KoleksiSkripsiHeader.gif HP CS Kami 0852.25.88.77.47(AS), 0857.0.1111.632(IM3), email:IDTesis@gmail.com

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Dividen Kas Di Bursa Efek Jakarta

JURNAL BISNIS DAN EKONOMI, MARET 2003

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DIVIDEN KAS

DI BURSA EFEK JAKARTA

Oleh : Sunarto dan Andi Kartika

STIE Stikubank Semarang

ABSTRACT

This research was to analyzed the factors influencing cash dividend on Jakarta Stock Exchange (JSX) during 1999-2000 observation period. Samples used were all listing & active shares traded on JSX and during observation period those shares always divide dividend the total samples obtained 66 industries, and after z-score process it reached 23 industries. Analysis technique was multiple regression analysist with ordinary least square (OLS).

Finding shows that EPS had significantly positive influence on cash dividend for the level less than 1% (0,001); while Cash Ratio, Current Ratio, DTA dan ROI is not significant. Simultaneously EPS, Cash Ratio, Current Ratio, DTA dan ROI were proved that they influenced on Cash Dividend at level less than of 1% (0,008). Predicticted power of those five independend variables on cash dividend of 44,4%; and 55,6% other factors is not included in this models like activity, solvability and other profitability ratios.

Keywords: Cash Dividend, Cash Ratio, Current Ratio, Debt to Total Assets, Return on Investment, Earning per Share.

I. PENDAHULUAN

    1. Latar Belakang

Aktivitas investasi merupakan aktivitas yang dihadapkan pada berbagai macam resiko dan ketidakpastian yang seringkali sulit diprediksikan oleh para investor. Untuk mengurangi kemungkinan resiko dan ketidakpastian yang akan terjadi, investor memerlukan berbagai macam informasi, baik informasi yang diperoleh dari kinerja perusahaan maupun informasi lain yang relevan seperti kondisi ekonomi dan politik dalam suatu negara. Informasi yang diperoleh dari perusahaan lazimnya didasarkan pada kinerja perusahaan yang tercermin dalam laporan keuangan.

Investor mempunyai tujuan utama dalam menanamkan dananya kedalam perusahaan yaitu untuk mencari pendapatan atau tingkat kembalian investasi (return) baik berupa pendapatan dividen (dividend yield) maupun pendapatan dari selisih harga jual saham terhadap harga belinya (capital gain). Dalam hubungannya dengan pendapatan dividen, para investor umumnya menginginkan pembagian dividen yang relatif stabil, karena dengan stabilitas diveden dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap perusahaan sehingga menguragi ketidakpastian investor dalam menanamkan dananya kedalam perusahaan. Di sisi lain, perusahaan yang akan membagikan dividen dihadapkan pada berbagai macam pertimbangan antara lain: perlunya menahan sebagian laba untuk re-investasi yang mungkin lebih menguntungkan, kebutuhan dana perusahaan, likuiditas perusahaan, sifat pemegang saham, target tertentu yang berhubungan dengan rasio pembayaran diveden dan faktor lain yang berhubungan dengan kebijakan deviden.

Pembayaran dividen dalan bentuk tunai lebih banyak diinginkan investor daripada dalam bentuk lain, karena pembayaran dividen tunai membantu mengurangi ketidakpastian investor dalam aktivitas investasinya kedalam perusahaan. Demikian pula stabilitas dividen yang dibayarkan juga akan mengurangi ketidakpastian dari profitabilitas perusahaan, sehingga stabilitas dividen juga merupakan faktor penting yang barus dipertimbangkan manajemen perusahaan. Parthington (1989) dalam penelitiannya menunjukkan beberapa variabel yang mempengaruhi penentuan dividen yaitu: (1) profitabilitas, (2) stabilitas dividen dan earning, (3) likuiditas dan cash flow, (4) investasi, dan (5) pembiayaan.

Kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba merupakan indikator utama dari kemampuan perusahaan untuk membayar dividen, sehingga profitabilitas sebagai faktor penentu terpenting terhadap dividen (Lintner, 1956). Bukti empiris yang menghubungkan profitabilitas dengan dividen dilakukan oleh Brittain (1966) (dalam Parthington, 1989) menunjukkan bahwa profit sebagai pengganti variabel cash flow secara signifikan berpengaruh terhadap dividen. Partington (1989) menunjukkan bukti bahwa stabilitas dividen dan earning merupakan variabel yang penting (berarti) mempengaruhi preferensi investor untuk memperoleh dividen dimasa mendatang pada level signifikasi 0,001 (kurang dari 1%). Sementara variabel likuiditas dan investasi berada pada peringkat dibawahnya (setelah) variabel stabilitas dividen dan earning yang berpengaruh terhadap pendapatan dividen dimasa depan. Sementara variabel cash-flow (kas bersih yang diperoleh dari Aktifitas Operasi, Aktifitas Investasi dan Aktifitas Pendanaan) bersifat saling mengganti (komplementer) dengan variabel profit (Brittain, 1966 dalam Partington, 1989). Sedangkan variabel pembiayaan (external finance) dianggap sebagai kendala para manajer terhadap pembayaran dividen, sehingga para manajer cenderung tidak mempertimbangkan pembiayaan pada saat pembayaran dividen. Dengan kata lain variabel pembiayaan tidak signifikan berpengaruh terhadap dividen.

Investor dan manajemen perusahaan lebih menekankan pada preferensi jangka panjang. Mengingat masih terbatasnya penelitian yang menguji faktor-faktor yang mempengaruhi dividen, maka perlu dilakukan penelitian sejenis sebagaimana penelitian yang dilakukan di luar negeri (Amerika dan Australia). Sementara penelitian yang dilakukan di luar negeri tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap dividen didasarkan pada persepsi para manajer perusahaan melalui metode kuesioner (Partington, 1989), sehingga hasil penelitiannya lebih bersifat kebijakan manajemen dalam menentukan besarnya pembayaran dividen.

Investor mengharapkan untuk mendapatkan tingkat kembalian (return) baik berupa dividen maupun capital gain tidak didasarkan pada kebijakan manajemen (intern) perusahaan tetapi didasarkan pada hasil/kinerja yang telah dicapai oleh perusahaan yang tercermin dalam laporan keuangan yang dipublikasikan. Kebijakan apapun yang ditempuh oleh manajemen perusahaan, bagi investor tidak terlalu penting dipertimbangkan, karena kebijakan manajemen hanya dapat diketahui oleh pihak intern perusahaan. Lagi pula, bagi investor yang terpenting adalah melihat bagaimana perkembangan perusahaan terutama dari kinerja keuangannya.

Bertitik tolak dari faktor-faktor yang dipertimbangkan oleh manajemen dan kepentingan investor yang didasarkan pada kinerja keuangan maka berdasarkan hasil penelitian sebelumnya dapat diidentifikasi variabel-variabel yang mungkin berpengaruh terhadap pendapatan dividen, terutama dividen tunai (cash dividend).

Sebagaimana hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa variabel-variabel yang berpengaruh terhadap kebijakan dividen terdiri dari: profitabilitas, stabilitas dividen dan earning, likuditas, investasi, dan pembiayaan. Sementara berdasarkan laporan keuangan variabel-variabel tersebut dapat diidentifikasi sebagai berikut: (1) profitabilitas (diukur dengan laba bersih setelah pajak), (2) likuiditas (diukur dari cash ratio dan current ratio), (3) investasi (diukur dari jumlah dana yang ditanamkan pada aktiva tetap operasi), dan (4) pembiayaan (terutama dana yang diperoleh dari utang jangka panjang plus utang jangka pendek) yang diukur dengan rasio leverage. Sementara earning dapat dilihat dari earning per share (EPS), sedangkan dividen (terutama cash dividend) merupakan tujuan yang dinginkan oleh investor dalam rangka memperoleh pendapatan dalam bentuk dividen dari hasil investasinya.

Perusahaan yang menunjukkan kendala pembayaran (kekurangan likuiditas) mengarahkan manajemen untuk membatasi pertumbuhan dividen. Hasil penelitian tersebut masih menunjukkan hasil yang kontradiktif, sehingga perlu dilakukan penelitian hubungan antara ROI dengan dividen serta hubungan antara cash ratio dan current ratio dengan dividen. Terlebih hasil penelitian terdahulu, pengujiannya tidak didasarkan dari kinerja keuangan perusahaan; tetapi lebih ditekankan pada respon (tanggapan) manajemen dalam kebijakan dividen. Berdasarkan pertimbangan dan tujuan investasi dari investor, maka perlu dilakukan perluasan penelitian untuk mengkaji faktor-faktor yang berpengaruh terhadap dividen (pendapatan dividen per lembar saham) berdasarkan informasi keuangan yang dipublikasikan oleh perusahaan, dan bukan didasarkan pada kebijakan yang ditempuh oleh manajemen perusahaan.

    1. Perumusan Masalah

Sebagaimana diuraikan dimuka, bahwa yang terpenting bagi investor adalah memperoleh tingkat kembalian (return) dari hasil investasinya baik berupa pendapatan dividen maupun capital gain. Untuk memprediksi pendapatan dividen tidak dapat dipertimbangkan faktor-faktor kebijakan manajemen, karena kebijakan manajemen merupakan keputusan yang berhubungan dengan pihak intern perusahaan. Satu-satunya informasi yang berhubungan dengan kondisi perusahaan adalah laporan keuangan yang menunjukkan kinerja keuangan yang dhasilkan oleh manajemen perusahaan. Berdasar analisis laporan keuangan dan identifikasi sementara yang telah diuraikan di muka, maka variabel-variabel yang mungkin berpengaruh terhadap pendapatan dividen perlembar saham adalah: (1) return on investment, (2) cash ratio, (3) current ratio, (4) total debt to total asset, dan (5) earning per share (EPS). Berdasarkan uraian tersebut, maka pertanyaan penelitian terdiri dari:

  1. Bagaimana pengaruh ROI, Cash Ratio, Current Raio, DTA, dan EPS secara parsial terhadap pendapatan dividen (cash dividend) di Bursa Efek Jakarta?

  1. Bagaimana pengaruh ROI, Cash ratio, Current ratio, DTA, dan EPS secara simultan terhadap pendapatan dividen (cash dividend) di Bursa Efek Jakarta?

    1. Manfaat penelitian

Penelitian ini bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan terutama investor sebagai bahan pertimbangan yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan investasi di pasar modal. Secara terperinci manfaat penelitian dapat dijabarkan sebagai berikut:

II. KERANGKA TEORITIS DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

2.1. Kebijakan Dividen

Robert Ang (1997) menyatakan bahwa dividen merupakan nilai pendapatan bersih perusahaan setelah pajak dikurangi dengan laba ditahan (retained earnings) yang ditahan sebagai cadangan bagi perusahaan. Deviden ini untuk dibagikan kepada para pemegang saham sebagai keuntungan dari laba perusahaan. Cadangan yang diambil dari EAT dilakukan sampai cadangan mencapai minimum dua puluh persen dari modal yang ditempatkan. Modal yang ditempatkan adalah modal yang disetor penuh ditambah dengan modal yang belum disetor sehubungan dengan penerbitan saham baru seperti rights dan warran. Keputusan mengenai jumlah laba yang ditahan dan deviden yang akan dibagikan diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Menurut Brigham (1983) menyebutkan ada tiga teori dari preferensi investor yaitu:

1. Devidend irrelevance theory adalah suatu teori yang menyatakan bahwa kebijakan deviden tidak mempunyai pengaruh baik terhadap nilai perusahaan maupun biaya modalnya. Teori ini mengikuti pendapat Modigliani dan Miller (M-M) yang menyatakan bahwa nilai suatu perusahaan tidak ditentukan oleh besar kecilnya Devidend Payout Ratio (DPR) tetapi ditentukan oleh laba bersih sebelum pajak (EBIT) dan risiko bisnis. Dengan demikian kebijakan dividen sebenarnya tidak relevan untuk dipersoalkan.

2. Bird-in-the-hand theory, sependapat dengan Gordon dan Lintner yang menyatakan bahwa biaya modal sendiri akan naik jika Devidend Payout Ratio (DPR) rendah. Hal ini dikarenakan investor lebih suka menerima deviden daripada capital gains.

3. Tax preference theory adalah suatu teori yang menyatakan bahwa karena adanya pajak terhadap keuntungan dividen dan capital gains maka para investor lebih menyukai capital gains karena dapat menunda pembayaran pajak.

Kebijakan dividen merupakan keputusan pembayaran dividen yang mempertimbangkan maksimalisasi harga saham saat ini dan periode mendatang. Dalam penentuan besar kecilnya dividen yang akan dibayarkan ada perusahaan yang sudah merencanakan dengan menetapkan target Devidend Payout Ratio didasarkan atas perhitungan keuntungan yang diperoleh setelah dikurangi pajak. Untuk dapat membayar dividen dapat dibuat suatu rencana pembayaran dividen sebagai berikut:

1. Perusahaan mempunyai target Devidend Payout Ratio jangka panjang

2. Manajer memfokuskan pada tingkat perubahan dividen dari pada tingkat absolut.

3. Perubahan dividen yang meningkat dalam jangka panjang, uantuk menjaga penghasilan. Perubahan penghasilan yang sementara tidak untuk mempengaruhi Devidend Payout Ratio.

4. Manager bebas membuat perubahan deviden untuk keperluan cadangan.

Penentuan besarnya Devidend Payout Ratio akan menentukan besar kecilnya laba yang ditahan. Setiap ada penambahan laba yang ditahan berarti ada penambahan modal sendiri dalam perusahaan dengan biaya murah.

2.2. Cash Dividend

Dividen merupakan hak pemegang saham biasa (common stock) untuk mendapatkan bagian dari keuntungan perusahaan. Jika perusahaan memutuskan untuk membagi keuntungan dalam dividen, semua pemegang saham biasa mendapatkan haknya yang sama. Pembagian dividen untuk saham biasa dapat dilakukan jika perusahaan sudah membayar dividen untuk saham preferen (Jogiyanto, H.M, 1998: pp. 58).

Arus dividen dapat dianggap sebagai arus kas yang diterima oleh investor, dengan alasan bahwa dividen merupakan satu-satunya arus yang diterima oleh investor. Jika dividen merupakan satu-satunya arus kas, maka model diskonto dividen dapat digunakan sebagai pengukur arus kas untuk menghitung nilai intrinsik saham. Lebih jauh, Jogiyanto HM (1998) menyatakan bahwa pembayaran dividen dapat dikelompokkan ke dalam tiga kemungkinan, yaitu: pembayaran dividen tidak teratur, dividen konstan tidak tumbuh, dan pertumbuhan dividen yang konstan.

Pembayaran dividen tidak teratur merupakan dividen dimana tiap-tiap periode tidak mempunyai pola yang jelas bahkan untuk periode-periode tertentu tidak membayar dividen sama sekali, karena perusahaan menderita rugi atau kesulitan likuiditas.

Dividen konstan tidak bertumbuh merupakan pembayaran dividen dari periode ke periode relatif konstan. Perusahaan umumnya tidak melakukan pemotongan atau pengurangan dividen, sekalipun perusahaan mengalami sedikit kesulitan likuiditas. Hal ini dilakukan oleh perusahaan untuk menjaga kesan para pemegang saham atas stabilitas likuiditas perusahaan. Dan pertumbuhan dividen yang konstan merupakan dividen yang tumbuh secara konstan yang umumnya ditunjukkan dengan pertumbuhan sebesar "g" (Jogiyanto HM, 1998: pp. 71-75).

Sawidji Widoadmodjo (1996) juga menyatakan bahwa dividen adalah bagian laba yang diberikan emiten kepada para pemegang saham, baik dalam bentuk dividen tunai (cash dividend) dan dividen saham (stock dividend). Dividen tunai (cash dividend) merupakan dividen yang dibayar oleh emiten kepada para pemegang saham secara tunai untuk setiap lembarnya (dividend per share). Sedangkan dividen saham (stock dividend) merupakan dividen yang dibayar atau dibagi dalam bentuk saham, yang diperhitungkan untuk setiap lembarnya.

Robbert Ang (1997) juga menyatakan bahwa dividen tunai (cash dividend) merupakan dividen yang dibayarkan dalam bentuk uang tunai. Sedangkan dividen saham (stock dividend) merupakan dividen yang dibayarkan dalam bentuk saham dengan proporsi tertentu. Nilai dari suatu dividen tunai sesuai dengan nilai tunai yang diberikan, sedangkan nilai suatu dividen saham dapat dihitung dengan rumusan sebagai berikut: Vd = (Ps / Rd); dimana Vd adalah nilai suatu dividen saham per lembar saham (value of stock dividend per share), Ps merupakan harga wajar dividen saham (declaration price), dan Rd adalah rasio dividen saham (stock dividend ratio). Harga wajar dividen saham merupakan harga yang diputuskan di dalam rapat umum pemegang saham (RUPS), dan merupakan harga penutupan yang tersedia sebelum RUPS yang akan memutuskan dividen saham (umumnya pada sesi terakhir hari bursa sebelumnya atau sesi terakhir sebelum RUPS dimulai).

2.2.1. Hubungan Return on Investment (ROI) dan Cash Dividend

ROI merupakan ukuran efektifitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktiva tetap yang digunakan untuk operasi. Semakin besar ROI menunjukkan kinerja perusahaan yang semakin baik, karena tingkat kembalian investasi (return) semakin besar. Seperti diuraikan sebelumnya, bahwa return yang diterima oleh investor dapat berupa pendapatan dividen dan capital gain. Dengan demikian meningkatnya ROI juga akan meningkatkan pendapatan dividen (terutama cash dividend).

Sebagaimana lazimnya pengukuran ROI didapat dari earnings after tax (EAT) dan total investasi aktiva operasi. Besarnya EAT diperoleh dari laporan laba rugi, sedangkan total investasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah total aktiva tetap (bersih) yang digunakan untuk aktivitas operasi perusahaan yang tercermin dalam laporan neraca (sisi aktiva/ asset).

Partington (1989) menunjukkan bahwa variabel investasi yang diukur dari aktiva tetap (bersih) operasi dapat digunakan untuk memprediksikan kebijakan dividen kas (cash dividend). Namun Fama (1974) dalam Parthington (1989) menunjukkan bahwa kebijakan dividen tidak dipengaruhi oleh keputusan investasi. Demikian pula penelitian yang dilakukan oleh Edi Susanto (2002) juga menunjukkan bahwa ROI tidak signifikan terhadap dividen.

Berdasar teori dan uraian tersebut maka dapat diajukan hipotesis alternatif pertama (H1) sebagai berikut: "Ada pengaruh signifikan positif ROI terhadap cash dividend".

2.2.2. Hubungan Cash Ratio dan Cash Dividend

Cash ratio merupakan salah satu ukuran dari rasio likuiditas (liquidity ratio) yang merupakan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya (current liability) melalui sejumlah kas (dan setara kas, seperti giro atau simpanan lain di bank yang dapat ditarik setiap saat) yang dimiliki perusahaan. Semakin tinggi cash ratio menunjukkan kemampuan kas perusahaan untuk memenuhi (membayar) kewajiban jangka pendeknya. (Brigham, 1983: p.p.211). Dengan semakin meningkatnya cash ratio juga dapat meningkatkan keyakinan para investor untuk membayar dividen tunai (cash dividend) yang diharapkan oleh investor (Partington, 1989: pp. 169). Sementara Surasmi (1998) menunjukkan bahwa cash ratio tidak signifikan berpengaruh terhadap dividend per share.

Berdasar teori dan uraian tersebut maka dapat diajukan hipotesis alternatif kedua (H2) sebagai berikut: "Ada pengaruh signifikan positif cash ratio terhadap cash dividend".

2.2.3. Hubungan Current Ratio dan Cash Dividend

Current ratio juga merupakan salah satu ukuran rasio likuiditas (liquidity ratios) yang dihitung dengan membagi aktiva lancar (curent assets) dengan hutang/ kewajiban lancar (current liability). Semakin besar current ratio menunjukkan semakin tinggi kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya (termasuk di dalamnya kewajiban membayar dividen kas yang terutang). Sebagaimana cash ratio, maka tingginya current ratio juga menunjukkan keyakinan investor terhadap terhadap kemampuan perusahaan membayar dividen yang dijanjikan.

Kedua rasio likuiditas tersebut menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban jangka pendeknya. Dipisahkannya kedua rasio likuiditas ke dalam cash ratio dan current ratio dimaksudkan untuk mengetahui mana yang lebih berpengaruh terhadap pendapatan dividen kas per lembar saham (cash dividend per share). Partington (1989) tidak dilihat dari rasio likuiditasnya, tetapi didasarkan pada penting tidaknya manajemen mempertimbangkan likuiditas dalam kebijakan dividen, sehingga tidak dapat ditemukan bagaimana hubungan antara besarnya current ratio dengan cash dividend. Sementara Edi Susanto (2002) menunjukkan bahwa current ratio tidak signifikan berpengaruh terhadap dividen pada perusahaan yang listing di BEJ periode 1999.

Berdasar teori dan uraian tersebut maka dapat diajukan hipotesis alternatif ketiga (H3) sebagai berikut: "Ada pengaruh signifikan positif current ratio terhadap cash dividend".

2.2.4. Hubungan Debt to Total Asset dan Cash Dividend

Debt to total assets merupakan rasio antara total hutang (total debts) baik hutang jangka pendek (current liability) dan hutang jangka panjang (long term debt) terhadap total aktiva (total assets) baik aktiva lancar (current assets) maupun aktiva tetap (fixed assets) dan aktiva lainnya (other assets).

Rasio ini menunjukkan besarnya hutang yang digunakan untuk membiayai aktiva yang digunakan oleh perusahaan dalam rangka menjalankan aktivitas operasionalnya. Semakin besar rasio DTA menunjukkan semakin besar tingkat ketergantungan perusahaan terhadap pihak eksternal (kreditur) dan semakin besar pula beban biaya hutang (biaya bunga) yang harus dibayar oleh perusahaan. Dengan semakin meningkatnya rasio DTA (dimana beban hutang juga semakin besar) maka hal tersebut berdampak terhadap profitablitas yang diperoleh perusahaan, karena sebagian digunakan untuk membayar bunga pinjaman. Dengan biaya bunga yang semakin besar, maka profitabilitas (earnings after tax) semakin berkurang (karena sebagian digunakan untuk membayar bunga), maka hak para pemegang saham (dividen) juga semakin berkurang (menurun). Teori ini didukung oleh Parthington (1989) yang menunjukkan bahwa tingkat hutang yang tinggi akan mempengaruhi pembayaran dividen yang semakin rendah. Dengan kata lain debt to total assets berpengaruh negatif terhadap dividen. Sementara Pujiono (2002) meneliti tentang "dampak kebijakan dividen terhadap harga saham pada waktu ex-dividend day" menunjukkan bahwa leverage yang diukur dengan debt to equity ratio terbukti bahwa untuk sampel Indonesia leverage berpengaruh positif terhadap harga saham pada waktu ex-dividend day.

Berdasar teori dan uraian tersebut maka dapat diajukan hipotesis alternatif keempat (H4) sebagai berikut: "Ada pengaruh signifikan negatif debt to total assets terhadap cash dividend".

2.2.5. Hubungan Earnings Per Share dan Cash Dividend

Pendapatan per lembar saham (earning per share) merupakan total keuntungan yang diperoleh investor untuk setiap lembar sahamnya. Total keuntungan tersebut diukur dari rasio antara laba bersih setelah pajak (earnings after tax - EAT) terhadap jumlah lembar saham yang beredar (outstanding share). Laba bersih yang diperhitungkan tersebut setelah dikurangi dengan dividen untuk para pemegang saham prioritas/ minoritas (preffered stock).

Semakin besar earning after tax maka pendapatan dividen kas per lembar saham (cash dividend per share) yang akan diterima oleh para pemegang saham biasa (common stock) juga semakin besar. Hal tersebut dengan asumsi jika dividen bagi para pemegang saham minoritas dan jumlah saham yang beredar (saham biasa) relatif tetap. Teori ini juga didukung oleh Surasmi (1998) yang menunjukkan bahwa EPS berpengaruh signifikan positif terhadap dividend per share pada perusahaan manufaktur yang listing di BEJ periode 1993-1995.

Berdasar teori dan uraian tersebut maka dapat diajukan hipotesis alternatif kelima (H5) sebagai berikut: "Ada pengaruh signifikan positif earning per share terhadap cash dividend".

III. METODE PENELITIAN

3.1. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD) tahun 2001. Berdasar publikasi dari ICMD tersebut data yang digunakan adalah data yang berasal dari laporan keuangan untuk periode 1999 dan 2000 dengan jumlah perusahaan 307.

3.2. Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan publik yang sahamnya terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Sesuai dengan publikasi ICMD 2001 menunjukkan bahwa jumlah perusahaan yang terdaftar pada periode 1999–2000 sejumlah 307 emiten yang dikelompokkan dalam 9 kelompok industri.

Adapun teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan sampel penuh (full sample) berdasarkan kriteria: (1) saham perusahaan yang selalu terdaftar pada 31 Desember 1999–2000; dan (2) perusahaan yang selalu membagikan dividen kas pada periode 1999–2000. Berdasar kriteria tersebut diperoleh sampel 34 perusahaan selama dua tahun, sehingga data pooling sejumlah 68 sampel.

3.3. Metode Pengumpulan Data.

Metode pengumpulan data yang digunakan terutama dengan cara studi dokumenter dari Indonesian Capital Market Directory tahun 2001. Data keuangan diambil dari Indonesian Capital Market Directory tahun 2001. Untuk kepentingan analisis maka digunakan pooling data (data pooled) selama 2 tahun dari perusahaan sampel.

3.4. Definisi Operasional Variabel

Variabel-variabel yang dibutuhkan dalam penelitian ini ada enam jenis yang terdiri dari 5 (lima) variabel independen yaitu ROI, Cash Ratio, Current Ratio, DTA dan EPS; serta 1 (satu) variabel dependen yaitu Cash Dividend. Masing-masing variabel penelitian secara operasional dapat didefinisikan seperti nampak pada tabel 3.1 sebagai berikut:

Tabel 3.1:

Definisi Operasional Variabel

No

Variabel

Definisi

Pengukuran

1

ROI

Rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba setelah pajak dari total investasi yang digunakan oleh perusahaan

EAT

Total Investasi

2

Cash Ratio

Rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya melalui sejumlah kas dan setara kas yang dimiliki perusahaan

Kas + Ekuivalen

Ut.J. Pendek

3

Current Ratio

Rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya melalui jumlah aktiva lancarnya

Aktiva Lancar

Ut.J. Pendek

4

DTA

Rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi total hutang dari total aktiva yang dimiliki perusahaan

Total Hutang

Total Assets

5

EPS

Rasio yang digunakan untuk mengukur pendapatan per lembar saham yang dihitung dari total keuntungan (EAT) terhadap jumlah lembar saham yang beredar

EAT

Jml.Lb.Saham

6

Cash Dividend

Dividen yang dibayarkan secara tunai oleh perusahaan kepada setiap pemegang saham

Tot.Div.Kas

Jml.Lb.Saham

3.5. Teknik Analisis

Untuk menguji hipotesis tentang kekuatan variabel penentu (independen variabel) terhadap Cash Dividend, dalam penelitian ini digunakan analisis regresi berganda dengan persamaan kuadrat terkecil (OLS) dengan model dasar sebagai berikut:

Cash Div. = a + b1 ROI + b2 Cash Ratio + b3 Current Ratio + b4 DTA + b5 EPS + e;

dimana:

Cash.Div. : Dividen kas per lembar saham

ROI : Rasio antara laba bersih setelah pajak terhadap total investasi

Cash Ratio : Rasio antara kas dan setara kas (ekuivalen) terhadap hutang jangka pendek

Current Ratio : Rasio antara aktiva lancar terhadap hutang jangka pendek

DTA : Rasio antara total hutang terhadap total aktiva (total assets)

EPS : Rasio antara laba setelah pajak terhadap jumlah saham beredar

IV. ANALISIS

4.1. Gambaran Umum dan Data Deskriptif

Jumlah perusahaan yang sahamnya terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada periode 1999-2000 berjumlah 307 perusahaan. Selama periode tersebut perusahaan yang sahamnya selalu aktif diperdagangkan di BEJ, selalu menyajikan laporan keuangan per 31 desember 1999-2000 dan secara kontinyu membagikan dividen pada periode 1999-2000 berjumlah 34 perusahaan, sehingga selama dua tahun diperoleh data pooling sejumlah 68 sampel. Secara terperinci data sampel seperti ditunjukkan dalam lampiran 1.

4.2. Data Deskriptif

Perkembangan kinerja keuangan (ROI, Cash Rasio, Current Ratio, DTA dan EPS) serta Cash Dividend pada periode 1999 – 2000 dapat ditunjukkan pada tabel 4.1 sebagai berikut:

Tabel 4.1:

Perkembangan Kinerja Keuangan dan Cash Dividend

1999 – 2000

No

Kinerja

1999

2000

1

ROI

12,64

12,21

2

Cash Ratio

0,73

0,83

3

Current Ratio

2,25

2,48

4

DTA

0,47

0,48

4

EPS

821,41

1059,68

5

Cash Dividend

357,84

261,46

Sumber: ICMD 2001, diolah

Berdasar tabel 4.1 tersebut nampak bahwa return on investment (ROI) dan cash dividend dari tahun 1999 – 2000 mengalami penurunan, masing-masing dari 12,64 menjadi 12,21 dan 357,84 menjadi 261,46. Sedangkan rasio keuangan lainnya (Cash ratio, current ratio, DTA dan EPS) mengalami peningkatan.

4.3. Hasil Analisis

Untuk melihat hasil regresi baik regresi sederhana maupun regresi berganda dapat ditunjukkan pada lampiran 1. Berdasar lampiran 1 nampak bahwa pengaruh secara bersama-sama lima variabel independen tersebut (Cash Ratio, Current Ratio, DTA, ROI dan EPS) menunjukkan bahwa secara bersama-sama kelima variabel independen tersebut signifikan berpengaruh terhadap Cash Dividend pada level kurang dari 1% (ditunjukkan dengan sig.F sebesar 0,008).

Dari hasil perhitungan yang ditunjukkan dalam lampiran 1 menunjukkan bahwa Cash Ratio, Current Ratio, DTA, ROI dan EPS dapat digunakan untuk memprediksi besarnya dividen kas yang akan diterima oleh para pemegang saham (investor) terutama pada periode 1999 – 2000. Hal ini penting bagi para pemegang saham dalam rangka aktivitas investasinya di pasar modal terutama bagi investor yang mempertimbangkan besarnya dividen yang akan dibayarkan oleh perusahaan.

Namun secara parsial hanya variabel EPS yang berpengaruh sangat signifikan pada level kurang dari 1% (sig.t 0,001), sedangkan empat variabel independen yang lain terbukti tidak signifikan. Hasil ini menunjukkan bahwa EPS merupakan indikator yang penting dipertimbangkan oleh para pemegang saham, karena terbukti EPS sangat berpengaruh terhadap besarnya dividen per lembar saham. Para calon investor EPS dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk investasi di pasar modal terutama hasil yang diharapkan dari dividen yang akan dibayar oleh perusahaan publik.

4.4. Pengujian Hipotesis

Berdasar hasil perhitungan regresi baik secara parsial selama periode pengamatan (1999 – 2000) menunjukkan bahwa secara parsial variabel EPS signifikan positif berpengaruh terhadap Cash Dividend di BEJ terbukti. Demikian pula secara bersama-sama (Cash Ratio, Current Ratio, DTA, ROI dan EPS) signifikan berpengaruh terhadap return saham pada level kurang dari 5%, bahkan siginifikan pada level kurang dari 1% (seperti ditunjukkan nilai sig.F sebesar 0,008).

Sesuai dengan hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini, maka secara terperinci dihasilkan pengujian sebagai berikut:

Pada hipotesis yang pertama (H1) yang menyatakan bahwa "ROI signifikan berpengaruh positif terhadap dividen kas", tidak terbukti. Hasil ini ditunjukkan dengan besarnya signifikansi t (sig.t) sebesar 0,798 dimana signifikansi ini jauh lebih besar dari level signifikansi yang digunakan (0,05). Hasil ini mengindikasikan bahwa ROI tidak dipertimbangkan oleh manajemen perusahaan dalam pembayaran besarnya dividen kas, sehingga para pemegang saham tidak terlalu penting untuk mempertimbangkan ROI ketika pemegang saham tersebut mengharapkan besarnya dividen kas yang akan dibayarkan oleh perusahaan.

Pada hipotesis kedua (H2) yang menyatakan bahwa "cash ratio signifikan berpengaruh positif terhadap dividen kas", tidak terbukti. Hasil ini ditunjukkan dengan besarnya signifikansi t (sig.t) sebesar 0,233 dimana signifikansi ini lebih besar dari level signifikansi yang digunakan (0,05). Sebagaimana ROI, maka hasil ini juga mengindikasikan bahwa cash rasio juga tidak dipertimbangkan oleh manajemen dalam pembayaran dividen kas.

Pada hipotesis ketiga (H3) yang menyatakan bahwa "current ratio signifikan berpengaruh positif terhadap dividen kas", juga tidak terbukti. Hasil ini ditunjukkan dengan besarnya signifikansi t (sig.t) sebesar 0,837 dimana signifikansi ini jauh lebih besar dari level signifikansi yang digunakan (0,05). Sebagaimana ROI dan cash ratio, maka hasil ini juga mengindikasikan bahwa current rasio juga tidak dipertimbangkan oleh manajemen dalam pembayaran dividen kas.

Pada hipotesis keempat (H4) yang menyatakan bahwa "debt to total assets signifikan berpengaruh negatif terhadap dividen kas", tidak terbukti. Hasil ini ditunjukkan dengan besarnya signifikansi t (sig.t) sebesar 0,199 dimana signifikansi ini lebih besar dari level signifikansi yang digunakan (0,05). Sebagaimana ROI, cash ratio dan current ratio maka hasil ini juga mengindikasikan bahwa DTA juga tidak dipertimbangkan oleh manajemen dalam pembayaran dividen kas.

Sedangkan pada hipotesis kelima (H5) yang menyatakan bahwa "earning per share (EPS) signifikan berpengaruh positif terhadap dividen kas", terbukti. Hasil ini ditunjukkan dengan besarnya signifikansi t (sig.t) sebesar 0,001 dimana signifikansi ini jauh lebih kecil dari level signifikansi yang digunakan (0,05), bahkan signifikan pada level kurang dari 1%. Hasil ini mengindikasikan bahwa EPS merupakan satu-satunya variabel yang digunakan sebagai bahan pertimbangan oleh manajemen dalam pembayaran dividen kas. Dengan hasil ini maka para pemegang sangat penting mempertimbangkan besarnya EPS dalam rangka memprediksi besarnya dividen kas yang akan diterima.

Beberapa faktor penyebab tidak dapat diterimanya hipotesis 1, 2, 3 dan 4 antara lain disebabkan bahwa selama dua tahun periode pengamatan menunjukkan bahwa perusahaan sampel distribusi datanya relatif tidak normal. Hal ini nampak bahwa dengan pooling data sampel awal sejumlah 64 sampel, ternyata sampel akhir hanya berjumlah 23 sampel. Berdasar hasil analisis regresi tersebut maka prediksi cash dividend dapat dirumuskan dalam suatu persamaan sebagai berikut:

Cash Div = 27,202 + 22,813 CashRat. – 1,980 CurrRat. – 59,416 DTA – 0,525 ROI + 0,302 EPS

Dari hasil persamaan tersebut menunjukkan bahwa selama periode pengamatan rata-rata Cash Dividend sebesar 27,202. Sedangkan tanda positif pada varaibel Cash Ratio dan EPS sesuai dengan konsep teori yang mendasarinya; dimana jika Cash Ratio dan EPS meningkat maka Cash Divedend juga meningkat.

Sementara variabel Current Ratio dan ROI yang bertanda negatif menunjukkan adanya reaksi yang negatif dari para manajemen perusahaan terutama yang berhubungan dengan tingkat Current Ratio dan pencapaian laba bersih perusahaan terhadap total investasinya. Hasil ini bertentangan dengan konsep teori yang mendasarinya, sehingga perlu dilakukan pembuktian lebih lanjut. Sedangkan tanda negatif pada variabel DTA sesuai dengan konsep teori yang menyatakan bahwa semakin tinggi rasio DTA maka tingkat pencapaian laba menurun sehingga berdampak pada penurunan dividen yang dibagi terutama dividen kas (Cash Dividend).

Kemampuan prediksi dari lima variabel independen (Cash Ratio, Current Ratio, DTA, ROI dan EPS) secara bersama-sama terhadap Cash Dividend sebesar 0,444 seperti ditunjukkan oleh adjusted R-square; sedangkan sisanya 0,556 dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak masuk dalam model regresi.

V. SIMPULAN, IMPLIKASI DAN KETERBATASAN

5.1. Simpulan

Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa analisis berdasar data pooling selama periode pengamatan (1999 – 2000) menunjukkan bahwa data pooling merupakan data yang lebih panjang daripada analisis yang didasarkan pada data tahunan. Dari lima hipotesis yang diajukan terdapat satu hipotesis yang dapat diterima yaitu hipotesis 5.

Pada hipotesis 5 dinyatakan bahwa EPS signifikan berpengaruh positif terhadap Cash Dividend di BEJ, terbukti dapat diterima. Sedangkan hipotesis 1, 2, 3 dan 4 tidak dapat diterima. Kemampuan prediksi kelima variabel tersebut (Cash Ratio, Current Ratio, DTA, ROI dan EPS) secara bersama-sama terhadap Cash Dividend sebesar 0,444 seperti ditunjukkan oleh adjusted R-square; sedangkan sisanya 0,556 dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak masuk dalam model regresi.

Kemungkinan faktor lain tersebut adalah faktor fundamental lainnya (seperti rasio solvabilitas atau leverage yang lain dan rasio aktivitas) serta variabel makro ekonomi (seperti tingkat bunga, kurs rupiah terhadap valuta asing, neraca pembayaran, ekspor-impor dan kondisi ekonomi lainnya) dan variabel non ekonomi (seperti kondisi politik). Variabel-variabel diluar kondisi perusahaan tersebut sangat mungkin mempengaruhi kinerja perusahaan terutama yang tercermin dalam besaran pembagian dividen terutama Cash Dividend.

5.2. Implikasi

Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa rasio keuangan terutama EPS digunakan oleh manajemen perusahaan dalam menentukan pembayaran besarnya Cash Dividend di Bursa Efek Jakarta pada periode 1999 – 2000. Sisi positif dari hasil penelitian ini adalah memperluas hasil penelitian sebelumnya terutama digunakannya variabel-variabel yang tercermin dalam laporan keuangan. Bahkan dari hasil pengujian menunjukkan bahwa EPS sangat signifikan berpengaruh terhadap Cash Dividend pada level kurang dari 1% yaitu sebesar 0,001.

Hasil ini bermanfaat bagi investor sebagai dasar investasinya terutama investor yang mengharapkan besarnya dividen yang akan diterima. Dengan melihat besarnya rasio EPS, maka investor dapat melakukan prediksi besarnya dividen yang akan diterima, terlebih melihat besarnya standardized coefficient Beta dari variabel EPS ini menunjukkan angka yang paling besar yaitu 0,669 (lihat lampiran 1). Hasil ini mengindikasikan bahwa dengan kenaikan rasio EPS sebesar 1%, maka dividen kas juga diperkirakan akan naik sebesar 0,669%.

Dibandingkan dengan hasil penelitian sebelumnya terutama yang dilakukan oleh Partingthon (1989) dan Surasmi (1998) menunjukkan bahwa hasil penelitian ini konsisten terutama untuk variabel Earning (dalam penelitian ini dikonotasikan sebagai EPS). Namun empat variabel yang lain tidak konsisten (bertentangan). Perbedaan hasil penelitian ini antara lain disebabkan karena peneliti terdahulu (Partingthon, 1989) data yang digunakan adalah data primer berdasarkan teknik kuesioner, sedangkan dalam penelitian ini didasarkan pada data sekunder yang dipublikasikan oleh ICMD 2001. Sisi positif hasil penelitian ini dibandingkan dengan Partingthon (1989) terletak pada jenis data yang digunakan. Hal ini didasarkan pada alasan bahwa kebijakan apapun yang diambil oleh manajemen perusahaan, hasil akhirnya adalah data yang dipublikasi kepada publik (dalam hal ini ICMD 2001).

Hasil penelitian ini juga didukung oleh Edi Susanto (2002) dimana Current Ratio dan ROI tidak signifikan terhadap Dividen. Tetapi untuk variabel DTA masih menunjukkan hasil yang berbeda.

Berdasar hasil analisis tersebut mengindikasikan bahwa para manajemen perusahaan di BEJ membagikan dividen dalam bentuk kas hanya didasarkan pada besarnya EPS. Pada periode berikutnya para pemegang saham (investor) dapat melakukan prediksi besarnya dividen kas atas dasar EPS perusahaan.

Implikasi bagi penelitian selanjutnya adalah perlu dilakukan justifikasi metode penelitian terutama periode pengamatan yang diteliti. Bagaimanapun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rasio keuangan (terutama EPS) yang merupakan data sekunder dapat digunakan untuk memprediksi besarnya Cash Dividend di BEJ.

5.3. Keterbatasan Penelitian

Sebagaimana diuraikan dimuka bahwa hasil penelitian ini terbatas pada pengamatan yang relatif pendek yaitu selama 2 tahun. Disamping itu rasio keuangan yang digunakan sebagai dasar untuk memprediksi Cash Dividend hanya terbatas pada Cash Ratio, Current Ratio, DTA, ROI dan EPS.

Agenda Penelitian Mendatang

Dengan kemampuan prediksi sebesar 44,4% mengindikasikan perlunya rasio keuangan yang lain dimasukkan sebagai prediktor dalam memprediksi Cash Dividend. Juga disarankan untuk memperpanjang periode pengamatan mengingat investor lebih melihat prediksi jangka panjang dibanding dengan dalam jangka waktu yang relatif pendek, terutama dalam hal memprediksi Cash Dividend.

DAFTAR PUSTAKA :

Brigham. (1983). Fundamental Financial Management. Mc.Graw-Hill.

Edi Susanto (2002). "Analisis Faktor-faktor yang mempengaruhi Kebijakan Dividen di BEJ Periode 1999".

Fabozzi, Frank J. (1999). Manajemen Investasi . Salemba empat dan Simon & Schuster (Asia) Pte.Ltd.Prentice-hall.

Hair Joseph F; Anderson Rolph E; Tatham Ronald L; and Black William C. (1998). Multivariate Data Analysis . Fifth Edition. Prentice-Hall International, Inc.

Jogiyanto. (1998). Teori Portofolio dan Analisis Investasi . BPFE UGM: Yogjakarta

Parthington. (1989). Dividend Policy: Case Study Australian Capital Market. Journal of Finance: 155-176.

Pujiono. (2002). "Dampak Kebijakan Dividen terhadap Harga Saham pada Waktu Ex-dividend Day". Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol. 5, No. 2: 148 – 161.

Robbert Ang. (1997). Buku Pintar : Pasar Modal Indonesia. Mediasoft Indonesia

Sawidji Widoadmodjo. (1996). Cara Sehat Investasi di Pasar Modal. PT Jurnalindo Aksara Grafika,Jakarta.

Singgih Santoso. (1999). SPSS ( Statistical Product and Service Solutions). Penerbit PT. Elex Media Komputindo-Kelompok Gramedia .Jakarta.

Suad Husnan. (1998). Dasar-Dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas. UPP AMP YKPN: Yogjakarta

Surasmi (1998). "Beberapa Variabel yang mempengaruhi DPS pada Perusahaan-perusahaan Manufaktur yang Listed di BEJ".

Lampiran 1

Hasil Perhitungan Regresi Berganda

image\ebx_-1003561600.gif

image\ebx_1437524678.gif

Sumber: Output SPSS 11.0; Regressions-coefficients

Hasil Perhitungan Regresi Parsial

image\ebx_72539979.gif

Sumber: Output SPSS 11.0; Regressions-coefficients

1 komentar: